Istri Dadakan

Istri Dadakan
Keputusan Bram


__ADS_3

Annisa menarik napas perlahan.


"Sebenarnya ada hal yang buat aku sedih sekaligus kecewa, tapi aku belum bisa cerita sama ibu," aku Annisa berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Dan Annisa rasa ... aku bakal lebih tenang kalau liburan. Enggak, aku mau pergi ke mana aja. Tapi jangan ada yang ikut. Aku mau sendiri."


Mom Chika mengusap pipi Annisa. Menatap wajah yang keliatan habis menangis itu.


"Kamu lagi ada masalah? ya ampun ... kok mom baru sadar kalau wajah kamu sembab banget. Siapa? siapa yang udah buat kamu sedih. Bilang sini sama mom. Jangan pendem sendiri. Cerita sama mom."


Annisa menolak.


"Aku belum bisa cerita sama mom. Kalau nanti masalah nya udah agak mendingan. Insya Allah aku bakalan cerita sama mom. Tapi buat sekarang, aku masih belum bisa cerita. Maaf banget ya mom. Tapi jujur aja aku mau sendirian. Aku—


Annisa kembali menangis. Ia menarik napas dan menghembuskannya asal.


"Aku mau sendiri ..."


Mom Chika hanya memeluk menantunya saja, tanpa bertanya apa-apa lagi. "Iya ... biar mom yang cerita sama Bram ya. Udah kamu masuk aja ke kamar dan istirahat. Biar mom yang ngomong sama suami kamu."


***


"Mommy nggak tau, tapi kayaknya istri kamu itu beneran ada masalah. Jangan ditanya dulu," seru mom. Chika saat anaknya mau mendatangi Annisa yang masih berdiam di kamar sedari tadi. "Dia masih rapuh banget. Tapi apa pun yang sedang di alami istri kamu itu. Dia lagi nggak baik baik aja. Gimana kamu wujudin aja kemauan dia? dia mau liburan tuh ... kamu izinin dia buat pulang ke rumahnya dulu aja. Siapa tau dia memang kangen sama kenangan almarhum kakaknya kan?"


Bram kembali duduk dengan pikiran yang benar-benar bingung.


Teringat lagi sikap aneh istrinya saat tadi pagi.


Bram merasa Annisa nggak mungkin melakukan seperti ini kalau tidak ada sebab sama sekali. Jadi, dirinya merasa ada sesuatu yang memang terjadi di sini dan Bram harus mencari tau apa yang terjadi pada istrinya itu.


"Mom ..."


"Iya?" balas mommy Chika dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Bram lagi sibuk banget, mom tau sendiri kan banyak yang harus diurus sama Bram. Bram juga nggak bisa temuin Annisa. Takutnya malah lepas kendali dan marah sama dia. Mom tau sendiri kan kalau Bram emosional. Takutnya pas Annisa diem aja kalau Bram tanya. Gimana kalau nanti Bram malah nggak sengaja bentak dia lagi."


Mommy Chika menarik napas pelan.


Paham sama sikap buruk anaknya.


"Terus kamu mau mommy melakukan apa? karena mom sungguh khawatir sama istri kamu itu."


Mommy Chika memandang kamar utama dari tempat mereka duduk saat ini. Ia menggeleng kecil. Bingung harus melakukan apa.


"Kalau kita izinin istri kamu itu pergi ke kampungnya. Gimana dengan Rama? anak kamu itu bakal kasih izin? soalnya ini pertama kalinya Annisa ninggalin kalian kan? dan kamu juga bolehin Annisa buat pergi gitu aja?"


Bram memiringkan kepala, bingung juga harus melakukan apa.


Bram mengaku kalau selama ini dia sudah terbiasa di perlakuan baik sama Annisa sampai dirinya nggak bisa mengurus dirinya sendiri.


"Tapi ... menurut mom gimana?" tanya Bram balik.


"Ah iya ... Sakilla."


Mommy Chika langsung memandang sebal pada anaknya itu.


"Jujur aja dari awal mom nggak suka dengerin rencana kamu yang mau nemuin antara Rama sama Sakilla ya. Apa lagi di sini kondisinya diam-diam. Mom nggak tahu harus apa kalau nanti istri kamu sampai tau masalah ini. Yang ada dia pasti kecewa banget sama kamu."


"Bram beneran nggak tega sama Sakilla, bu. Dia sampai bersujud gitu biar ketemu sama Rama dan Rama juga mau banget ketemu sama Sakilla. Jadi, wajar kalau Bram mau temuin aja mereka. Toh, Sakilla janji kalau nanti terakhir kali nya ketemu sama Rama dan nggak akan ganggu sama sekali. Jadi, dari pada malah buat masalah. Mendingan Bram kasih izin aja kan?"


"Ya tapi ... jangan sampai bohongin istri kamu kayak gitu," papar mom Chika sambil menghela napas. "Semoga aja deh istri kamu nggak tau masalah ini. Mom beneran nggak akan ikut campur. Kasihan istri kamu. Kalau tahu suami dan anak nya udah bohong kayak gitu. Pasti dia kecewa banget."


"Ih mom jangan ngomong kayak gitu dong," papar Bram yang jadi tidak enak.


Mommy Chika mendengus.

__ADS_1


"Makanya sebelum ngelakuin apa-apa tuh ya mikir dulu. Bukannya malah lakuin kayak gitu. Kecewa berat pasti istri kamu yang tau masalah ini nantinya."


"..."


"Ya sudah lah ... kalau ini keputusan kamu, mom juga bisa apa? kalau begitu, kamu izinkan aja istri kamu itu untuk pergi ke Kampungnya. Nanti kamu bisa langsung urusin masalah kamu itu. Jadi, selama Annisa di kampung. Kamu bisa urus sisa masalah di sini. Biar minim juga Annisa tau masalah ini. Karena mom sungguh nggak mau istri kamu sampai tau masalah ini dan pernikahan kamu jadi hancur karena ini."


"Mom," rengek Bram. "Jangan do'akan kayak gitu."


Mommy Chika menatap anaknya dengan sangat serius.


"Sekarang silahkan kamu urus, karena mom nggak mau kalau istri kamu itu sampai tahu. Urus masalah mantan istri kamu dan selesaikan secepatnya."


Mommy Chika meninggalkan Bram yang pusing sendiri.


Laki-laki itu memijat kepalanya, sungguh pusing atas masalah yang dia buat sendiri.


"Semoga aja Annisa nggak tau deh," harap Bram dalam hati. "Aku juga bakalan simpen semuanya rapat rapai, biar Annisa nggak tau."


Dipandangnya kamar utama yang pintunya tertutup.


"Maaf ya Annisa ... bukannya mas mau jahat sama kamu. Tapi ini yang terbaik untuk kita. Mas nggak mau kamu sakit hati. Maaf juga karena mas udah bohongin kamu. Mas janji ini yahh terakhir kalinya."


Kini,


Bram dengan pemikirannya yang nggak akan pernah Annisa pahami, nyatanya sudah menyakiti perempuan itu. Berniat untuk membuat Annisa tidak kepikiran malah membuat Annisa semakin sakit hati karena pilihannya.


Sedangkan, di kamar atas.


Dengan air mata yang sudah mengering di pelupuk mata. Annisa mengeluarkan beberapa baju dari dalam lemari dan memasukkan ke dalam tas besar.


Disela kegiatannya, Annisa menghembuskan napas kasar. "Ya Allah ... lapangkan hati hamba."

__ADS_1


__ADS_2