
Bram terus menunggu hingga kereta itu melaju meninggalkan kota penuh kenangan antara Bram dan juga istrinya itu. Sisa bayangan yang tak pernah lenyap kini sudah meninggalkan kekosongan di hati Vram.
Kosong, hampa, hancur, kacau, semuanya melebur menjadi satu membuat laki-laki yang sejak tadi masih berdiri tanpa bergerak satu langkah pun mengusap air matanya yang kembali turun. Entah karena apa, tapi langkah kakinya sungguh terasa berat meninggalkan tempat ini.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Ia menarik napas dalam. "Aku harap semuanya baik-baik saja."
***
Sementara itu, selama perjalanan Annisa hanya melamun. Menatap kaca yang benar-benar gelap. Tidak terlihat sama sekali. Bahkan pohon sama sekali.
"Huh ... semoga ini pilihan yang tepat deh."
Annisa berusaha menyibukkan dirinya sendiri, sampai dia sadar akan kabar orang tuanya. Buru-buru dia mengeluarkan ponsel dan mencari nomor orang tuanya. Sesaat Annisa diam dan tertegun melihat nomor yang sejak tadi masih belum aktif.
"Lah ... ibu sama bapak kemana?" tanyanya pada diri dia sendiri. "Padahal nggak biasanya ibu sampai nggak pegang HP kayak gini. Seenggaknya pasti bales atau sekedar aktif lah. Kok ... ini nggak ada kabar sama sekali sih?"
Annisa bingung sendiri.
__ADS_1
"Ya ampun ... semoga nggak ada apa-apa deh di sana."
***
Seperti jadwal yang tertulis. Annisa akan bermalam di jalan dan tiba di kampung tempatnya tinggal itu pagi buta. Begitu keluar dari kereta, aroma embun pagi langsung terhirup. Annisa memejamkan mata, berusaha menghirup aroma menenangkan yang sudah lama tak ia jumpai ini. Sesekali Annisa memekik pelan, merasakan kampung yang dulu ia tempati kini ada di depannya.
"Ini beneran kan?" Annisa menyubit lengannya dan berakhir mengaduh, merasa sakit sendiri. Ia mengusapnya sambil menggerutu dan berakhir tertawa. Merasa konyol sama dirinya sendiri yang nggak jelas ini.
"Ada-ada aja aku ..."
Setelah berdiam cukup lama, Annisa mulai mendorong kopernya dan keluar dari area stasiun. Ia langsung di sambut dengan banyak angkutan umum yang mengantri. Annisa menolak, sengaja ingin mampir ke pasar yang ada tepat di samping stasiun itu.
Paham dengan tabiat orang tuanya membuat Annisa mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membeli barang yang dikiranya bagus. Butuh satu jam lamanya Annisa mengelilingi pasar hanya untuk membeli barang yang bagus.
Setelah selesai, ia naik angkutan umum untuk mengantar ke tempatnya tinggal.
Selama perjalanan, Annisa melihat pemandangan yang udah lama tak ia lihat. Gunung, pepohonan, sawah membentang dan semuanya terlihat begitu asri.
Bayangan masa lalu saat Annisa selalu melewati jalan yang sama dengan jalan kaki membuatnya sedikit sedih.
__ADS_1
"Hahaha ... dulu mana ada bayangan aku bakal menikah sama orang kaya seperti mas Bram," gumam Annisa saat mengingat masa lalu. "Rasanya takut buat sekedar mimpi nikah sama orang kaya. Dulu aku cuma mau jadi orang punya uang, supaya bisa biayain ibu sama bapak. Tapi ternyata Tuhan memberikan takdir yang baik, dan membuat aku seperti yang sekarang."
Jujur saja,
Bahkan tabungan Annisa saat ini sudah menyentuh hingga belasan juta. Uang yang selalu dikira sedikit sama suaminya tapi menurut Annisa begitu banyak. Uang itu terus bertambah karena Annisa yang tidak pernah membeli sesuatu, tapi Bram yang terus menambahnya dengan alasan kebutuhan Annisa.
Dan sengaja Annisa membawa sebagian tabungan itu saat ini. Karena ia merasa harus membawa uang yang banyak. Mengingat tabiat orang tuanya yang gila akan harta.
Setelah menempuh waktu hampir dua jam lamanya, kini angkut tersebut mulai memasuki jalanan yang hancur dan pertanda bahwa rumahnya semakin dekat.
Benar,
Tak lama kemudian Annisa tiba di rumah menjulang tinggi yang fotonya sempat diberi tahu sama suaminya itu.
"Wah ... aku nggak tau kalau aslinya bakalan segede ini," gumam Annisa sambil menatap rumah itu. Ia mendorong kopernya dan mengetuk pintu rumah. Berulang kali. Tapi tak ada jawaban sama sekali.
Jika tadi Annisa sekedar panik dan khawatir, kini Annisa mulai resah. Ia keluarkan ponselnya dan terus menelepon ibu dan bapaknya. Tapi nomor mereka sama sekali nggak bisa di hubungi.
"Bu ... Pak ... siapa pun yang di dalem. Buka dong. Annisa pulang nih!" seru Annisa semakin mengetuk pintu rumah dengan kencang. Annisa membuka kenop pintu dan mengerang saat pintunya terkunci dari dalam. Ia mengerjap, menatap sekeliling. Mencari bantuan tapi jalanan benar benar lowong. Tidak ada orang sama sekali.
__ADS_1
"Ya ampun ... di mana ibu sama bapak."