
Dengan perlahan Bram membuka pintu kamar Rama dan masuk, menutupnya kembali baru duduk di pinggiran kasur memandang Rama yang masih duduk di kasur dengan meja lipat yang ada di atas kakinya. Anak itu sedang membaca buku.
“Woah ... ayah lihat-lihat ada yang rajin banget nih. Udah malem, tutup dulu yuk bukunya.”
Bram mengambil paksa buku Rama dan menaruhnya di atas meja, kembali duduk di dekat Rama. Memandang Rama, sayangnya Rama malah menunduk. Tanpa memperhatikan dia sama sekali.
“Rama ... ayah minta maaf,” ucap Bram pada akhirnya.
Rama mendongak dan menggigit bibir bawahnya, mulai merasa nggak enak.
“Ayah minta maaf karena udah membuat kamu sedih karena omongan ayah kala itu. Ayah beneran nggak menyangka kalau kamu tahu hal ini karena omongan ayah yang lagi emosi. Ayah beneran minta maaf. Ayah nggak ada maksud untuk mengatakan hal itu sama kamu. Ayah beneran minta maaf ...”
Rama berbalik dan langsung menangis. Ia menubruk tubuh ayahnya dan terisak di pelukan Bram.
“Aku yang harusnya minta maaf sama ayah, karena udah jahat banget sama ayah. Nggak seharusnya aku marah sama ayah kayak waktu itu. Padahal ayah udah super baik sama aku. Padahal ayah cuman ngomong fakta doang. Tapi aku malah marah sama ayah. Aku diemin ayah. Maaf ayah karena aku udah jadi anak yang nakal. Padahal ayah selalu bilang kalau aku harus jadi anak baik, tapi aku malah nakal ...”
Rama semakin menangis di pelukan Bram, membuat Bram inisiatif mengangkat anak itu masih menggendongnya. Ia terus mengusap punggung Rama sambil mengangguk.
“Bukan salah kamu sama sekali, ini salah ayah karena udah jadi ayah yang egois. Apa yang kamu lakuin cuman bentuk emosi kamu doang. Kamu pasti bingung dan malah secara nggak langsung marah sama ayah. Ayah minta maaf ya sama kamu. Ayah nggak ada maksud kayak gitu ...”
Rama mengangguk.
“Maaf ayah ...”
“Nak, kita lupain hal itu ya. Kita lupain semua omongan yang ayah bilang waktu itu, dari pada mikirin hal itu dan malah buat sedih doang. Mendingan kita jalanin hidup yang sekarang. Kamu, ayah dan mamah. Kita akan cari kebahagiaan bareng. Kamu mau kan?”
“Mamah?”
__ADS_1
Rama menoleh ke sana kemari untuk mencari keberadaan mamahnya itu. “Aku mau sama mamah, aku mau minta maaf sama mamah karena udah jahat sama mamah. Aku udah buat mamah nangis, karena ulah aku.”
“...”
“Ayah ...,” rengek Rama meminta turun dan Bram langsung menurunkan anaknya dan Bram memilih berlutut, untuk menyamakan tinggi di antara mereka.
“Iya, nak? Kenapa?”
“Aku udah salah sama mamah. Waktu itu aku udah buat mamah sedih dan udah janji sama oma buat minta maaf. Tapi aku terlalu malu sama mamah, makanya aku belum minta maaf sama mamah. Makanya ... aku mau minta maaf. Tapi takut.”
Bram mulai memutar otak, sedikit penasaran akan apa yang terjadi di sini. Ia memiringkan wajah, berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Ia tidak tahu alasan Annisa menangis karena ulah anaknya. Bram menggeleng kecil, karena sudah berjanji akan melupakan masalah yang lalu.
“Tidak ... mamah itu sangat baik loh. Atau mau ayah yang bilang minta maaf sama mamah Annisa? Ayah yakin banget sih kalau mamah Annisa bakalan maafin aku. Asal kamu tulus dan janji nggak akan mengulangi lagi.”
Rama mengangguk.
“Oma juga bilang kayak gitu, tapi tetap aja aku takut ...”
“Apa itu?” excited Rama
Bram tertawa kecil, “rahasia ... ayah bakalan ngasih tahu kalau kamu udah minta maaf sama mamah Annisa ya. jadi, kamu minta maaf.”
Rama mengangguk sambil menunduk.
Selanjutnya,
Bram membawa Rama masuk ke dalam kamar mandi. Rama naik ke kursi kecil biar sejajar sama wastafel yang ada kacanya. Bram berdiri di belakang tubuh Rama dan mengusap rambut Rama. Ia tatap wajah anaknya dari kaca yang ada di depan mereka.
__ADS_1
“Ayah beneran minta maaf karena udah nyebabin kamu nangis terus. Pasti ini kantung mata ada karena kamu nangis terus kan?” sesal Bram sambil menarik napas dalam.
“Maaf ayah ...”
“Nggak usah minta maaf, nak. Ini bukan salah kamu sama sekali. Tapi ini salah ayah karena udah jahat sama kamu. Ayah janji untuk ke depannya nggak bakalan bikin kamu sedih lagi. Ayah juga janji nggak akan ngomong emosi kalau sama kamu lagi.”
Rama mengangguk dan tersenyum tipis.
“Aku juga janji bakalan jadi anak yang baik. Aku janji nggak bakalan kayak gini lagi.”
Bram tersenyum tipis dan menyalakan keran dan membasuh tangannya dengan air kran. Ia basuh wajah anaknya yang sangat sembab karena baru saja menangis, tak lupa ia mengusap pipi Rama.
Rasa haru kembali menyelimuti hati laki-laki itu.
Bram baru sadar kalau dirinya nggak pernah melakukan hal kecil seperti ini dari dulu. Benar kata mommynya kalau dia bukan ayah yang baik untuk Rama. Bram menatap miris pada anaknya itu dan menarik napas dalam. Rasa sesak membuat dirinya Bram nyesek sendiri.
Bahkan dirinya belum bisa memberikan apa-apa pada keluarganya sendiri.
“Ayah ke napa?” tanya Rama yang sadar kalau mimik wajah ayahnya itu berubah. “Ayah baik-baik aja?”
Bram terjatuh dan berlutut di depan Rama, ia mengusap rambut anaknya dan pipi Rama. Memandang anaknya dengan mata berbinar. Ia menelan saliva dan menarik napas dalam. Rasa haru kembali menyelimuti hatinya.
Banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
Sejak kapan anaknya udah setinggi ini? sejak kapan anaknya udah lancar dalam melakukan berbagai aktivitas? Sejak kapan Rama sudah lancar bicara?
Bram sudah melewatkan banyak hal dalam pertumbuhan sang anak.
__ADS_1
Bram menarik tubuh Rama dan memeluknya dengan sangat erat. Ia terus mengusap punggung Rama sembari terus mengatakan penyesalan dalam dirinya di hatinya sendiri.
“Maaf ... maafin ayah sayang. Maaf karena ayah udah jahat banget sama kamu. Ayah janji akan jadi ayah yang baik dan terus mengikuti tumbuh kembang kamu. Maaf karena selama ni ayah udah jadi ayah yang buruk untuk kamu.”