
"Siapa?"
"Dia mamah—
Annisa refleks menutup mulut Rama yang ingin membongkar statusnya begitu saja. Annisa menatap tersenyum pada pelayan itu. "Saya pekerja di rumah tuan Bram dan di pinta untuk datang ke rumahnya. Jadi saya ingin tau ruangan tuan Bram di mana. Karena ini pertama kalinya saya bekerja di sini."
"Oh ..." orang itu kembali sibuk dengan layar laptopnya berusaha untuk menghubungi asisten Bram.
Sementara itu Rama kembali memberontak dari dekapan tangan Annisa. Ia nggak terima karena mamahnya malah bilang sebagai pekerja. Tapi tenaga Annisa jauh lebih besar membuat dia pasrah dan nggak bisa apa-apa selain hanya diam dan pasrah.
"Tuan Bram sedang bisa ditemui. Mbak naik ke lantai paling atas aja. Itu udah lantai khusus ruangan tuan Bram. Jadi mbak gak akan tersasar. Mbak bisa kan? nggak perlu di antar sama sekali?"
Annisa mengangguk dan mengucapkan terima kasih sebelum menyeret Rama untuk masuk ke dalam lift seraya menekan lantai yang di maksud. Baru Annisa melepas tangan di mulut Rama.
"MAMAH!"
Annisa menatap wajib protes sang anak. "Maaf ya, mamah gak mau kalau banyak orang tau. Nanti yang ada jadi masalah lagi. Jadi, untuk sekarang. Biar kayak gini aja. Di sini mamah juga nggak perlu validasi dari orang banyak. Yang mamah mau lakuin hanya ketemu sama kamu dan yang lain. Tanpa mereka tau status mamah yang benar."
Rama menghentakan kaki dan menggeleng.
"Nggak bisa gitu, mamah. Mereka semua harus tau tentang siapa mamah yang sebenarnya. Pokoknya nanti pas pulang aku mau mamah bilang siapa mamah yang sebenarnya sama orang tadi."
"Iya ... lihat nanti ya."
"Nggak lihat nanti! aku mau mamah ngomong kayak gitu. Ini permintaan aku—
Ting!
Pintu lift terbuka dan di sana sudah ada orang yang berpakaian rapih sedang menunduk sopan. Annisa langsung mengira ini orang adalah asisten Bram yang di maksud. Di saat asisten Bram menyapa sebentar, Rama langsung lari ke salah satu ruangan membuat Annisa langsung mengikutinya dari belakang.
"AYAH!" pekik Rama sambil membanting pintu ruangan.
"Astaghfirullah ... di mana-mana tuh ucapin salam dulu, bukan nya malah teriak terus banting pintu kayak gitu," ucap Bram sambil mengelus dadanya yang benar-benar sangat terkejut.
"Ayah harus tau!"
"Hmm ..."
"Masa tadi mamah bilang ke resepsionis ayah kalah dia pekerja di rumah kita. Dia nggak ngaku kalau mamah ini mamahnya aku. Aku marah sama mamah. Kenapa mamah nggak mau jujur? apa mamah nggak sayang sama aku dan malu aku ini anaknya?"
"Bukan gitu!" jawab Annisa dengan cepat seraya menutup pintu ruangan suaminya.
Sementara itu Bram menatap datar ke arah Annisa.
__ADS_1
"Nggak sayang ... mamah sayang sama kamu kok. Nah, sekarang mendingan ayah minta tolong sama kamu. Kamu mau kan?"
Rama malah semakin merengut, merasa omelannya malah nggak digubris sama sekali. Anak itu menarik napas dalam. "Ayah mau minta tolong apa sama aku?"
"Ayah tadi baru pesen makanan dan pesen minuman. Kamu keluar dan minta tunjuk arah pantry ke asisten ayah yang mejanya ada di depan. Nanti kamu tolong bawain piring sama gelasnya ya. Ayah tunggu. Sekalian kalau ada kue atau cemilan yang kamu mau. Jangan sungkan buat ambil. Nanti kalau tangan kamu nggak bisa pegang semuanya. Kamu bisa minta tolong ke asisten ayah. Tapi, yang sopan ya."
Walaupun merengut Rama tetap keluar. Begitu pintu ruangannya tertutup dari luar, Bram langsung menatap ke arah Annisa dan yang di tatap langsung menunduk seraya menarik napas dalam.
"Kenapa Annisa? kenapa kamu malah bilang pekerja do rumah saya? kenapa kamu nggak bilang siapa kamu yang sebenarnya. Memangnya ada yang nyuruh kamu untuk bilang kayak gitu?"
Annisa menggeleng.
"Mana ada begitu. Maaf mas. Aku kira kamu ini kurang suka kalau semua orang tau tentang siapa aku. Atau kurang suka karena mereka cuman tau aku ini istri mas. Aku takut kalau kamu marah. Apa lagi ... kamu nggak ada bilang sama sekali tadi. Jadi, pikiran aku langsung mengarah ke sana."
Bram menarik napas dalam sembari memijat kepalanya dan menatap Annisa dengan kesal.
"Kalau saya memang nggak siap memperkenalkan kamu sama yang lain. Lebih baik saya nggak nyuruh kamu buat datang ke sini. Tapi saya sendiri yang nyuruh kamu untuk datang kan? Jadi ... nggak ada masalah sama sekali dengan status ini. Saya sudah menyesuaikan hati saya dan mulai menerima kamu kok. Jadi, nggak usah menyembunyikan status ini. Nanti pas pulang saya akan beri tahu semua pegawai saya, kalau kamu ini istri saya."
