Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bujuk Rayu


__ADS_3

"Kamu kalau marah sama mas, pukul aja, marahin aja. Terserah kamu mau ngapain mas juga. Asal jangan diemin mas kayak gini," jelas Bram dengan sungguh-sungguh. "Mas beneran nggak bisa ngeliat kamu kayak tadi. Hati mas sakit lihat kamu acuhin mas. Mas nggak bisa."


"Mas beneran nggak bisa. Maafin mas ya .."


"..."


"Mas salah, mas bodoh banget. Apa mas harus nyakitin—


Annisa memegang tangan Bram yang mau memukul kepala nya sendiri. Ia menggeleng, tidak suka.


"Iya ... Annisa maafin kamu, tapi jangan nyakitin diri kayak tadi. Aku nggak suka."


Bram memekik dan menggendong Annisa sampai mutar-mutar sangking bahagianya. Ia mencuri kecupan di pipi Annisa dengan cepat. "Mas seneng banget. Nah karena kita udah baikan, kamu mau apa? kasih tahu mas. Anggap aja hadiah karena selama ini kamu udah hebat karena nahan semua sikap mas yang buruk."


Annisa menggeleng.


"Aku cuma mau kamu berubah aja. Jangan kayak tadi ya mas. Aku mau kita bisa terbuka satu sama lain. Bukan cuma aku. Karena aku juga mau mengenal kamu lebih dalam."


Bram mengangguk dengan cepat.


"Iya! mas janji bakalan jadi suami yang kamu sukai. Mas nggak bakal buat kecewa kamu lagi. Kalau mas ada salah dan buat kamu sedih lagi. Nanti kamu kasih tau mas ya. Jangan diem aja dan buat mas kayak orang bodoh."


Annisa tersenyum simpul dan mengangguk.


Bram semakin tersenyum lebar dan memeluk Annisa erat. Sangking eratnya Annisa memukul punggung Bram, mulai merasa sesak.


"Hehehe maaf, mas terlalu semangat. Oh iya, Annisa. Gimana kalau nanti malem kita makan diluar. Cuma berdua? mas rasa kita belum ada makan bareng lagi. Selalu bertiga sama Rama. Jadi, sekarang gimana kalau kita perginya tuh berdua aja?"


Annisa menatap ragu, "Rama?"


"Biar mas yang jelasin sama Rama, asal kamu mau. Gimana? kamu mau kan?" seru Bram lagi sedikit memaksa


"Ya sudah ... terserah kamu aja. Aku bakal ikut kamu kok."


Bram bersorak riang.


"Kan seneng kalau ngeliat kalian baikan kayak gini," sela mommy Chika yang datang dari arah luar dapur. "Keliatan lebih bahagia. Tapi kalau mau mesra-mesraan lihat tempat ya. Jangan di dapur juga. Kasihan tadi ada mbak yang mau masuk tapi langsung ngacir karena lihat kalian. Kan udah ada kamar kalian. Jadi, di sana aja nggak usah di tempat ramai gini. Udah tahu rumah kamu banyak yang kerja."


Mendengar nasihat mommy membuat Bram mengusap tengkuk sementara Annisa menunduk malu. Benar-benar tidak ada muka lagi karena melakukan ini semaunya aja.


"Mommy kayak nggak tahu anak muda aja!"


Annisa memukul punggung Bram, sst ... suaminya malah makin mancing aja. Bukannya minta maaf.


"Maaf ya mom, nggak lagi deh. Kalau gitu aku sama mas Bram pamit ke atas ya." Annisa menarik paksa tubuh Bram yang masih cengengesan. Kayaknya efek kesenangan di kasih maaf sama Annisa, jadi sedikit error kayak gini.


"Mom nanti Bram mau makan malem diluar sama ayang dulu. Jadi bye bye mom. Nggak usah nungguin kita. Kita mau pulang malem, atau pulang besok ya? biar lanjut di hotel," teriak Bram semakin samar karena ditarik Annisa ke dalam kamar. Malu karena tingkah Bram yang sedikit aneh.


