Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kabar Yang Ditunggu-tunggu


__ADS_3

Bram terus berusaha memastikan sampai satpam itu akhirnya luluh dan mengangguk. "Kalau memang begitu, good luck ya. Semoga kamu bisa cepat damai sama istri kamu dan ketemu sama istri kamu. Dia kelihatan baik-baik saja. Hanya wajahnya yang sedikit pucat. Selebihnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan kalau dilihat dari wajahnya."


Bram kembali berterima kasih pada orang tersebut. Dia sedikit memberikan rezeki padanya sebelum kembali ke mobil.


Memang belum ada kabar yang signifikan hingga membuat Bram tahu. Tapi, setidaknya dia tahu kalau Annisa ada di sekitarannya dan perempuan itu tidak pernah berpergian jauh. Dan setidaknya Bram tahu kalau istrinya itu baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.


Setelah kembali ke mobil dan menidurkan Rama di kursi belakang. Bram buru-buru menghubungi orang suruhannya Terdengar nada sambung dari seberang sana sebelum Bram mendengar suara mata-mata yang ia kerjakan itu.


/Tuan ... pas sekali saya mau menghubungi tuan. Ada kabar bagus yang harus tuan dengar!/


"Sebelumnya kamu harus tahu apa yang saya temui." Bram mulai menceritakan apa yang baru saja ia dengar sari satpam tadi. "Tapi sekarang saya masih bingung, siapa orang tua yang dimaksud oleh satpam tadi? apa orang tua Annisa? kalau memang benar. Kenapa Annisa nggak menyuruh orang tuanya mengurus masalah yang dia buat."


/Saya rasa mereka bukan orang tua nona Annisa. Karena saya mengetahui keberadaan istri tuan./

__ADS_1


"APA!"


/Benar tuan ... beberapa jam yang lalu tim saya melihat keberadaan nona Annisa di sebuah rumah sakit swasta./


Bram langsung bangun begitu mendengar kabar tak mengenakan ini.


"Maksud kamu? rumah sakit mana? Annisa sakit apa? kamu kenapa nggak ngabarin saya dari tadi kalau udah tahu dari beberapa jam yang lalu? kamu nggak lagi bohongin saya kan? ini beneran?"


"Gimana saya bisa tenang," protes Bram tidak terima. Dia memindahkan ponselnya. "Udah lama saya nggak dengar kabar Annisa dan begitu tahu. Saya malah dapat kabar tak mengenakan kayak gini? Nggak bisa ... saya nggak mau tau. Kamu cepat kirim alamat rumah sakit yang dimaksud. Saya harus langsung ke sana sekarang juga!"


/Tapi tuan, harus dengar penjelasan dari saya terlebih dahulu./


"Okei, apa yang mau kamu jelaskan? cepat kasih tahu saya. Sebelum saya benar-benar marah sama kamu!" seru Bram dengan galak.

__ADS_1


/Jadi saya memang mendapat kabar dari tim saya tentang Annisa. Tapi maaf banget karena baru ngasih kabar sekarang, karena saya harus cros cek terlebih dahulu. Saya turun tangan sendiri dan memang benar nona Annisa ada di salah satu kampung di Jawa. Kampungnya tak jauh dari kampung tempat tinggal nona Annisa. Tapi di sini saya belum mendapatkan kabar sama sekali tentang sakit yang di derita nona Annisa./


Bram menggeleng. Ia tidak butuh itu sekarang.


"Cepat kamu kasih tahu alamat rumah sakit yang dimaksud. Saya harus kesana sekarang juga!" mohon Bram.


/Baik tuan ... segera saya kirimkan alamatnya kepada tuan./


Bram mematikan panggilan tersebut dan tak berselang lama. Sebuah pesan masuk ke ponselnya dan sebuah alamat terpampang nyata di ponsel.


Rasa haru langsung menyelimuti hati Bram. Ia memejamkan mata dan tanpa sadar menitikkan air mata.


"Akhirnya ... setelah selama ini nggak ada harapan sama sekali. Akhirnya ada titik terang tentang keberadaan Annisa."

__ADS_1


__ADS_2