
Bram menatap lekat anaknya yang sudah tertidur karena usapannya. Ia menatap kagum sekaligus bahagia. Kagum karena dia berhasil menidurkan anaknya. Bahagia karena ini pertama kalinya ia menidurkan sang anak. Setelah sekian lama ia serahkan pada teteh yang menjaga Rama.
"Ayah baru sadar kalau selama ini udah kurang kasih perhatian ke kamu," gumam Bram sambil mengusap pipi Rama. "Ayah udah jadi orang tua yang buruk. Ayah malah tenggelam sama kesedihan. Bahkan sedikit menyalahkan kamu atas meninggalnya Sakilla. Sampai ayah mendiamkan kamu, padahal kamu nggak paham. Kamu nggak tahu sama apa yang terjadi di sini. Tapi apa?! ayah malah nggak peduli dan mendiamkan kamu."
Hati Bram terasa cenat-cenut. Ia beralih menggenggam tangan sang anak.
"Mendengar kamu yang cuman minta ayah buat sering di rumah sampai pengin jalan-jalan sama ayah, buat ayah sadar kalau permintaan kamu itu kecil. Kamu beneran gak mau minta uang yang banyak. Kamu cuman butuh kasih sayang melimpah dan limpahan perhatian dan itu buat ayah nyesek banget."
"Dua tahun ... kamu tumbuh sendiri tanpa seorang ibu atau bapak yang ada di sekeliling kamu. Kamu kuat bahkan tumbuh dengan baik. Dan ayah benar-benar menyesal. Satu hal yang buat ayah beruntung. Ayah akhirnya bisa bertemu sama wanita yang memahami kamu."
"Ah ... mamah mu itu memang sangat menyayangi kamu. Bahkan darah dia nggak mengalir di tubuh kamu. Tapi rasa nya dia yang lebih mengenal kamu dari pada ayah sendiri."
Bram terdiam dan menghela napas kecil.
Ia mengangkat wajahnya dan menatap sekitaran kamar. Dia baru sadar banyak gambar Rama yang menempel di sekitaran dinding dan itu lagi lagi malah menyakiti dirinya. Ini benar-benar sangat menyedihkan.
Pulang kerja sekitar jam sepuluh malam. Biasanya Bram akan langsung bertemu sama teteh penjaga Rama yang izin pamit. Lalu, selanjutnya dia akan langsung masuk kamar dan nggak pernah peduli sama sekali dengan Bram. Dia itu akan istirahat. Tanpa menengok Rama sama sekali.
Keesokan paginya, dia akan bangun dan hanya bertemu Rama yang sudah sarapan lalu tanpa sarapan Bram akan berangkat. Benar-benar tidak ada interaksi di antara mereka dan itu membuat hatinya cukup pedih.
Baru-baru ini aja setelah menikah, Bram sedikit memilki waktu untuk menemui sang anak. Itu pun jarang ada interaksi kecil.
"Ya ampun ... ayah seperti apa aku ini? gagal, sangat gagal."
Bram jadi mengingat kala itu. Masa di mana ia sangat menginginkan seorang anak sampai berjanji akan terus sayang sama anaknya dalam kondisi apa pun. Tapi kenapa setelah anaknya lahir di dunia ini, ia malah ingkar janji?
"Rama ... ayah janji akan belajar menjadi seorang ayah yang baik. Maaf kalau ini mengecewakan kamu, tapi ayah akan belajar banyak. Hanya demi kamu."
__ADS_1
Bram menarik napas dalam, Tiba-tiba pintu kamar Rama terbuka dan menimbulkan suara pelan. Ia menoleh dan dia melihat Annisa sedang menjulurkan kepala dari balik pintu.
Bram mengusap dadanya. "Ya ampun Annisa! mengejutkan saja," bisiknya pelan. Ini udah tengah malam dan dia malah melihat kepala tanpa badan? siapa yang nggak takut sih?
Bram membenarkan selimut Rama terlebih dahulu sebelum menghampiri pintu kamar dan membukanya lebih lebar hingga Annisa melangkah mundur. Bram sedikit menoleh ke dalam kamar dan mematikan lampu utama hingga lampu tidur menyala, menerangi kamar itu. Baru ia tutup pintu dengan pelan.
