Istri Dadakan

Istri Dadakan
Perlindungan


__ADS_3

Ternyata mentalnya tidak sekuat yang dikira, baru ditatap tajam sama resepsionis, Annisa sudah gemetar bukan main. Annisa ingat sekali kalau dulu penampilan dia saat pertama kali datang ke mari sangat berbeda dengan sekarang. Jadi, wajar kalau resepsionis tidak mengenali dirinya.


Ia menunduk.


"Cari siapa?" tanyanya judes


"Ada mas Bram," balas Annisa canggung


Resepsionis perempuan yang tadi meladeni Annisa langsung menoleh pada temannya lalu tertawa kencang. Membuat Annisa spontan menatap dirinya, apa ada yang salah dengan dirinya atau tidak. Sampai menjadi pusat tertawa orang lain.


Dengan sedikit terpaksa, Annisa mengetuk meja meminta perhatian dari resepsionis itu.


"Mbak maaf ... ada mas Bram? soalnya saya mau antar makan siang. Bentar lagi jam makan siang kan. Jadi, tolong kasih tahu saya ruangan mas Bram."


Kalau saja Annisa ingat lantai ruangan Bram, dia nggak akan nanya ke resepsionis lebih dulu. Perempuan itu sungguh tak tahan melihat mereka yang malah saling tatap dan semakin tertawa lepas.


"Oalah ... cuma pembantunya toh, tapi gaya bener datang ke sini. Pakai baju merek mahal."

__ADS_1


Yang lainnya mengangguk. "Beli di pasar malem itu mah. Non bermerek. Biasa ... pembantu sok kegatelan mau narik perhatian tuan Bram. Padahal tuan Bram lebih suka sama yang kayak kita."


"Maksud mbak apa ya?" tanya Annisa menantang, tidak suka diremehkan seperti tadi.


"Loh, masih nanya lagi?" tanya resepsionis itu sambil berdiri dan menyandarkan lengannya ke meja tinggi resepsionis. "Kami ngomong begini, biar kamu sadar kalau tuan Bram nggak akan tergoda sama kamu. Udah .... bawa pulang sana bekalnya, biar saya yang beliin tuan Bram makanan."


Annisa menaruh kotak bekalnya di atas meja dan menatap nyalang.


"Kamu siapa bisa nyuruh saya begitu?" marah Annisa membuat beberapa orang yang berlalu lalang di sana langsung menoleh. "Tinggal sebutin lantai berapa ruangan tuan Bram saja kok susah ..."


Resepsionis itu malah tertawa semakin meremehkan.


Annisa menggeleng bingung.


"Mbak ... saya dari tadi nanya baik-baik loh, tapi mbak langsung jawab dengan sewot. Terus sekarang malah nuduh saya pembantunya mas Bram. Mbak waras?" tanya Annisa memberanikan diri sembari sesekali melirik ke segala arah, berusaha mencari keberadaan suaminya. Karena sungguh dia tidak tahan di sini.


"Oh ... baik-baik aja dong, memangnya kamu yang nggak waras? sampai manggil tuan besar dengan mas. Nggak ada adab kamu. Eh tapi kan pembantu sekarang kebanyakan tidak tahu diri ya HAHAHA."

__ADS_1


"Saya istrinya!" aku Annisa membuat mereka tertawa lagi sampai terbatuk-batuk.


"Bentukan kayak gini halu jadi istrinya tuan Bram?" ledeknya, "ngaca mbak ... mbak siapa? jauh banget sama almarhum istrinya tuan Bram. Bagaikan langit dan bumi. Jadi, nggak usah halu gitu deh. Malu ... lu ada di sampingnya aja nggak pantas sama sekali!"


Degh!


Annisa terdiam dan menunduk. Insecure yang selama ini udah berusaha ia tahan kini datang kembali.


"Hahaha baru di omongin gitu aja langsung kalah kan? lagian berani-beraninya ngaku istri. Idih, nggak tahu malu banget sih ..."


"Dan apa ini?" tanya teman resepsionis itu sambil menunjuk kotak bekal di mejanya. "Idih ... buang aja." Dengan santainya ia mendorong kotak bekal hingga isinya berhamburan ke lantai.


Annisa memandang nanar, perasaan sedihnya berbanding terbalik dengan tawa mereka. Perlahan tubuh Annisa luruh ke lantai dan dengan perasaan campur aduk, ia memasukkan lauk dan nasi yang berhamburan ke lantai.


Orang hanya menatapnya jijik tanpa ada yang berniat sama sekali.


Hingga suara denting lift yang disusul pintu terbuka menampilkan seorang laki-laki yang selama ini ditunggu sama Annisa.

__ADS_1


"APA-APAAN INI?!" serunya tegas membuat semua orang langsung menoleh dan menatap Bram yang kelihatan sangat marah.


Annisa mendongak dan hanya bisa menatap sendu Bram. Tangisan yang dari tadi ditahannya kini mulai luruh juga, "mas ...," ucapnya dengan suara serak.


__ADS_2