Melihat itu membuat mommy Chika hanya menggeleng.


"Seneng sih karena Bram nggak lagi sedih kayak tadi. Tapi ternyata anak itu agak aneh ya. Ya ampun ..."

__ADS_1


***


"Kamu belum ngomong juga sama Rama?" tanya Annisa yang masih pakai baju santai itu. Tapi ia sudah bebersih dan sedang mengenakan make up ala kadarnya. Baru bersiap menggunakan dress simple yang senada dengan jas milik Bram.


Gelengan kepala Bram membuat Annisa menatap kesal suaminya dari cermin di depannya.


"Mas ... beneran deh, ya ampun. Ini bentar lagi kita berangkat. Dan sampai sekarang malah belum izin? aku nggak urus ya kalau nanti Raka ngamuk atau marah. Kamu tahu sendiri kalau Rama selalu ikut kalau kita pergi. Jadi, takutnya dia malah nggak terbiasa terus ngamuk. Atau ajak aja kali ya?"


"Eits mana bisa kayak gitu," potong Bram sambil menggeleng cepat. "Mas mau makan malem berdua sama kamu. Udah ah, mas ke tempat Rama dulu. Do'ain ya biar dapet izin dari Rama."


Bram meninggalkan kamar mereka membuat perempuan itu menggeleng pelan.


"Ngelihat mas Bram yang kayak gini kenapa malah lucu banget ya?" serunya


***


Bram masuk ke dalam kamar Rama dengan tangan yang memegang jas maroon miliknya. Rama yang melihat langsung bangkit dari duduknya dan menatap nyalang sang ayah.


"Ayah mau pergi ke mana? kok nggak ajak Rama. Rama kan belum siap-siap."


"Rama sayang ... ayah boleh makan malem berdua sama mamah Annisa dulu nggak?" tanya Bram membuat langkah Rama terhenti dan berbalik.


Wajah protes sang anak membuat Bram sedikit panik. Ini Bram nggak mau kalau rencananya berdua sama sang istri jadi gagal hanya karena tolakan Rama. Laki-laki itu langsung memutar otak untuk mencari alasan yang pas supaya sang anak mengizinkannya ia sama Annisa buat pergi.


"Kok—


"Tadi kamu inget nggak kalau ayah nanya tentang orang yang marah gitu sama kamu?" sela Bram dengan sangat cepat


"Dan di sini ayah mau jujur sama kamu, kalau ayah udah nakal sama mamah kamu. Ayah buat mamah kamu sedih bukan main karena ulah ayah. Makanya ayah sengaja nanya kayak tadi di depan mamah kamu. Tapi ternyata mamah kamu malah marah."


"Ih ayah mah ..."


"Nah sekarang ayah mau minta maaf sama mamah kamu. Kamu dulu pernah bilang kalau sambil minta maaf kita harus ngelakuin sesuatu yang di sukai sama orang yang udah kita jahatin. Makanya ayah mau bawa mamah kamu makan di luar. Mau berdua aja, sekalian nanti ayah minta maaf sama mamah kamu. Makanya ayah nggak ajak kamu. Jadi, kamu nggak apa-apa kan kalau keluar sama mamah kamu berdua aja? Nanti kamu makan sama oma berdua aja, nggak apa-apa kan?" pancing Bram dengan penjelasan yang sangat panjang lebar.


"Ya udah deh."


Mata Bram melebar. "Beneran, kamu nggak marah?"


"Kalau ayah mau minta maaf sama mamah, aku nggak masalah. Tapi ayah jangan buat mamah sedih lagi. Aku nggak suka! lagian ayah tuh kenapa jahat terus sama mamah sih. Nanti aku marahin ayah ah kalau ayah jahat sama mamah lagi."


Bram meringis, anak kandungnya yang lebih membela ibu sambungnya membuat dia tidak bisa apa-apa selain diam dan tertawa canggung.


"Iya ayah janji nggak bakal nyakitin mamah kamu lagi."


