Istri Dadakan

Istri Dadakan
Speechless


__ADS_3

"Bu."


Annisa menatap takut-takut pada ibunya itu yang malah menyeringai menyeramkan di mata Annisa. Perempuan itu menelan saliva sembari menggeleng kecil. Takut ibunya melakukan hal yang ia takutkan.


"Di lihat-lihat kamu itu semakin berani ya," dengus ibu Marni sambil menatap sekitar. "Lihat semua yang ada di rumah ini," tunjuknya dengan jari meliuk-liuk di udara. "Apa ini semua yang buat kamu berpikir seperti ini? Berpikir kalau kamu bisa melawan ibu? Memangnya ... kamu siapa?"


Annisa semakin melangkah mundur saat ibunya mendekati dirinya.


Sampai ibu Marni tepat di hadapan Annisa, perempuan itu hanya bisa memejamkan mata. Wajah ibunya itu mendekat dan beralih ke arah samping, telinganya.


"Ibu mau semua yang ada di sini! Tanpa terkecuali."


"IBU!" pekik Annisa tanpa sengaja mendorong ibunya itu dengan cukup kencang.


"Woi!" Perempuan yang baru saja di dorong itu langsung menatap tajam anaknya yang kini menunduk penuh rasa takut. "Woah ... memang mulai seenaknya kamu sama ibu. Kamu lupa kalau ibu nggak akan pernah suka lihat kamu bisa lebih bahagia dari ibu! Selama ini ibu diam aja karena saya nggak pernah nyangka kamu bisa tinggal di rumah yang sebesar ini! Tapi ... lihat, semua yang di berikan suami kamu sama ibu nggak ada apa-apanya di banding sama apa yang diberikan ke saya dan bapakmu itu."


Annisa memejamkan mata. Jangan lagi ...

__ADS_1


"Jadi ... ibu mau kamu suruh suami kamu memberikan yang sama pada kami!"


Hati perempuan itu mencelos. "Bu ... mana bisa begitu. Aku aja kadang masih nggak percaya karena udah tinggal di sini dan aku aja masih ngerasa nggak pantas ada di sini. Dan juga, mas Bram udah kasih banyak hal loh sama ibu. Jadi buat apa ibu minta lagi rumah yang lebih besar?"


Annisa menggeleng tidak mau mengikuti permintaan sang ibu.


"Ibu cuman tinggal berdua aja sama bapak, dan seharusnya rumah yang nggak tingkat aja udah cukup buat kalian dan sekarang ibu malah mau rumah yang kayak gini? Enggak, bu. Ini semua nggak perlu."


"Alah ... kamu ngomong gitu juga paling karena nggak mau ibu lebih dari kamu. Ibu paham sama otak licik kamu. Pasti kamu juga kesel kan karena ibu datang ke sini?"


"Bu .. ibu nggak capek apa kayak gini mulu?" ucap Annisa yang sudah sangat lelah dengan segala tingkah dari ibu kandungnya sendiri itu.


Bagaimana nggak lelah! Sejak dulu dia harus memaklumi perbuatan orang tuanya terutama ibunya ini. Annisa dituntut untuk mengedepankan segala hal tentang mereka di banding dirinya sendiri.


Annisa akan bersumpah, dia sama sekali nggak pernah marah untuk satu hal ini. Karena dia juga akan berusaha untuk memprioritaskan orang tuanya ketimbang dirinya sendiri itu. Tapi, balik lagi ...kalau harus terus memaklumi mereka. Annisa juga capek lah ...


"Bu ... apa ibu nggak capek harus terus kelihatan menang di antara tetangga yang lain. Apa ibu nggak capek karena harus keliatan menang di depan anak sendiri? Apa ibu gak capek karena udah selalu gini sama anak-anak ibu? ...." Annisa menelan saliva untuk sesaat. Ia memejamkan mata. "Apa ibu nggak capek karena terus benci sama anak? Di saat ke depannya hanya ada kami."

__ADS_1


"..."


"Bukan para tetangga yang ibu selalu omongin. Bukan uang yang selalu ibu banggakan dan sebagainya."


"..."


Annisa menepuk dadanya, terasa sangat sesak dan menyakitkan.


"Bahkan ... niat ibu sama bapak datang ke sini aja karena kakak. Kalian tau kan keadaan kakak yang sekarang? Ibu tau kan kalau kakak udah nggak ada di dunia ini? Tapi ... kenapa kalian nggak pernah keliatan sedih sama sekali?"


"..."


"Dan sekarang ... dalam suasana berduka kayak gini, kalian malah ngomongin harta?"


Annisa tertawa miris sambil menatap kecewa sang ibu.


"Ibu selalu ngomong kalau nyesel punya anak kayak aku dan kakak. Tapi ibu salah," ucap Annisa lalu diam untuk sesaat. "Tapi aku yang kecewa punya orang tua yang kalian," lanjut perempuan itu lalu berjalan melewati ibunya begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2