Kembali Untuk Menjemput Takdir

Kembali Untuk Menjemput Takdir
Bab. 163


__ADS_3

Berpikir jauh hingga ke sana, dan pada akhirnya itu membuat Sang Jenderal Shen Guo Feng kembali menyalahkan dirinya sendiri, yang tidak becus menjada putra dan putri kandungnya itu. Dan membuat mereka jauh dan juga sangat membenci dirinya yang merupakan Ayah kandung mereka berdua.


Xi Lilian yang mengetahui apa yang tengah dipikirkan oleh Sang Jenderal Shen Guo Feng, kini ia merasakan betapa ironi yang dialami oleh Sang Ayah.


Namun Ia tetap bertingkah biasa dan bahkan diam saja tak ingin memperlihatkan perasaan apapun mengenai apa yang dialami maupun yang dirasakan oleh Sang Jendral Shen Guo Feng.


Karena sejatinya, kini hati Xi Lilian telah melampaui apa yang telah dikatakan dengan mati rasa terhadap sosok pria paruh baya yang notabene nya adalah Ayah kandungnya sendiri.


Namun berkat pesan terakhir jiwa Sang Ibu lah yang membuatnya mau tak mau harus mempertimbangkan keberadaan dan perasaan Sang Ayah yang sangat tidak kompeten dan kejam itu.


Sedangkan Shen Yu Lin dan juga Shen Ming An, yang tidak mengetahui apapun mengenai apa yang dirasakan oleh ayahanda mereka.


Sehingga mereka bahkan tidak pernah berpikir untuk memperhatikan bagaimanakah perasaan dan juga reaksi Sang Ayah.


Bahkan saat ini Shen Ming An, masih berusaha untuk memberikan umpan ataupun kata-kata provokatif untuk menyerang akal dan perasaan kedua saudara yang berbeda Ibu itu.


Karena setelah Ia mendengar tanggapan dari Shen Yu Lin tadi tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya menjadi sangat marah dan sekaligus rasa iri dan dengki mulai merayap dam memenuhi hatinya.


Dan itu justru membuat Shen Ming An menjadi lebih terpicu untuk membuat kedua saudaranya itu terpancing oleh amarah dan akhirnya Ia bisa memojokkan merek pada situasi yang sulit bagi mereka tangani.


Sehingga mereka berdua menerima hukuman yang layak dari Sang Ayah.


"Syukurlah jika kedua saudara baik-baik saja dan bisa tinggal dengan nyaman, di luar Kediaman Jenderal ini. Akan tetapi setidaknya kedua saudara memikirkan untuk meminta izin atau setidaknya memberikan kabar kepada Ayahanda. Agar Ayah tidak khawatir dan kebingungan untuk mencari keberadaan kalian. Biar bagaimanapun Gege dan juga Meimei sebagai junior sekaligus anak, kalian harus berbakti dan menghormati keberadaan Ayah kita sebagi seorang Tetua dan juga Kepala Keluarga kami."


"Tsk..tsk..tsk.... Saudara Ming An ini memang tahu banyak bagaimana caranya untuk melawak. Aku sungguh sangat terkesan dibuat olehnya." tawa Shen Yu Lin dan kemudian berucap dengan penuh ironi di setiap ucapannya.


Dan tak mau menanggapi orang bodoh didepannya ini lebih jauh lagi. Karena hal ini benar-benar membuang-buang waktu. Dan selain itu juga menghabiskan tenaga untuk bisa membuat orang dihadapannya itu untuk paham.

__ADS_1


Namun Sang Jenderal yang mendengar nada sindiran yang penuh ironi yang dilayangkan oleh Putra Sulung nya itu benar-benar paham.


Bahkan sekali lagi ia merasa dipukul dengan sangat kuat oleh kenyataan yang sangat pahit untuk ditelan dan diterima begitu saja, tanpa berinisiatif untuk mengambil kembalian yang setimpal dengan apa yang mereka bayar di muka.


Bagaimana mungkin dia seorang yang merupakan dalang utama tragedi itu tidak tahu maksud dari kata-kata Putra Sulung nya itu.


Bahkan selama ini dia sendiri dan juga seluruh Keluarga Besar Shen miliknya tidak pernah menganggap mereka itu sebagai Anak, bahkan hanya sekedar kerabat saja tidak.


Jangankan untuk merasakan seluruh kenyamanan dan kebahagiaan hidup sebagai Tuan Muda dan Nona Muda Resmi dari Kediaman Jenderal Shen. Bahkan kedua Kakak beradik itu selalu saja di incar untuk dilenyapkan. Oleh orang-orang yang kini mengaku sebagai saudara dan juga kerabat.


Bahkan yang lebih miris lagi, pada kenyataan dirinya yang merupakan Ayah kandung mereka, bahkan pernah menyerah dengan kasih sayangnya untuk kedua keturunan resminya dari istrinya yang paling Ia cintai itu. Karena telah merasa hancur yang disebabkan oleh kematian sang istri yang membuat hati dipenuhi oleh dendam dan juga hasutan para wanita keji yang Ia rawat selama ini. Yang membuanya menjadi semakin dingin dan kejam terhadap kedua putra dan putrinya itu


Sehingga dirinya pernah memiliki pikiran buruk untuk melenyapkan Kedua buah hatinya itu begitu saja, dengan mengirim pembunuh bayaran untuk menyingkirkan keduanya ketika masih balita.


