
Mo Fei Tian dan juga Xi Lilian, mereka berdua tidak pernah berpikir sampai sejauh ini.
Jika saja mereka tahu, kalau semua keluarga Xi Lilian akan benar-benar bertekuk lutut dan bersumpah di hadapan mereka maka mereka akan melarang mereka semua sedari awal.
Bukannya Mo Fei Tian dan juga Xi Lilian tidak senang akan hal itu. Tetapi mereka berdua tidak ingin membebani keluarganya.
“Bagaimana bisa Kakek, Nenek, Paman dan Bibi semuanya melakukan hal seperti ini. Semua ini benar-benar tidak seharusnya kalian semua lakukan,” kata Xi Lilian tanpa daya.
“Apa yang kau katakan itu nak? Tentu saja kami semua harus melakukan ini Nak, bahkan seluruh keturunan kalian kelak semua kelak. Karena kami merasa sangat berhutang budi kepada kalian.” Balas Kaisar Xi Zhao Tian tegas.
“Apa yang kakek kalian katakan memanglah benar sayang, bagaimana mungkin kami semua hanya diam saja ketika kami sendiri mengetahui jika Yang Mulia Kaisar Dewa telah memberkati Keluarga kami dengan anugerah yang begitu besar bagi kami,” kata Permaisuri Shi Yi Lan untuk meyakinkan cucunya.
“Lagi pula kami tidak pernah keberatan akan semua ini Lian'er, jadi jangan pernah berpikir jika kami merasa terbebani karena melakukan ini,”tambah Pangeran Mahkota Xi Mo Han
“Baiklah kami mengerti, dan terima kasih untuk semuanya, Lian'er bener-bener menyayangi kalian semua.” Balas Xi Lilian.
“Sepertinya hari sudah mulai larut lebih baik kita semua segera kembali ketempat masing-masing. Jika tidak maka penjaga gerbang itu paviliun itu akan merasa curiga jika disaat-saat seperti ini kalian masih saja berbincang disini.” Kata Mo Fei Tian mengingatkan jika mereka telah lama berada disana.
“Apa yang A Tian katakan memang benar, kita berada disini sudah lebih dari beberapa dupa terbakar dan sekarang juga sudah waktunya kalian untuk bersiap untuk jamuan makan malam bersama. Kami akan pergi dulu, kita dapat berjumpa dilain waktu,” kata Xi Lilian.
“Baiklah kalian kembali saja Kakek akan kabari kalian jika kami telah menemukan bahan yang kurang itu,” kata Kaisar Xi Zhao Tian.
Setelah itu mereka semua kembali ke temapt mereka masing-masing, tanpa meninggalkan kecurigaan apapun bagi para pengawal kekaisaran yang menjaga di gerbang Paviliun mereka.
Saat ini Xi Lilian yang telah kambali ke Kediaman Funrong bersama Shen Yu Lin dan juga Xin Mu Ren.
__ADS_1
Kini meraka juga langsung menuju Aula perjamuan makan. Dan disana juga telah dihidangkan makanan kesukan mereka oleh para pelayan kediaman yang telah Xi Lilian anjarkan sesuai resep darinya.
“Gege, Lian’er sudah selesai makan , aku kembali ke paviliun trrlebih dahulu. Kalian lanjukan makan kalian saja. See you, good night,” kata Xi Lilian berpamitan.
“Baiklah, istirahat lah Lian’er seharian ini kau telah bekerja keras,” balas Shen Yu Lin yang sudah mulai mengerti akan kebiasaan sang adik kecilnya itu.
Sedangkan Xin Mu Ren yang benar-benar paham akan sifat dan watak dari Xi Lilian, Ia tau bahwa saat ini ada yang sedang Xi Lilian pikirkan dan akan mengerjakan sesuatu.
Maka dirinya hanya memberikan senyuman dan juga anggukan kepala terhadap Xi Lilian.
Saat ini Xi Lilian yang telah berada di kamarnya, tak tunggu lama lagi akhirnya Xi Lilian masuk ke dimensi bintangnya. Karena Xi Lilian saat makan tadi telah mendapat telepati dari Wu Juan.