"Nggak usah mas, nggak usah berlebihan kayak gitu. Aku bener nggak apa-apa kok. Nanti kalau selanjutnya ada yang nanya tentang siapa aku. Aku bakalan jawab siapa aku yang sebenarnya deh."
"Nah ... begitu dong. Pokoknya saya nggak mau kalau kamu ngomong kayak tadi lagi."
"Iya mas ... maaf ya."
"Makanannya udah datang, tuan."
"Kamu ambil satu ... saya memang sengaja beli lebih hanya untuk kamu."
Asistennya langsung menunduk sambil mengucapkan terima kasih, setelah menyusun piring di atas meja dan mengambil satu. Asistennya itu berpamitan keluar.
"Nah, sekarang kita makan dulu."
"Iya ..."
***
Saat ini jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Niatnya Annisa hanya menemani Bram sampai jam makan siang habis aja. Tapi ternyata Bram meminta Annisa sama Rama untuk menunggu sampai waktu kerja selesai.
Jadi lah saat ini Rama sudah tertidur dengan paha Annisa sebagai bantalan dan Annisa bersantai di sofa sembari sesekali menatap sekeliling ruangan yang lagi dan lagi masih membuat dia sangat kagum.
"Annisa ... saya pernah bilang nggak sih kalau Sakilla punya kembaran ke kamu?"
Annisa langsung duduk tegak mendengar itu. Ia menatap Bram dengan tatapan kaget. "Kembaran? kenapa mas gak bilang dari awal? jangan bilang kalau yang bersama kakak aku itu kembaran nya mbak Sakilla dan selama ini aku udah salah sangka."
__ADS_1
"Hahaha tidak, mereka memang kembar tapi nggak identik. Wajahnya sangat jauh berbeda. Nama kembarannya Sakilla itu Aqilla dan saya baru inget kalau kamu mengenalnya sebagai Aqilla kan? Jadi ... selama ini dia pakai indentitas kembarannya untuk menutupi identitas Sakilla yang asli."
"Bentar deh ... beneran beda kan mukanya? maksudnya ... tuan nggak salah sangka sama sekali? soalnya aku bener nggak enak kalau ternyata selama ini udah salah sangka."
"Hahaha .. Benar Annisa. Mereka benar-benar berbeda dan saya mengatakan ini. Karena tiba-tiba saja tadi pagi saya mendapat kontak dari kembarannya Sakilla lagi. Setelah sekian lama saya nggak tau kabarnya."
"Iya kah?"
"Iya ... dan bisa di bilang Aqilla ini satu-satunya anak yang paling waras di keluarganya sendiri. Di saat semua orang gak pernah peduli dengan saya. Hanya Aqilla yang ikut merasakan perasaan hancur saya. Dia benar-benar sangat dewasa dan dia juga yang sebenarnya dijodohkan sama saya, bukan adiknya Sakilla."
"Hah?" kaget Annisa. Ia menelan saliva untuk menetralkan tenggorokannya yang sangat kering.
"Ini maksudnya gimana ya?"
"Eh, saya belum cerita ya sama kamu?" Annisa menggeleng dengan cepat. "Sebenarnya semenjak Sakilla meninggal. Saya sama orang tua Sakilla langsung di jodohkan sama anaknya yang lain dan yang pertama kali menjadi sasaran itu kembarannya Sakilla. Tapi karena kembarannya Sakilla menolak keras dan memilih pergi. Kini mereka malah jodohin saya sama adiknya Sakilla."
"Kenapa begitu? kok mereka main jodohin mas aja?"
"Ya karena mereka takut. Selama menikah dengan Sakilla, saya selalu membiayai hidup mereka. Jadi, mereka takut kalau saya bertemu sama jodoh aaya sendiri. Saya nggak akan mengirimi mereka uang lagi. Bahkan mereka selalu aja maksa ini itu dan karena saya malas ribut. Jadi sampai detik ini nggak pernah absen untuk kasih mereka uang tiap bulan nya. Tapi ... karena kemarin mereka udah jahat sama kamu. Rasanya saya mau marah sama mereka. Kenapa mereka malah ngelakuin hal jahat itu? benar-benar sangat nggak bermutu."
Annisa menutup mulutnya yang masih terkejut.
Dia baru tau masalah ini dan sangat terkejut karena masih ada keluarga yang melebihi kelicikan keluarganya sendiri. Mendengar begitu mata duitnya keluarga Sakilla. Annisa jadi ingat sama keluarganya sendiri yang juga sangat mata duitan.
"Terus ... alesan mas ngomong kayak gini tuh apa?"
"Ah ... tadi saya ngasih tau Aqilla apa yang sebenarnya terjadi di sini dan tentang anggapan kamu itu loh dan Aqilla benar-benar kaget. Karena dia nggak tau apa-apa. Soalnya, keluarga dia sendiri nggak pernah ajak dia sama sekali."
"Begitu ya?"
Bram mengangguk dan duduk bersandar di kursi kebesaran nya.
"Dia bilang ... dia siap ngebantu kita dan kalau ada waktu. Dia bakalan datang ke rumah kita untuk ngomongin bareng."
Annisa menelan saliva.
"Tapi mbak Aqilla beneran baik kan?"
Bram tertawa kecil dan mengangguk. Berusaha menenang kan Annisa yang sepertinya sedikit ketakutan. "Kamu gak usah khawatir sama sekali. Karena Aqilla beneran baik ko. Dan tadi saya udah bilang kan di awal? kalau Aqilla ini orang yang paling waras di keluarganya."
Annisa mengangguk, walaupun masih sedikit takut.
"Nah ... nanti pas di rumah saya kasih tau foto mereka deh. Biar kamu nggak kaget."
__ADS_1
"Iya mas ..."