Istri Dadakan

Istri Dadakan
Permintaan Sulit


__ADS_3

“Apa yang kamu tahu tentang bunda kamu?”


Rama mendongak dan menatap sang oma. Terkejut oma nya mengetahui akan hal ini. Dia yang memang mau menghampiri sang mamah, langsung menutup pintu kamar dan berakhir duduk sambil memandang sang oma dengan sangat serius.


“Oma tahu sesuatu?”


Oma Chika mengangguk sembari menatap cucunya itu dengan sendu. Ia mengusap rambut Rama dan berakhir mengusap kantung mata Rama yang menghitam, oma Chika sadar kalau Rama sering menangis hingga menciptakan kantung mata hitam itu.


“Oma tahu ... tapi sebelum itu, oma mau kamu berjanji untuk nggak nangis lagi. Anggap ini fakta yang memang harus kamu tahu. Menyakitkan tapi memang benar adanya. Dan ... sebelum oma cerita, oma juga mau kalau kamu cerita. Apa aja yang sebenarnya udah kamu dengar dan kenapa karena hal ini, kamu jadi mendiamkan semua orang? termasuk mamah kamu? Padahal di sini mamah kamu nggak ada salah apa-apa sama kamu.”


“Maaf oma ...”


“Oma nggak butuh maaf kamu, yang oma butuhkan hanya penjelasan dari kamu. Apa yang sebenarnya udah terjadi di sini?”


Rama menunduk.


Sebenarnya anak itu juga bingung sama dirinya sendiri. Dia nggak tahu mengapa melakukan hal ini. Seolah semua kelakuan dia beberapa akhir ini dilakukan dengan alam bawah sadarnya.


“Okei ... mungkin kamu nggak tahu juga, tapi oma mau dengar. Apa yang sebenarnya ayah kamu ceritakan sama kamu? Oma boleh dengar dong?”


Rama menarik napas dalam dan mengangguk.


Mengalirlah cerita tentang bunda nya dari mulut anak itu. Ia terus ceritakan apa yang dia dengar dari sang ayah membuat oma Chika menggeram, mengutuki anaknya itu yang memang sangat bodoh. Rama terus menceritakan dari kebencian yang ayahnya lontarkan sampai perintah sang ayah untuk memaksa dirinya ikut membenci bundanya.


“Aku bingung, oma,” jujur Rama pada akhirnya sambil menarik napas dalam. “Selama ini ayah selalu cerita kebaikan bunda, ayah selalu bilang ke aku kalau aku tuh nggak boleh lupain bunda walaupun udah ada mamah dan ayah juga sering bilang ke aku, kalau aku harus menempat kan nama bunda di hati yang berbeda. Karena sampai kapan pun nama itu nggak akan boleh menghilang dari hidup aku ...”


“...”


“Dan sekarang tiba-tiba ayah ngomong kalau bunda itu udah bohong, bunda ninggalin aku. Ayah terus bohongin aku. Aku bingung harus percaya yang mana? jadi ... bunda tuh baik atau jahat? Aku bingung. Masa iya bunda nggak mau ngerawat aku. Tapi, kalau memang iya dan ternyata bunda nggak meninggal. Terus makam siapa yang sering aku datengin sama ayah aku? Nggak mungkin kan makam orang lain?”


Oma Chika menatap miris cucunya yang kelihatan sangat kalut.


“Aku bingung, oma. Aku terus mikir berbagai hal biar bisa masuk akal, walau akhirnya tetap terasa aneh di benak aku. Aku nggak tahu ... aku bingung dan nggak sengaja malah diemin semua orang,” ucapnya dengan suara yang melemah. “Aku beneran nggak sadar udah jahat sama mamah. Aku diemin mamah. Aku nggak bermaksud marah sama mamah. Tapi ... aku gak sengaja udah lakuin ini ke mamah.”


Oma mengangguk, memahami maksud anak itu.


Mau bagaimana pun, Rama hanya anak yang bentar lagi baru berusia tiga tahun. Pikirannya masih terlalu berat untuk memikirkan masalah yang berat. Masih nggak tahu. Sekalinya mikir pasti akan menyentuh ke ranah emosinya.