Bram sekali lagi memeluk Rama sebelum meninggalkan kamar anaknya dengan langkah riang. Ia membuka pintu kamarnya dengan kencang.


"Kita dapat izin!"


Setelah semuanya siap, kini Bram sama Annisa turun ke lantai bawah. Di ruang santai udah ada Rama yang sedang tiduran di paha oma sambil membaca buku dan mom Chika yang serius menonton televisi.


Perhatian mereka berdua teralihkan saat mendengar suara langkah turun dan keduanya dengan cepat menoleh.

__ADS_1


"Annisa cantik banget."


"Mommy cantik banget."


Pujian yang dilontarkan Rama sama Mom Chika mampu membuat perempuan itu sedikit tersipu.


"Kamu beneran cantik banget, ya ampun," sambung mom Chika lagi sambil mendatangi menantunya. "Bram nggak boleh macem-macem ya. Udah dapet istri yang cantik dan baik banget kayak Annisa juga. Kalau kamu. macem macem sama Annisa. Nanti mom yang bakal marahin kamu."


Bram mengangguk.


"Nggak kok mom, tenang aja. Bram juga bersyukur banget karena dapet istri seorang Annisa. Udah baik banget sama mas dan bisa ngatur semuanya dengan baik. Annisa juga mampu baik sama mom dan dad, terutama sama Rama."


"Kalian berlebihan," malu Annisa


"Nggak ada yang berlebihan. Udah kalian mending pergi sekarang. Keburu malem. Nanti jalanan macet. Gih, nggak usah mikirin kita. Mau pulang malem juga nggak masalah kok."


Bram mengacungkan jempol. "Nanti gimana gimananya lagi, biar Bram yang ngabarin mom. Kalian nggak usah nungguin Bram. Takut lama."


"Iya ... udah, mendingan kamu pergi sana. Keburu kejebak macet loh."


"Iya ..."


"Sayangnya mamah." Annisa berlutut di depan Rama. "Mamah izin pergi dulu ya sama ayah. Kamu beneran nggak apa-apa kan di tinggal sendirian?"


"Nggak apa-apa kok mah. Tapi nanti aku juga mau pergi berdua sama ayah tanpa mamah. Terus aku juga mau pergi sama mamah tanpa ayah," ucapnya meminta sesuatu.


"Ih banyak mau ya kamu," sela Bram sambil meledek


"Ih ya udah kalau gitu. Rama ganti baju nih terus ikut sama ayah dan mamah. Biar ayah nggak bisa di maafin sama mamah," ancamnya


"Eh iya iya ... nanti kamu ngomong aja mau pergi kapan. Ayah wujudin."


"Gitu dong ..."


Annisa sama Bram kembali berpamitan, setelah mobil meninggalkan pekarangan rumah. Annisa langsung noleh ke arah suaminya itu.


"Kenapa ngeliatin mas kayak gitu?" tanya Bram tanpa menoleh sama sekali, fokus dengan jalanan yang sangat ramai. Maklum, malam minggu.


"Kamu ngomong apaan sama Rama? kenapa dia ngomong di maafin kayak gitu?" penasaran Annisa


"Ya mas jujur aja, kalau mas udah jahat sama kamu. Makanya butuh mendapat maaf dari kamu. Jadi ajakan jalan-jalan kali ini salah satunya biar mendapat maaf dari kamu. Lagian mas baru sadar kalau selama ini udah banyak nyakitin kamu dan nggak pernah ajak kamu ke mana-mana. Jadi wajar dong kalau sekarang mas mau ajak kamu pergi. Boleh kan?"


Annisa tersenyum tipis dan mengangguk.


"Makasih banyak ya mas."


"Makasih?"


"Makasih karena kamu udah mau mengaku salah, di saat banyak orang yang nggak pernah mau mengaku kesalahan nya. Terus, kamu juga udah mau berusaha kasih yang terbaik buat aku."


"Oh ... Sama-sama sayang."

__ADS_1


__ADS_2