
“Sudah jalan delapan minggu dan kondisi bayi luar biasa sehat. Tidak ada yang perlu di khawatirkan sama sekali. Sepertinya sang ibu menjaganya dengan sangat baik,” ucap dokter sambil menatap monitor lalu beralih ke pasangan suami istri yang sedang menatap kagum. “Tidak ada yang perlu saya lakukan, karena kondisi bayinya sangat sehat. Kalian cukup rutin datang satu bulan sekali dan juga sering istirahat ya bu ... karena ini perdana ibu hamil, benar?” tanya sang dokter berusaha memastikan
Annisa mengangguk.
“Baik lah kalau begitu ...”
Dokter perempuan tersebut merapihkan beberapa alat lalu duduk di meja kebesarannya diikuti Annisa yang dituntun Bram untuk duduk di hadapan dokter.
“Jadi tidak ada yang di khawatirkan ya dok?” tanya Bram lagi memastikan. “Saya nggak perlu lakuin apa gitu supaya kandungan istri saya baik-baik saja?”
Dokter itu tersenyum tipis.
__ADS_1
“Untuk saat ini semuanya baik-baik saja. Tapi bapak tidak bisa berbesar hati, bapak tetap harus pantau istrinya. Tetap harus di perhatikan minum susunya, vitamin, dan tentunya jangan terlalu lelah. Untuk saat ini masih itu saja. Kandungan ibu Annisa juga sangat sehat.”
Annisa tersenyum bahagia. Semua kekhawatirannya selama ini seketika hilang. Pemikiran buruk yang beberapa hari terakhir mengganggunya kini mulai digantikan dengan kata lega. Dia dan Bram terus mendengarkan semua anjuran dari dokter. Bram terus mengingat semua kata dokter.
“Bagaimana? Lega?” tanya Bram begitu mereka keluar dari dokter kandungan. “Dedek bayi baik-baik aja kok di perut kamu,” lanjutnya sambil mengusap pelan perut Annisa. “Semua yang kamu khawatirin nggak terjadi kan? Denger kan dokter tadi bilang apa? dedek bayi baik-baik aja karena kamu yang bisa jaga dengan baik. Mulai ke depannya mas nggak mau denger kamu overthinking kayak gini lagi. Kamu udah jadi ibu yang baik dan sigap.”
Annisa mengangguk.
“Nah ... sekarang mumpung kita berdua, mau langsung ke supermarket? Kita beli kebutuhan buat kamu,” ajak Bram lalu terkekeh. “Eh tapi Rama nggak bakalan marah kan kalau kita lama?” tanyanya sambil menatap Annisa
Annisa terkikik.
__ADS_1
Tadi ada sedikit kejadian sebelum akhirnya Bram sama Annisa memilih untuk pergi ke rumah sakit. Awalnya Rama marah dan ngambek karena tidak di ajak. Tapi Bram tetap kukuh supaya Rama menetap di rumah saja karena ada sedikit kejadian kurang baik antara Rama dan rumah sakit. Jadi, dari pada membuat keadaan kacau. Bram terpaksa kabur diam-diam saat Rama pergi ke kamar mandi.
“Aku yakin banget sih mas anakmu sekarang lagi ngambek,” gumam Annisa lalu masuk ke dalam mobil
Bram menjalankan mobil dan pergi meninggalkan rumah sakit menuju supermarket di dekat rumah mereka. Mereka akan membeli semua kebutuhan yang harus dibeli untuk rumah maupun untuk Annisa.
“Atuh terakhir kali Rama ke rumah sakit, anak itu keliatan ling lung karena dulu pengalaman nya di rumah sakit kurang baik,” ucap Bram bermaksud mengingatkan kalau kepedihan Rama terjadi karena suatu hal yang tidak ingin Bram ceritakan.
“Tapi aku beneran angkat tangan loh mas kalau nanti Rama beneran ngamuk.”
Bram mengangguk, “tenang aja ... semua itu biar mas yang urus. Kamu cukup diam aja, dan lihat gimana aksi mas nenangin anak itu.”
__ADS_1