
"Makan dulu saja."
Ibu Dini penjaga warung tadi menuang tumis kangkung dan ikan goreng di piring plastik Annisa. Bahkan ibu Dini yang mengurus semuanya. Dari masak, hingga menyiapkan piring dan sebagainya. Annisa disuruh diam dan menunggu sampai semuanya selesai saja. Ibu Dini akan marah kalau Annisa bergerak sedikit saja untuk membantu.
Dari tempatnya berdiri, Annisa menatap ibu Dini yang sibuk memasak. Ia tersenyum tipis.
"Begini ya ternyata rasanya punya ibu," ucapnya di dalam hati. "Ini pertama kalinya aku ngerasain kehangatan di hati."
Annisa terus tersenyum tanpa sadar ibu Dini sudah duduk di depannya dengan senyuman lebar. "Nah sekarang udah selesai, kita makan dulu."
Keduanya makan dengan nikmat. Hingga lauk habis. Akhirnya Annisa mencuci semua piring kotor setelah di beri izin. Annisa sekalian merapihkan dapurnya.
"Udah lama ibu tinggal sendiri. Makanya pas ada kamu kayak yang seneng banget. Udah lama juga ibu nggak ngerasain punya keluarga kayak gini. Jadi, maaf ya kalau ibu over ke kamu. Soalnya ibu beneran seneng banget pas tau kamu ada di sini."
Annisa melirik dan mengangguk.
"Aku juga seneng karena ketemu sama ibu. Hmm ... memangnya kalau aku boleh tahu. Di mana keluarga ibu?" tanya Annisa sedikit sungkan.
"Suami ibu udah lama meninggal dan kami nggak di karuniai anak. Jadi ibu ngerasa kesepian. Makanya ibu seneng banget pas kamu datang."
"Maaf ya bu ..."
"Ih maaf kenapa. Nggak ada yang perlu minta maaf."
Annisa tersenyum simpul. Kembali fokus sama kegiatan mencuci piringnya lalu setelah selesai Annisa beranjak merapihkan ruangan depan lalu kembali duduk bersama.
__ADS_1
Keduanya larut akan pikiran masing-masing.
***
"HUUUU"
Annisa mengeratkan pelukannya ke ibu Dini dan menenggelamkan wajahnya. Tidak mau melihat warga yang sedang menyoraki dirinya.
Tadi, saat ibu Dini dan Annisa memutuskan untuk datang ke rumah pak RT. Ada salah satu orang yang ternyata mengenal Annisa dan langsung meneriakinya, membuat banyak orang keluar dan ikut menyoraki. Mereka mengira Annisa mengetahui perbuatan sang ibu.
"Penipu kayak keluarga kamu nggak berhak tinggal di sini!"
"Bayar semua hutang kami lalu pergi dari sini. Penipu nggak boleh ada di sini. Nanti kampung kita jadi tercemar karena orang seperti kalian."
"Jangan membual doang! bayar uang kami! jangan memakan uang orang lain. Nggak berkah hidup kamu!"
"Kalian jangan jahat sama anak ini! Annisa tidak tahu apa-apa. Dia juga mau bertanya-tanya tentang masalah yang ibunya buat. Jadi nggak usah menghakimi anak ini. Dia nggak bersalah."
Salah satu warga berseru.
"Alah ... palingan dia juga bikin sandiwara kayak ibunya tuh. Nggak ... kami nggak bakalan percaya sama bualan omong kosong mereka. Mending suruh anak itu bayar hutang kami semua. Kalau enggak, kami bakal bawa masalah ini ke polisi!"
"Tunggu bapak-bapak," potong pak RT. "Kita bicarakan secara kekeluargaan lebih dulu. Kasihan nak Annisa, seperti nya dia bingung. Mendingan pak Rahmat sebagai ketua di sini ikut mengumpul dan kita akan bermusyawarah dan bapak-bapak lainnya bisa kembali ke rumah. Nanti hasil dari musyawarah akan dikirim ke grup warga di sini."
/Jangan lepasin penipu .../
__ADS_1
/Muka polosnya jangan sampai lepas! dia harus disidang dan membayar perbuatan orang tuanya!/
/Kembalikan uang kami!/
Dan masih banyak lagi perkataan yang menyudutkan Annisa. Niat pulang kampung ingin menenangkan diri, tapi Annisa malah bertemu masalah baru. Ia terus memejamkan mata. Tidak berani menatap mereka satu per satu.
"Sudah bapak-bapak semua, kasihan nak Annisa. Kalian kembali saja."
Semuanya mengeluh tak terima, walau begitu sebagian warga keluar dari halaman rumah pak RT. Menyisakan beberapa orang yang diutus oleh pak RT.
Kini mereka semua berkumpul di dalam rumah Pak RT. Annisa masih saja duduk menempel di deket bu Dini. Tak mau melepasnya sama sekali. Rasa aman yang diberi ibu Dini membuatnya berani duduk di sini.
"Jadi ... maksud kedatangan nak Annisa kesini itu apa ya? nak Annisa tahu sesuatu tentang masalah ini? atau memang kedatangan ini mau membahas tentang masalah yang orang tua nak Annisa lakukan?"
Annisa menelan saliva dan menceritakan semuanya dengan jujur. Dari maksud kedatangan dia sampai baru mengetahui fakta masalah ini dari mulut ibu Dini. Lalu niat kedatangan ke sini untuk membahas masalah ini. Karena Annisa sungguh merasa bertanggung jawab karena masalah ini.
"Saya beneran minta maaf sama bapak dan ibu semua. Tapi saya beneran tidak tahu masalah ini. Hubungan saya dengan ibu saya tidak terlalu baik. Kami sudah lama tidak berhubungan. Jadi saya beneran tidak tahu masalah ini. Saya berani bersumpah kalau saya tidak tahu ini."
Ibu Dini mengusap punggung lengan Annisa dan mengangguk, menatap semua orang di sana.
"Dari pada menyudutkan nak Annisa. Mendingan kita semua cari cara untuk mendapatkan semua uang warga di sini. Tapi kita lakuin tanpa neken ke nak Annisa. Karena nak Annisa beneran tidak tahu masalah ini."
Annisa menunduk.
"Sekali lagi saya tanya, kamu beneran tidak tahu masalah ini atau hanya berpura-pura tidak tahu?"
__ADS_1
Annisa tercekat dan menarik napas dalam sambil menatap mereka satu per satu. "Saya berani bersumpah ..."