Istri Dadakan

Istri Dadakan
Jawaban


__ADS_3

Yang disodorkan pertanyaan hanya terkejut. Bibi terlihat sedikit panik membuat Rama sadar kalau bibi itu tahu sesuatu. Buru-buru Rama memaksa bibi tadi untuk jawab pertanyaannya dengan sedikit memaksa.


"Bibi hanya tahu alasan mamah kamu pergi. Tapi sungguh, bibi nggak tahu kemana mamah kamu pergi sekarang? dan bibi aja masih kaget pas tahu kalau ternyata mamah kamu nggak ada kabar sampai sekarang."


Rama mengangguk lirih.


Ia menangkup kedua lengannya, menatap penuh memohon. "Bibi tahu alasan mamah pergi? mamah pergi karena apa bi? jelasin sama aku. Aku nggak bakalan marah sama bibi kalau bibi mau jelasin."


Bibi tertegun.


"Ayo lah bi," pinta Rama lagi. "Kasih tahu kenapa mamah pergi. Apa aku atau ayah ada salah sama mamah? sampai mamah sendiri mutusin buat pergi? Aku penasaran banget. Apa ini memang kesalahan aku?”


Bibi menatap sendu pada tuan mudanya itu.


“Bibi beneran tidak sengaja mendengar, kalau mbak Annisa ngomong kecewa sama kamu dan tuan besar. Mbak Annisa ngomong kalau kalian udah membohongi kalian dan kenapa kalian tak jujur saja kalau mau bertemu sama nona Sakilla itu.”


Rama tertegun.


“Bibi beneran nggak sengaja dengar ya tuan muda,” koreksi bibi dengan cepat supaya tidak di tuduh ini itu. “Waktu itu mbak Annisa nangis di pelataran belakang rumah. Makanya bibi yang lagi nyiram tanaman nggak sengaja denger. Bibi sendiri nggak berani buat dekatin mbak Annisa. Karena takut ganggu.”


Rama mengangguk.


“Ah ... kalau gitu makasih banyak bi. Boleh Rama minta buat ninggalin Rama sendiri? Rama butuh waktu sendiri.”


Bibi yang dengar semakin panik. Ia merasa udah membuat tuan mudanya menjadi sedih karena ulah dirinya.


“Den nggak bakalan marah sama bibi kan? Terus ngadu sama tuan besar dan tuan besar jadi pecat bibi?” panik bibi. “Bibi gak punya kerjaan lagi den, tapi bibi masih punya tanggungan biaya yaitu anak bibi. Jadi, bibi mohon jangan pecat bibi.”


Rama menggeleng.


“Enggak kok, bi. Rama malah makasih karena bibi udah jujur. Udah bibi nggak usah mikir yang aneh. Rama ngomong kayak gini cuman karena mau sendiri aja kok. Gak ada hal lain.”


“Baik tuan muda. Sekali lagi kalau bibi ada salah. Bibi minta maaf ya sama kamu. Kalau begitu bibi pamit terlebih dahulu.”


Setelah kepergian bibi. Rama memukul meja dengan kepalan tangannya.

__ADS_1


“Ternyata benar kalau mamah tahu semua rencana aku sama ayah."


Rama menelungkup wajahnya di atas meja. Ia kembali memikirkan semua kesalahan yang ia perbuat pada saat itu. Kepala kecilnya kembali mengingat ke belakang, gimana sikap sang mamah sebelum memilih untuk pergi.


"Ternyata semua anggapan buruk aku bener adanya. Kalau mamah marah sama aku dan ayah. Ya ampun, kenapa aku nggak sadar waktu itu. Kalau gini? gimana nantinya? apa mamah marah banget sama aku sampai nggak mau kita ketemu lagi?"


Rama menggeleng.


"Ya Allah ..."


Tanpa Rama sadari, sejak tadi Bram sudah berdiri di dekat anak tangga. Ia mendengar semua percakapan sang anak dengan bibi. Ia tertegun dan mengerjap pelan.


Rasa bersalah mulai menyelimuti hati Bram. Sampai suara tangisan Rama membuat Bram tidak tega. Ia melangkah mendekati Rama dan memeluk anaknya itu dengan sangat erat.


