
"Rama ... anak bunda sayang. Nak, ya ampun kamu sudah sebesar ini." Sakilla menarik paksa Rama lalu memeluknya erat.
Tangan Rama bergerak kaku, tidak menerima pelukan sama sekali. Kedua lengannya terkepal di udara tanpa membalas pelukan wanita yang harusnya ia rindukan itu.
Perasaan gemuruh sekaligus marah membuat Rama kerap mengepalkan tangan sambil memandang kosong ke arah depan.
"Nak ..."
Sakilla melepas pelukan dan sibuk mengusap pipi Rama. Dikecupnya berulang kali wajah Rama dan berulang kali Sakilla peluk dan melepasnya. Benar-benar bahagia bisa bertemu sang anak setelah sekian lama. Walau memang salah dirinya sendiri yang nggak bisa bertemu sang anak.
"Ini bunda kamu, nak. Bunda yang melahirkan kamu. Bunda yang mengandung kamu selama sembilan bulan dan bunda beneran sebahagia itu pas hamil kamu. Kamu ... ya ampun, bunda nggak bisa ngomong apa-apa. Bunda yang sayang banget dan begitu bahagia pas hamil kamu. Akhirnya bisa ketemu sama kamu lagi. Kamu harus tahu betapa senang nya bunda kala itu."
"Tapi tante milih pergi kan?" sarkas Rama
__ADS_1
"Tante?" gumam Sakilla terbata. "Kenapa panggil tante? ini bunda kamu. Orang yang melahirkan dan menghadirkan kamu di dunia ini. Kamu harusnya manggil bunda bukan tante."
Rama melepas paksa pelukan dan memberi jarak di antara mereka. Pandangannya memanas dan Rama hanya bisa menatap orang yang selama ini ia ingin lihat.
Rasanya begitu campur aduk dan sejak tadi Rama berusaha menahan sedih dan marah di dalam hatinya. Tentu saja anak itu masih mengingat banyak kebaikan yang dulu ayah nya lontarkan. Dia juga masih ingat impian beberapa tahun yang lalu, untuk bertemu sama sang bunda.
Rama tentu saja masih ingat semuanya.
"Bunda? aku rasa panggilan itu lebih berhak buat mamah. Ibu sambung yang luar biasanya baik ke Rama. Mamah yang selalu ada untuk aku. Bukan tante yang pergi gitu aja. Seolah aku ini nggak dianggap."
"Tapi nak—
"Katanya tante bahagia pas hamil aku. Katanya tante senang sekali pas aku hadir di dunia ini. Katanya tante sayang banget sama aku. Kalau gitu? Kenapa tante pergi tinggalin aku sama ayah!" histeris Rama
__ADS_1
Bram buru-buru mendekati sang anak dan berdiri telat dk belakang Rama. Ia mengusap rambut anaknya. Membiarkan Rama merasa ada orang yang selalu mendukungnya itu.
"Bunda—
"Tante jahat! jadi, maaf tante. Aku nggak bakalan bisa dan nggak akan pernah manggil bunda. Karena panggilan itu tuh lebih berhak buat mamah Annisa yang super baik sama aku."
Sakilla mendesis, berkacak pinggang setelah mengusap kasar rambutnya. Sakilla menatap kesal sekaligus marah ke arah anaknya itu.
"Apa yang kamu tahu sih nak? bunda punya alasan buat ngelakuin itu semua. Bunda nggak bisa jelasin ke kamu. Tapi intinya bunda sayang sama kamu dan keadaan yang buat bunda ngelakuin hal gini," dusta Sakilla membuat Bran hanya menggeleng pelan.
Bahkan di posisinya yang sedang terancam seperti ini. Mantan istrinya itu masih bisa menyangkal dan nggak mau jujur sama semua hal. Ya ... kini Bram hanya mau melihat saja. Mendengar saja sampai sejauh mana Sakilla bakalan menyangkal dan bersembunyi di balik semua kebohongannya.
"Dan ... pikiran kamu udah dicuci sama ibu sambung kamu." Lanjut Sakilla dengan santai
__ADS_1