Ya ... oma Chika mulai sadar kalau cucunya itu terlalu berat dalam memikirkan hal ini.


“Pikiran aku pusing, oma. Semakin aku lihat foto bunda, semakin aku nggak ngerti. Bunda ini memang baik atau jahat? Kalau baik, kenapa ayah ngomong gitu dan bilang bunda belum meninggal tapi memilih untuk ninggalin aku? Tapi kalau jahat, kenapa dulu ayah selalu cerita tentang kebaikan bunda? Aku masih inget kok kalau dulu ayah suka berseri kalau cerita tentang bunda. Dan ... pas lagi pusingnya, mamah datang lagi dan maksa aku untuk jelasin. Dan ... tanpa sadar aku bentak mamah.”


“...”

__ADS_1


“HUA ....,” pekik Rama meronta. “Aku takut, mamah nggak akan marah kan oma?” tanya Rama sambil menatap omanya dengan air mata yang berlinang. “Oma ... mamah nggak bakalan tinggalin aku kan? Mamah nggak bakal pergi. Aku nggak mau. Aku sayang sama mamah. Aku suka sama mamah. Mamah baik banget sama aku. Aku beneran nggak mau kalau aku berakhir sendirian lagi.”


Oma mengangguk dan mengusap air mata Rama dan berusaha menenangkan cucunya itu.


“Enggak ... nanti oma yang bakal suruh mamah kamu untuk netep di sini. Dan, juga kamu nggak usah khawatir. Mamah kamu terlampau baik. Dia pasti akan tetep di sini, asal kamu jangan berulah lagi dan juga nggak boleh kayak tadi lagi.”


“Iya oma ... aku minta maaf.”


“Iya, oma maafkan.”


***


Setelah Rama kembali tenang, oma Chika kembali duduk di pelantaran karpet dan Rama yang kini ada di pangkuan sang oma. Mereka duduk menghadap ke almari yang penuh akan kaca. Jadi, mereka menghadap ke arah kaca. Melihat wajah masing-masing.


“Bunda kamu orang yang sangat baik,” ucap oma Chika mengawali pembicaraan mereka. “Oma beneran sesuka itu sama bunda kamu, karena sangat sopan dan jangan lupakan wajahnya yang cantik. Tapi, satu yang oma ingat kalau bunda kamu itu orang yang sangat lembut. Sama seperti kamu ...”


“Aku?” tanya Rama sambil menujuk dirinya sendiri.


Oma mengusap rambut Rama sembari mengangguk.


“Semua yang ayah kamu bilang pas dulu itu nggak ada salahnya sama sekali. Karena memang bunda kamu itu orang yang baik. Ayah dan bunda kamu juga saling mencintai satu sama lain. Sangat mesra dan oma masih ingat bagaimana senangnya mereka pas kamu hadir di tengah pernikahan mereka.”


“Bunda sama ayah seneng?” tanya Rama dengan mata berbinar.


“Mereka beneran sebahagia itu. Pokoknya nggak ada yang bisa menandingi kamu sama sekali. Kamu beneran di manjakan sama bunda dan ayah kamu. Mereka excited banget sama kamu.”


“Tapi ... kenapa ayah bilang, kalau bunda benci aku? Kalau memang bunda sayang sama aku? Apa beneran bunda masih ada dan belum meninggal? Kalau memang begitu ... kenapa bunda pergi ninggalin aku?”


“Itu yang oma nggak paham.”


“Maksud oma? Jadi ... beneran kalau bunda masih ada di sini? Aku mau ketemu sama bunda! Aku mau ...”


Oma Chika meminta Rama untuk tenang, membuat anak itu kembali menarik napas dalam dan mengangguk kecil.


“Di sini oma juga masih nggak paham, tapi memang benar kalau sampai detik ini bunda kamu belum meninggal dan masih ada di dunia ini. Dan nggak cuman itu doang ... bunda kamu itu beneran nggak pergi meninggalkan kamu sama ayah kamu.”


Rama menggigit bibir bawahnya.


Matanya mulai bergetar, bibirnya berkedut. Menahan tangis.


