Istri Dadakan

Istri Dadakan
Annisa dan Kesalahannya


__ADS_3

Emosinya yang akhir-akhir ini tak stabil mampu membuat Annisa juga terkejut dengan teriakannya yang tiba-tiba. Dia menoleh pada Rama yang juga menatap kaget pada dirinya. Terselip rasa bersalah di hati perempuan itu, tapi entah kenapa egonya masih terlalu tinggi dan ia enggan untuk sekedar minta maaf dan malah berbalik.


"Tinggal mandi apa susahnya. Padahal mamah udah bangunin baik-baik dari tadi. Tapi kamunya malah males gitu. Padahal kamu yang tidur paling pertama, tapi sekarang malah bangun paling akhir. Apa kurang waktu tidur kamu?"


Rama tersentak dan tertawa kecil.


"Tidur paling pertama?" tanya Rama dengan tak yakin.


Annisa berdeham. "Memang begitu kan? mamah lihat sendiri kamu yang tidur duluan. Mamah gak salah kan?"


Rama mendelik.


"Mamah yang nggak ngerti! mamah kan gak sadar kalau aku kebangun pas mamah keluar kamar. Mamah juga gak tau kan kalau aku nungguin mamah di depan pintu kamar sambil terus lihatin mamah dari atas. Karena khawatir, karena aku gak mau mamah ke napa-napa di bawah!"

__ADS_1


Annisa terhenyak.


"Aku khawatir sama mamah, tapi tahu kalau mamah bakal marah kalau Rama turun ke bawah. Aku terus nunggu mamah! sampai mamah tidur! Aku yang kasih mamah selimut. Aku nungguin mamah. Sampai ayah datang! tapi aku udah gak ada tenaga lagi buat datang ke ayah, buat marah sama ayah. Aku milih buat tidur."


Napas Rama memburu.


"Mamah gak tau kan? mamah yang tidur duluan. Wajar dong kalau sekarang aku tidur. Kenapa mamah malah marah, padahal tinggal bangunin Rama aja. Aku pusing mah kalau belum tidur lama."


Perasaan bersalah mulai menyelimuti hati Annisa. Ia melirik sang anak yang sudah turun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi.


"Duh ... kenapa aku kelepasan marah gini sih!" seru Annisa sambil beranjak keluar. "Duh ya ampun, gimana ini? gimana kalau Rama marah sama aku!" Annisa memukul kepalanya berulang kali.


"Mas Bram," panggil Annisa mendatangi suaminya dengan wajah memelas, "mas," panggil Annisa lagi dengan suara yang semakin mendayu. "Kayaknya aku buat kesalahan deh mas," gunam Annisa dengan perasaan bersalah semakin besar.

__ADS_1


"Kenapa nih?" Bram mengusap keringat yang turun di pelipis sang istri. "Tadi mas denger ada yang banting pintu? siapa itu? kamu?" tanya Bram.


Dengan lemah Annisa menggeleng.


Ia menceritakan masalah tadi dengan suara tertahan. "Mas, ya ampun ... gak tau kenapa mood aku dari tadi sebenarnya agak gak enak. Tapi kenapa malah lampiasin ke Rama. Ini gimana kalau Rama marah banget sama aku. Gimana kalau nanti Rama diemin aku terus. Duh mas, aku takut ..."


"Ya ampun, gak biasanya kamu kayak gini." Bram memutar otak memikirkan harus menjawab seperti apa.


Maklum, ini pertama kalinya ia berada di kejadian seperti ini. Jadi dirinya masih gak tau harus melakukan apa. Otaknya dengan cepat memutar otak.


"Ya udah sekarang mas ke atas dulu deh. Sekalian manggil Rama buat sarapan bareng. Ini makanan udah selesai, kalau mas minta tolong buat bikin minuman bisa ga?"


Annisa mengangguk dengan cepat. "Bisa kok mas!"

__ADS_1


Annisa mengeratkan pegangan tangan pada suaminya itu. "Tolong bilang ke Rama kalau aku minta maaf ya mas. Aku mohon ..."


"Iya sayang, kamu tunggu di sini aja dan terima beres."


__ADS_2