Rama mendongak, "ayah," ucapnya lirih


"Iya ... udah nggak apa-apa. Kita cari mamah sama-sama ya. Kita bawa mamah pulang ke sini lagi. Kamu nggak usah khawatir. Ayah janji bakalan bawa mamah kamu balik dan ... maafin ayah."


Rama menggeleng.


"Enggak ... ayah tetep harus minta maaf sama kamu. Karena kalau aja ayah nggak setuju. Pasti sekarang nggak bakalan kayak gini. Pasti mamah kamu masih ada di sini."


"Tapi ... kalau aku nggak maksa ayah. Pasti ayah nggak bakal suruh datang tante Sakilla ke sini kan? jadi ini salah kita berdua. Ayah jangan ngerasa bersalah gitu ya. Rama malah jadi sedih."


"Oke ... yang penting kamu jangan nangis lagi. Ayah jadi sedih kalau lihat kamu nangis kayak gini."


Rama mengangguk di pelukan Bram.


***


"Ke rumah tante Sakilla?" tanya Rama setelah mereka jauh lebih tenang dan sedang sarapan bersama.


"Hmm ... tadi nenek kamu alias ibunya Sakilla kasih tahu mau minta maaf sama ayah gitu dan sekarang mereka itu kasih tahu kalau mamah kamu lagi jatuh sakit. Makanya ayah kepikiran buat datang ke sana. Tapi, balik lagi ... ayah minta pendapat kamu."


Rama terdiam. Memikirkan permintaan sang ayah.

__ADS_1


"Sebenarnya ayah udah ada rencana buat ke makam adiknya mamah kamu. Siapa tahu mamah kamu pernah ke sana kan? dan kita bisa dapet informasi?"


Rama mengangguk. "Terus?"


"Tapi, Tiba-tiba nenek kamu hubungin ayah dan ayah sedikit ngerasa nggak tega. Ayah posisiin kalau mamah kamu lagi sakit tapi nggak ada yang datang. Jadi, ayah sedikit nggak tega. Selebihnya ayah beneran nggak ada maksud sama sekali. Ini cuma perasaan toleransi antar manusia aja kok."


Rama menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Terserah ayah aja."


"Jangan terserah ayah aja. Kalau kamu nggak mau juga nggak apa-apa."


Rama menatap mata Bram. Ada sorot mata memohon yang Rama bisa lihat. Pada akhirnya ia menghela napas dalam dan mengangguk.


"Kita ke rumah tante Sakilla dulu aja yah. Nanti kalau udah kita langsung ke makam yang ayah maksud. Kita harus cari mamah secepatnya."


Bram mengangguk. "Makasih nak, makasih banyak atas pengertiannya."


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bram dan Rama sudah bersiap. Mereka harus pergi ke rumah orang tua Sakilla dan akan melanjutkan perjalanan menuju makam Namira. Dua orang itu benar-benar meninggalkan semuanya demi cari Annisa.


"Sekali lagi ayah tanya," sela Bram membuat Rama yang sedang sarapan mendongak. "Kamu nggak masalah kalau nggak ikut perpisahan tempat les kamu itu? nanti gimana sama temen kamu? nggak bakal ada yang sedih? kamu juga nggak bakal sedih?"


Rama menggeleng.


"Aku nggak punya temen di tempat les yah."


"Lah, kenapa?"


"Dulu ... pas sebelum ada mamah. Teman-teman aku selalu ngatain aku. Mereka bilang kalau aku ini anak yang nakal makanya mamah aku pergi. Dari situ aku nggak pernah mau main sama mereka. Jadi ... mendingan aku cari mamah. Dari pada ikut kayak gitu."


Bram terkejut mendengarnya.


"Ayah nggak usah marah!" lanjut Rama lagi saat tahu ayahnya mau protes. "Semuanya udah berlalu. Yang penting aku baik-baik aja dan aku nggak peduli sama mereka. Jadi, santai aja ... fokus utama kita berdua itu cari mamah sampai ketemu."

__ADS_1


"Siap! kalau gitu kita sekarang pergi ya. Cus ..."


__ADS_2