
Bram langsung berjalan memutar dan membukakan pintu untuk istrinya. Bram mengulurkan tangan untuk menjadi topangan tubuh sang istri. Annisa balik menggenggam tangan Bram dan tersenyum tipis. Keduanya memasuki restoran mewah yang begitu megah dengan perasaan berbunga.
Sesekali tak luput Bram akan meremat pinggul Annisa, mengajak wanitanya bercanda hingga mereka tiba di lorong kecil yang menghubungkan dengan sebuah taman yang dipenuhi lampu hias yang begitu indah. Jalan setapak dipenuhi kelopak bunga.
“Mas?” panggil Annisa pelan. “Ini kamu semua yang ngerjain?” tanya Annisa memandang puas ke seluruh tempat ini
Bram mengangguk.
“Mas menyewa semuanya untuk kamu, gimana? Suka nggak?” tanya Bram. “Mas belum tau apa aja yang kamu suka, jadi mas milih opsi yang paling banyak disukain pasangan dan rstoran ini ngasih opsi yang ini. Gimana? Kamu suka?”
Annisa mengangguk, “asal sama kamu, aku suka ...”
Bram tersenyum senang, “bukan ini aja dong, ayuk kita masuk ke dalem dan kamu pasti nemuin apa aja yang udah mas siapin buat kamu.”
__ADS_1
Dengan sedikit tidak enak, Annisa menginjak kelopak bunga itu. Mereka terus menelusuri berbagai tanaman indah sampai jalanan ini berhenti tepat di depan sebuah saung yang dihias begitu indah.
Dikelilingi lilin indah membuat saung tersebut begitu bersinar. Remang-remang yang sangat menyenangkan. Di tengah saung ada meja kecil, membuat saung itu terlihat begitu elegan.
Meja kecil yang ditengahnya ada lilin aroma terapi yang begitu Annisa masuk ke dalam langsung menghirup aroma menenangkan.
"Mas ..."
"Gimana?" tanya Bram sambil melihat seluruh saung, karena ini pertama kalinya dia melihat ini juga. "Bagus nggak? mas beneran nggak tahu apa yang kamu suka dan menurut mas ini udah cukup romantis. Tapi, kalau menurut kamu kurang. Kita cari restoran yang sesuai style kamu. Karena yang jadi tokoh utamanya malam ini tuh kamu, bukan mas."
"Ini aja udah cukup mas," seru Annisa dengan cepat sambil tersenyum tipis. "Kan aku udah bilang dari awal, asal ada kamu aja tuh udah seneng. Mau makan di belakang rumah juga aku udah seneng. Kalau kamu yang ngelakuin."
Hati laki-laki itu ikut berdegup kencang mendengar suara lembut istrinya. Ah, Bram tidak tahu kenapa dirinya sangat mencintai Annisa. Tidak ada kejadian spesial, tapi dia benar-benar mencintai istrinya itu.
__ADS_1
"Mas?" panggil Annisa sambil melambaikan tangan di depan wajah Bram. "Kenapa ngelamun?" serunya lalu menoleh ke sembarang arah seiring dirinya yang memeluk tubuhnya sendiri. Sedikit bergidik. "Ini samping kita cuma pohon doang loh mas. Jangan ngelamun gitu ih, aku jadi agak takut," bisiknya pelan.
Bram spontan tertawa lepas membuat Annisa semakin melangkah mundur. Annisa menatap takut-takut pada suaminya itu.
"Mas?" ucapnya sedikit gemetar
Bram tertawa lagi sambil menghampiri Annisa dan merangkulnya, "nggak ada yang kesurupan kalau itu yang kamu takutin," ujar Bram lalu menggiring Annisa untuk duduk di salah satu sisi, lalu Bram beranjak ke depan Annisa dan duduk di sana.
"Jangan bercanda lagi ya, soalnya ada hal serius yang mau mas katakan sama kamu."
"Nggak ada yang bercanda juga dari tadi," gumam Annisa pelan. "Udah tadi kata kamu apa? mau ngomong serius apa?"
Bram merogoh kantung celananya dan mengeluarkan kotak berwarna merah. Ia membukanya perlahan memperlihatkan cincin berlian yang begitu indah.
__ADS_1
"Izinkan mas untuk bersanding hidup sama kamu. Detik ini dan selamanya."