
Karena terus overthinking di luar, keesokan paginya. Ibu Dini malah menemukan Annisa yang tertidur di sofa ruang tamu. Ibu Dini hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah Annisa yang ada-ada saja. Padahal dia yang meminta di temani karena takut tidur sendirian. Tapi sekarang malah anak itu tertidur sendirian.
"Dasar," ucap ibu Dini sambil menyelimuti Annisa tak mau membangunkannya.
***
"Kamu sanggup bayar hutang sampai ratusan juta?" tanya pak kades yang ikut turun tangan. "Saya nggak mau kalau kamu main setuju. Tapi malah berakhir seperti ibu dan bapak kamu yang kabur tanpa memikirkan warga di sini. Kamu tahu sendiri kalau kami sudah di buat kecewa sama orang tua kamu dan sedikit trust issue sama siapa pun yang berkaitan dengan kamu."
Suara pak Kades seperti angin lalu di telinga Annisa. Karena perempuan itu masih fokus memandang nominal yang sangat besar.
Tak tanggung, sebanyak dua ratus juta lebih menjadi total keseluruhan uang yang dibawa orang tuanya. Bahkan Annisa sendiri nggak pernah memegang uang sebanyak itu. Tapi orang tuanya malah membuat kasus dan membuatnya harus membayar semua nominal di sana.
Matanya berbalik dan menatap rumah besar yang sebenarnya memiliki nominal sangat besar itu.
"Nak Annisa?"
"Ah iya Pak ..."
Pak Kades menghela napas. "Bagaimana? kamu bisa bayar semua itu? karena ... seluruh warga sudah menuntut kamu dan memaksa kamu untuk cepat-cepat membayar mereka. Untung saja bapak masih bisa bujuk mereka. Jadi kamu punya waktu selama dua bulan. Jadi, kalau bisa selama dua bulan itu kamu bayar ya. Karena sepertinya warga di sini bakal melaporkan kamu kalau nggak bisa bayar."
Annisa tersenyum tipis. Mengangguk.
"Iya Pak ... saya akan usaha untuk cari orang tua saya lebih dulu. Tapi kalau memang mereka masih nggak bisa ketemu. Nanti saya akan bayar. Tenang ... saya nggak akan kabur seperti orang tua saya."
"Kita sudah megang KTP kamu ya!" papar salah satu warga. "Awas aja kalau kamu macam-macam sama seperti orang tuamu itu yang penipu. Kami bisa langsung melacak kamu kalau kamu berniat kabur."
Annisa mengangguk lagi. Berusaha menerima lapang dada omongan semua orang.
Perempuan itu berpikir kalau wajar para warga marah seperti ini. Masalahnya uang yang ditipu sama orang tua nya bukan jumlah yang sedikit. Annisa juga berusaha untuk membuat dirinya ada di posisi yang sama seperti mereka. Yang mana dirinya juga marah kalau ditipu seperti itu.
"Ya sudah ... bapak datang ke sini hanya untuk jelaskan itu saja. Saya pamit lebih dulu."
__ADS_1
Annisa mengantarkan bapak Kades tersebut keluar diikuti beberapa warga yang memiliki jumlah uang paling besar saat membayar ke orang tuanya itu.
Beberapa warga masih menetap saat bapak Kades sudah meninggalkan rumah orang tuanya dengan mobil.
"Sekali lagi ... atas nama orang tua saya. Saya minta maaf. Saya beneran tidak tahu kalau mereka akan senekat ini dan malah menipu bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Saya mohon ampun atas perbuatan ibu dan bapak saya yang nggak bisa dibenarkan sama sekali."
Sorak riuh dari para warga sempat membuat Annisa jadi minder.
"Tapi bapak dan ibu harap tenang ... saya akan membayar semuanya. Saya akan cari orang tua saya sampai ketemu. Posisi saya di sini bukan sebagai anak pelaku. Melainkan sebagai pihak yang akan membantu kalian. Jadi mohon bantuannya dan atas pengertiannya saya ucapkan terima kasih."
