
Waktu begitu cepat berlalu,
Tak terasa sudah delapan bulan kandungan Annisa. Perutnya yang semakin membesar, membuat gerak Annisa semakin terbatas. Apa lagi jangan lupakan hadirnya dua orang laki-laki yang kian hari semakin posesif karena Annisa juga bosan kalau dikekang dan disuruh istirahat terus.
"Mas ih!" Annisa melepas paksa pelukan dari belakang tubuhnya itu. Lengan Bram melingkar di perutnya dan sesekali mengusap perutnya itu. "Aku cuma mau masak loh! bukan mah angkat beban gitu. Udah ah, kamu minggir. Bau loh, pulang kerja. Bukannya langsung mandi. Malah peluk-peluk aku!" omel Annisa memukul lengan Bram dengan sangat pelan
"Duh!" Bram mengaduh seperti orang kesakitan. Ia putar kesana kemari, seakan-akan Annisa memukul nya dengan sangat kencang.
"Ya ampun mas!" Annisa menepuk keningnya melihat Bram yang masih bebas bergerak sambil memegang lengannya itu. "Aku gak ngapa-ngapain loh. Cuma muluk pelan doang. Itu pun karena kamu duluan yang nggak mau lepas pelukannya! mana sampai teriak kesakitan lagi ...kalau yang lain denger, malah ngiranya aku yang jahat sama kamu lagi!"
Bram terkekeh.
__ADS_1
"Lagian kamunya gak mau dipeluk sama mas. Masa sama suami sendiri gitu sih."
Annisa mendesis.
Ia menggeleng dan mengusap perutnya. "Dek liat, kelakuan ayah kamu. Masa malah nyalahin mamah sih? kamu pasti lihat dan denger dari awal kan? ayah kan yang salah bukan mamah?" adu Annisa sama perutnya itu.
"Duh kalau udah ngadu dedek. Ayah kalah deh. Ayah kalah telak! angkat tangan, ayah. Gak bakal bisa menang." Bram mengangkat kedua lengannya ke atas sambil menggeleng pasrah. "Udah lah ... mas mandi dulu. Habis itu kita keluar buat makan di restoran. Khusus hari ini mas, kamu sama Rama makan diluar aja. Jadi, kamu gak usah cape cape masak."
Perempuan itu merengek dan menggeleng.
Annisa memandang khawatir.
__ADS_1
"Biaya lahiran juga gak murah loh. Terus belum beli kebutuhan dedek yg lain. Masih banyak yang harus di beli dan pengeluaran bakalan semakin membengkak. Jadi, dari pada kamu pakai uang buat foya-foya begini. Mendingan ditabung dan di keluarin pas lagi butuh banget."
"Hei ..."
Bram menangkup pipi Annisa yang semakin tembam itu.
"Mas kerja buat siapa? ya buat kamu, Rama sama dedek. Mas capek demi kalian. Mas mau hasil kerja keras mas dipakai sama kalian dan senyum senang kalian lah yang buat mas jadi bahagia juga. Jadi, buat apa mas kerja sampai capek kalau kamu gak mau pakai uang mas?"
"..."
"Udah ... gak usah mkirin itu semua. Ada dan mas gak akan ngebiarin hidup kamu sama anak-anak jadi kekurangan. Lagian kamu kok ngeraguin mas sih? tabungan mas yang sekarang aja udah sanggup buat bayar kebutuhan kamu, biaya sekolah Rama sampai kuliah dan biaya dedek nanti. Udah lah."
__ADS_1
"Tapi—
"Udah dari pada ngomongin yang gak ada habisnya. Mendingan, sekarang kamu ganti baju. Pakai baju terbaik kamu dan kasih tau Rama. Karena kita mau makan di luar!" seru Bram sambil mendorong pelan istrinya itu ke arah kamar mereka.