“Tapi ... di sini oma juga nggak tahu apa sebenarnya alasan bunda kamu ngelakuin ini semua,” ucap oma Chika lalu menghela napas pelan. “Jadi ... oma harap kamu nggak akan ambil kesimpulan gitu aja. Mungkin kamu sama ayah kamu memang kecewa, tapi kita kan nggak tahu alasan bunda kamu ngelakuin itu? Kalau nggak salah ... kamu pasti tahu kan kalau kita nggak boleh judge seseorang tanpa mengetahui apa yang sebenaarnya terjadi?”


Rama tersenyum sinis dan mengusap paksa air matanya yang turun.

__ADS_1


“Tetap saja ... itu artinya bunda nggak sayang sama aku.”


“Kamu jangan ngomong kayak gitu.”


Rama menggeleng. “Kalau bunda memang sayang sama aku, nggak seharusnya bunda pergi ninggalin aku. Mau alesan apa pun itu, mau baik atau jahat. Bunda yang pergi dari hidup aku aja udah buat aku sedih.”


“...”


“Teman aku sering bilang, kalau aku ini bukan anak yang di harapkan. Kalau aku ini nggak baik. Kalau aku ini bukan anak yang di inginkan dan punya pengaruh buruk. Sampai bunda pergi ninggalin aku. Atau mereka bakal ngatain aku karena nggak punya bunda.”


“...”


“Kalau bunda memang pergi ninggalin aku cuman-cuman doang, apa bunda nggak mikir sama semua yang aku terima selama ini?” tanya Rama dengan mata berlinang air mata sambil natap oma Chika. “Aku tuh sering di katain gitu oma sama temen seumuran aku dan aku nggak mau bilang. Karena takut semua orang khawatir sama aku. Tapi aku selalu sedih ... tapi kalau ingat ayah ngomong, bunda udah pergi dan tenang di atas sana. Buat aku jauh lebih tenang. Tapi ... kalau pada nyatanya, bunda ninggalin aku cuman karena nggak mau ngerawat aku. Itu buat aku sedih bukan main ...”


Oma Chika menggapai tangan cucunya dan mengusap pelan. Berusaha memberikan kasih sayang untuk anak itu, walau hatinya ikut sakit hati.


Pulang dari sini.


Oma Chika akan mencari tahu siapa aja yang udah jahat sama cucunya dan dia nggak akan pernah membiarkan sama sekali. Dan selain itu. Oma Chika mengutuk Bram, anaknya yang nggak bisa menjaga Rama dengan baik sampai anaknya itu di bully saja Bram tidak tahu.


“Aku sedih, oma ... aku kaget banget. Ayah kelihatan marah pas bilang ini dan aku nggak pernah melihat ayah semarah ini. Makanya pas lihat ayah keliatan serius banget kayak gitu, buat aku sadar kalau ini memang benar. memang menyakitkan tapi memang semua yang ayah omongin itu benar.”


“Nak ...”


“Dan sekarang oma bilang kayak gini ... yang artinya semua yang ayah omongin waktu itu memang benar adanya. Nggak cuman itu aja, mau oma ceritakan semua kebaikan bunda. Aku nggak bakalan pernah paham karena aku nggak pernah lihat bunda sama sekali. Jadi ... yang aku ingat saat ini cuman fakta kalau bunda nggak mau ngerawat aku dan memilih prgi.”


“Maaf ya nak, kamu harus ada di tengah masalah kayak gini.”


Rama semakin terisak dengan kencang, membuat oma Chika sigap membawa anak itu masuk ke dalam pelukannya.


“Oma ...”


“Iya nak? Kenapa ... bilang sama oma. Keluarkan semua kesedihan kamu, cerita saja sama oma. Kita sedih bareng-bareng ya.”


Gelengan di rasakan oma Chika, membuat perempuan yang sudah mulai berumur itu menatap bingung.


“Aku udah capek nangis, oma. Kemarin ... aku cuman bingung aja, pas denger ini buat aku sedikit sadar kalau memang benar dann aku nggak perlu mikirin ini lagi. Aku cuman mau minta sesuatu sama oma. Boleh?”


“Iya ... kamu mau apa? kasih tau oma saja.”


“Boleh temuin aku sama bunda?” seru anak itu yang mana membuat oma Chika bungkam.


Bingung mau menjawab ...

__ADS_1


__ADS_2