Beberapa warga masih ada yang berbisik dan mengucilkan Annisa dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Untuk menghindari salah paham ... mulai besok saya akan mulai mencari orang tua saya. Jadi saya akan meninggalkan semua yang di sini. Tapi bapak dan ibu tenang saja. Setiap satu minggu sekali saya akan datang untuk menjelaskan kelanjutan dari pencarian saya."
"..."
"Juga kalau ada masalah ibu sama bapak bisa tanya ke ibu Dini. Karena ibu Dini memiliki nomor saya."
Beberapa dari mereka sudah terlihat tua dan itu yang membuat Annisa merasa sedih. Disaat uang yang mereka kumpulkan di masa tuanya ditaruh di orang tuanya dengan harapan akan mendapat jumlah yang lebih besar. Tapi pada kenyataannya, uang itu malah dibawa pergi sama orang tua nya.
"Dan ... kalau bapak sama ibu di sini punya kebutuhan mendadak yang benar-benar nggak bisa di selesaikan. Ibu sama bapak bisa menghubungi saya untuk mengambil sebagian uang yang kalian butuhkan. Tapi ... untuk yang benar-benar butuh saja ya. Karena saya belum ada kalau harus membayar semua nominal uang itu."
"Saya mohon pengertiannya."
"Tidak masalah nak. Melihat kamu yang bertanggung jawab sama masalah ini saja sudah buat kami tenang," jujur salah satu ibu-ibu berkerudung.
"BETUL!" yang lain ikut membalas membuat mata Annisa berbinar, menatap mereka dengan bahagia.
"Terima kasih ... saya janji akan mengurus masalah ini secepatnya. Saya janji."
***
__ADS_1
Annisa menatap seisi rumah besar yang begitu kosong ini. Setelah semua warga pergi termasuk ibu Dini yang mau membuka warung untuk sesaat, kini Annisa di tinggalkan sendirian lagi di rumah sebesar ini.
"Ah ... andai aja rumah ini bisa dijual," gumam Annisa tanpa sadar meneliti rumah besar ini yang pastinya akan mahal kalau ada di kota besar.
"Sayang ... siapa yang mau beli rumah di kampung? dengan keadaan jalan kurang baik. Jarak dari pusat kota juga jauh. Apalagi transportasi di sini masih susah banget," pasrah Annisa.
"Susah deh jual rumah sebesar ini ... ditambah aku nggak tahu di mana surat rumah ini. Bisa aja ibu sama bapak yang bawa kan? jadi aku nggak bisa apa-apa selain diam dan pasrah akan rumah ini yang ke depannya bakalan terbengkalai ini."
Annisa menggeleng.
"Sudah lah ... mendingan aku rapih-rapih deh ... supaya nanti tinggal pergi ke stasiun tanpa harus mikirin barang lagi."
***
Di sisi lain,
"Ya ampun ... kamu sampai panas nak."
Bram menatap khawatir sang anak yang sampai jatuh sakit karena merasa rindu pada sang mamah tercinta.
/Mamah ... Rama rindu./
Rama terus saja mengigau begitu sejak tadi. Bram yang baru pertama kali melihat Rama seperti ini. Bingung harus melakukan apa. Dokter keluarga pun baru bisa besok datang karena sekarang sudah larut malam.
Pada akhirnya Bram hanya memeluk sang anak dengan sangat erat. Memberikan kenyamanan dan rasa hangat karena sejak tadi Rama terus mengeluh dingin. Anak itu terus saja mengeluh sakit tapi matanya terpejam. Yang mana Bram sangat nggak tega melihat kondisi Rama yang sekarang.
"Maafin ayah nak ..."
"Ayah janji ... setelah kamu sembuh dan benar-benar pulih. Kita langsung ke kampung mamah kamu. Kita cari mamah kamu ya."
Diakhiri kecupan hangat di kening Rama.
__ADS_1