
“Mamah.”
Rama menarik ujung baju Annisa membuat perempuan itu menoleh dan langsung berlutut lalu menangkup pipi Rama.
“Oh iya ... maaf ya tadi mamah lepas kendali dan malah marah sama kamu. Padahal nggak seharusnya mamah bentaj-bentak kayak tadi. Pasti kamu takut ya kalau mamah kayak tadi ..."
Grep!
Annisa terkejut saat Rama malah memeluknya, yang awalnya bingung kini Annisa merasakan kehangatan yang diberikan sang anak. Ia membalas pelukan, menumpahkan semua kesedihan yang membelenggu hatinya.
Tak ada yang berbicara sama sekali.
Sang anak juga sadar akan kesedihan mamah sambungnya itu dan ia memilih diam, ketimbang membuat mamahnya jadi sedih lagi. Keduanya sama-sama mengerti akan hati dan perasaan satu sama lain.
"Nak ... maafin mamah ya," ucap Annisa setelah merasa hatinya jauh lebih baik. Dia melepas pelukan dan menatap wajah Rama yang kelihatan bingung itu.
"No ... mamah nggak salah apa-apa. Jadi, mamah nggak perlu minta maaf kayak gitu. Aku cuma mau mamah nggak sedih aja!" pinta Rama sambil memandang wajah cantik Annisa. "Jadi, mamah jangan pernah nangis lagi ya. Aku beneran nggak suka banget. Aku lebih suka ngelihat mamah yang senyum bukan yang sedih kayak gini."
__ADS_1
Annisa merengut dan menunduk.
"Dengar kan apa kata anak kamu?" sambung Bram yang mendatangi mereka sambil mengusap rambut Annisa dan Rama secara bersamaan. "Jangan sedih lagi, tapi mas gak bisa larang kamu nangis juga karena mas paham akan perasaan sedih kamu. Tapi di sini mas mau, kamu berbagi kesedihan. Jangan simpan semuanya sendiri kayak gini."
Annisa mengangguk.
"Maaf ya mas, nak .."
Bram berlutut dan meminta Rama untuk masuk ke dalam mobil dulu menemui orang tuanya itu. Walaupun sempat protes karena Rama mah bersama dengan Annisa, akhirnya setelah negosiasi Rama menurut dan masuk ke dalam mobil juga membuat Annisa memukul pelan lengan suaminya itu.
Bram terkekeh sembari mengusap tengkuknya.
"Ada yang mas mau omongin sama kamu, jadi Rama nggak bisa dengar. Kasihan juga dia kalau dengerin masalah ini dan buat di terpuruk lagi. Makanya aku nyuruh Rama buat masuk ke dalam mobil dulu."
Annisa sadar kalau suaminya kini memasang wajah serius lagi. Annisa memiringkan kepalanya.
"Ada masalah mas?"
__ADS_1
Bram menghela napas.
"Mas?" panggil Annisa saat suaminya itu malah memeluk dirinya membuat Annisa bingung dan membalas pelukan dengan penuh tanda tanya yang ada di benak perempuan itu. "Ada apa? kamu ada masalah?"
"Kamu siap kalau ketemu sama Sakilla?" tanya Bram dengan suara sangat pelan.
"Hah?" Annisa melepas pelukan dan menatap suaminya itu. "Mbak Sakilla? mantan istri kamu itu? kita bisa ketemu dia? apa gimana? kamu nggak bohong sama sekali kan?" seru Annisa dengan sangat cepat.
Bram menggeleng.
"Kapan kita bisa ketemu sama mantan istri kamu itu?" tanya Annisa lagi membuat Bram jadi bingung sendiri.
"Kenapa kamu excited buat ketemu sama Sakilla? memang nya kamu nggak takut? mau bagaimana pun sumber masalah kita berdua kan ada di dia. Makanya mas agak takut pas ngomong sama kamu. Tapi ternyata respon kamu itu kayak gini. Mas jadi bingung."
Annisa tersenyum tipis.
"Aku mau ketemu sama orang yang sempat buat kakak aku bahagia. Hanya itu saja. Nggak lebih."
__ADS_1