...****************...
Dan Sang Jendral Shen mengetaui jika kedua Putra dan Putri sah nya tak ada di sana.
Ia pun menanyakan pada yang lainnya apakah ada yang melihat atau mengetahui keberadaan keduanya.
“Apakah diantara kalian ada yang tau dimana keberadaan Lin’er dan juga Lian’er? Mengapa Mengapa mereka tidak hadir saat makan malam?
“Menjawab Tuan ku, bukankah selama ini Lian’er memang tidak pernah diizinkan untuk ikut makan bersama kita, dan untuk Lin’er kemungkinan besar akan menemani Lian'er makan di pondoknya,” jawab Selir Duan dengan tenang.
Ketika Sang Jendral Shen mendengar jawaban itu, Ia tersadar jika selama ini dialah orang yang paling membenci putri kandungnya itu.
Kini dirinya menyesal pun tak ada gunanya. Karena hubungannya dengan kedua anak sah nya itu benar-benar telah renggang dan juga jauh.
__ADS_1
Bahkan sedari kemarin dia belum bisa menemui kedua anak-anaknya itu. Entah mengapa seolah-olah mereka berdua putra dan putrinya itu memang menghindari untuk bertemu dengannya.
“Kalian lanjutkan saja makan kalian aku akan kembali dulu,” kata Jendral Besar Shen psda Anggota Keluarga Shen yang lainnya.
Yang kemudian ingin berbalik meninggalkan aula perjamuan itu. Akan tetapi, bahkan sebelum Sang Jendral Shen sempat untuk melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja terdengar lagi suara yang mengintrupsi dirinya.
Yang membuatnya harus tertahan lebih lama lagi diruangan itu yang sudah mulai gaduh dengan bisikan yang lainnya.
“ Tapi mengapa? Mengapa Ayahanda harus memedulikan mereka? Mereka sendiri yang tidak ingin makan bersama dengan kita. Kenapa Ayah harus memikirkannya?Lagi pula masih ada kami anak-anak Ayahanda juga. Lagipula tanpa Gege Yu Lin dan gadis sampah itu biasanya juga kami semua bisa makan dengan tenang dan juga nyaman," tanya Shen Sie Mei.
Semua orang yang ada di Aula makan tercengang mendengar itu. Sehingga banyak dari mereka mengalihkan pandangan matanya pada Shen Sie Mei. Tak terkecuali Sang Jendral Shen sendiri.
“Benar-benar tak tahu diri,” batin para tetua dan juga keluarga Jendral Shen yang lainnya.
“Dasar anak bodoh, kenapa omongannya itu tidak bisa disaring. Kalau sampai Jendral Shen marah pasti gawat urusannya,” ucap Selir Duan dalam hati.
“Kau apa baru saja yang kau katakan? Beraninya kau berbicara lancang seperti itu,” kata Jendral Shen dengan lantang karena amarahnya telah terpancing.
“Dan aku benar-benar tak menyangka bahwa selama ini kelakuan dan juga perkataan seorang Nona Muda dari Kediaman Bangsawan seperti mu bahkan jauh lebih rendah jika dibandingkan mereka para rakyat miskin. Bahkan mereka lebih bisa menghargai kebaradaan sebuah keluarga. Tidak seperti ini. Oh atau mungkin ini semua adalah hasil didikan dari ibumu yang berasal dari kalangan budak rendahan ini hah?” lanjut Sang Jendral Besar Shen meluapkan emosi nya.
“Ayahanda, kenapa? Memangya ada yang salah dengan kata-kata ku tadi? Kami juga merupakakan anak-anak Ayahanda. Lagi pula sejak kapan Ayahanda berubah menjadi lebih perhatian pada mereka, terutama ****** kecil itu yang jelas-jelas hanya seorang pembawa sial, bahkan dia yang menjadi penyebab kematian Bibi Nian, ibu kandungnya sendiri karena harus melahirkan dirinya. Jadi untuk apa lagi ayahan.....”
“PLAAKKK.....!”
“Aaaaahhhhh.....!!”
__ADS_1