"Kenapa?" tanya Bram setelah pintu tertutup
"Enggak .. aku cuman mau ngabarin kalau semua yang mas pinta udah aku siapin dan aku juga mau lihat apa Rama udah tidur. Soalnya, Rama cukup rewel kalau udah ngantuk. Takut kamu kewalahan."
Bram menggeleng.
"Dia sangat anteng, mungkin karena capek. Sudah yuk, kita ke bawah."
Annisa menghela napas lega dan mengangguk, mengikuti suaminya dari belakang.
***
Annisa memundurkan tubuhnya saat melihat Bram turun dari lantai atas sambil membawa kotak p3k di lengannya. Tatapan Annisa memicing sambil menggeleng.
"Nggak usah mangkir gitu, itu tangan sama pipi kamu harus di obati. Saya lihat, dari tadi kamu biarkan begitu saja. Saya kira kamu akan mengobati, tapi malah di diamkan saja. Apa nggak takut infeksi?"
Annisa tertawa sambil menyentuh lukanya dan berakhir meringis kecil. Ternyata masih sedikit perih. Masalahnya dari tadi dia sibuk sampai lupa sama lukanya. Jadi, ia gak peduli sama sekali. Ia menatap ke Bram lagi.
"Nggak usah lah ... luka kecil doang. Dulu bahkan jatuh dari genteng aja aku cuman istirahat doang. Nggak perlu lah kayak gini. Jadi, tenang aja. Nggak usah khawatir sama sekali."
Mata Bram membola.
__ADS_1
"Ya ampun ... kok bisa jatuh dari genteng?" seru Bram sambil menaruh alkohol ke kapas. Matanya fokus mengambil obat yang dikiranya bisa di pakai ke Annisa. "Kamu ini perempuan kan? kenapa bisa naik dari genteng? nggak ada luka kan? ya ampun ..."
Annisa tertawa kecil.
"Dulu tuh rumah ada yang bocor, pas di kamar aku. Tapi bapak nggak mau benerin dan aku juga terganggu kalau terus bocor. Apa lagi waktu itu tuh pas musim hujan. Jadi, aku nggak mau kalau bocornya ganggu waktu aku pas lagi kerja atau belajar. Makanya, aku inisiatif buat naik sendiri dan benerin itu genteng. Ya namanya juga perempuan, aku kurang paham. Tapi ... pas naik sih semuanya aman. Aku juga berhasil nambal itu genteng sesuka aku. Tapi pas turun. Aku salah pijak dan jatuh. Mana pas masih di anak tangga yang awal. Sakit tau ...," adunya seperti anak kecil
"Ya ampun Annisa ... kenapa bisa?" seru Bram yang nggak habis pikir sendiri. "Untung saja sekarang sudah tidak bocor. Tukang saya sudah merombak semuanya. Jadi, pasti gak ada yang bocor sama sekali."
Annisa menoleh terkejut.
"Hah?! tukang apaan? kok bisa— AW!" kaget Annisa seraya menatap tajam Bram yang malah menyentuh pipinya dengan santai. "Sakit tau ..."
Bram berdecak.
"Nggak ada yang sakit, kalau pun kena ini kapas. Palingan cuman dingin doang di pipi kamu," ucap Bram yang tahu kalau Annisa berbohong.
Annisa mengerjap dan mengusap tengkuknya lalu tertawa. "Hehehe ... makanya sama aku aja, udah mas mah diam aja. Keburu cemilan nya dingin sama minumannya jadi nggak hangat lagi."
Bram memegang pipi Annisa dan memaksanya untuk menatap ke arah dirinya. Ia obati luka Annisa begitu juga dengan area lengannya yang sangat memerah itu.
"Begini Annisa ... saya kan udah bilang dari awal. Menikah sama kamu sama seperti saya membiayai kamu dan semua keluarga kamu. Jadi, kenapa kamu terkejut? bahkan dari awal menikah saya langsung mendatangkan tukang ke rumah kamu dan rumah itu sudah jadi beberapa minggu yang lalu. Tapi, kenapa kamu yang terkejut? memangnya orang tua kamu nggak mengatakan apa-apa sama sekali?"
Annisa menggeleng kecil.
"Aku beneran kaget banget ..."
"Kok bisa? memangnya kalian nggak saling menghubungi sama sekali?"
__ADS_1
Annisa menunduk.
"Boro-boro," ucapnya pelik.