Dan kini Ia sungguh merasa beruntung, karena hal itu tidak pernah berhasil. Jika tidak bagaimana mungkin dirinya akan menanggung penyesalan dan juga rasa bersalah yang jauh lebih parah lagi dari apa yang dirinya rasakan selama ini.


"Jadi hak Apa yang aku miliki untuk mengatur kehidupan mereka berdua, seperti yang mereka katakan waktu itu, Aku hanya memiliki andil dalam kesenangan ketika melahirkan mereka. Tapi tidak pernah benar-benar memberikan kehidupan selayaknya seorang Ayah yang sesungguhnya. Bahkan saat ini aku sangat malu ketika aku harus meminta mereka untuk memanggil diriku ini dengan sebutan Ayah, dan lebih jauh lagi aku benar-benar tidak memiliki hak apapun atas kehidupan dan masa depan mereka berdua, setelah dari apa yang ia perbuat selama ini. Jadi hak apa yang aku miliki untuk menuntut mereka untuk berbakti kepada Ku dan semua orang di kediaman ini. Terkecuali Adik keempat Shen Gong Fu, yang selalu penuh kasih dan peduli terhadap kedua keturunan ku yang ku buang itu. Aku bahkan sangat iri ketika memikirkan hal itu. Dan aku sangat, sangat menyesalinya sekarang. Dan peyesalan ini benar-benar menyakitkan dan sangat menyiksa ku hinga ke tulang dan jiwa ku. Mungkinkah Aku masih pantas untuk memohon dan meminta kata maaf bisa keluar dari hati nurani putra dan putri ku itu??! Ini sungguh pahit, dan sakit bahkan hati nurani ku lebih menderita karenanya. Ya Dewa bolehkah aku egois, dan memohon pada kalian agar kedua anak ku mau dan rela memaafkan aku tulus dari lubuk hati mereka??" batin Jenderal Shen Guo Feng dengan sungguh-sungguh memohon dalam hatinya hingga Ia memejamkan kedua matanya dan segera air mata berlinang dari kedua kelopak matanya yang sayu itu.


Meskipun demikian tetap saja tidak ada satu pun dari anak-anaknya yang memperhatikannya.


Bahkan Shen Ming An sungguh-sungguh mengatakan kata-kata kang tak sanggup dan tidak berani Sang Jenderal Shen Guo Feng ungkapkan kepada Shen Yu Lin dan terlebih lagi pada Putri kecilnya Xi Lilian. Karena rasa bersalah nya yang begitu mendalam membuatnya takut.


Tapi Shen Ming An ini benar-benar berniat mengorek hati dan men mencungkil jantungnya dengan sangat kejam. Membuatnya semakin menderita kepahitan.


"Apa maksud mu Gege? Aku hanya mengingatkan saja akan tata krama Keluarga Bangsawan. Bukankah dengan sikap Gege yang seperti ini sama halnya dengan tidak tahu etika dan aturan, terlebih lagi itu bisa dikatakan tidak berbakti kepada Ayahanda sebagai orang tua." kata Shen Ming An secara lugas, dan juga berusaha memojokkan Shen Yu Lin pada situasi yang tidak menguntungkan.


Hingga saat ini terdengar suara lainnya yang sangat lembut dan mendayu-dayu, seolah dapat memikat jiwa setiap orang yang mendengarnya dan mengikatnya dengan pesonanya.

__ADS_1


Namun dari setiap kata yang keluar dari gadis ini semakin menggerogoti hati nurani Sang Jenderal Shen. Dan seolah setipa luka yang menganganga itu disiram dengan larutan garam dan juga merica yang semakin meningkatkan rasa sakitnya berkali-kali lipat.


Yang bisa membuatnya meringis kesakitan di setiap saat.


"Mohon Gege Pertama dan juga Lian'er tidak tersinggung dengan kata-kata An Ge yang sedikit sembrono itu. Tapi Lie'er yakin bahwasanya niat yang dimiliki oleh An Ge adalah murni untuk saling mengingatkan dan juga menasehati sesama saudara. Dan tidak ada niatan buruk lainnya. Meski bagaimanapun kita ini saudara. Jadi sudah sepantasnya bagi kita saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Terlebih ini mengenai bakti kita bagi seorang Anak. Oleh karenanya Lie'er mohon Gege Pertama dan juga Lian'er akan lebih pengertian terhadap Ayahanda di masa depan," ucap sosok gadis yang cukup cantik yang baru saja berjalan melalui ambang pintu aula utama.


Meski tidak bisa dikatakan kecantikan yang meruntuhkan suatu negara, tapi rupa gadis itu cukup mempesona dengan proporsi yang sangat indah dan pas saat dipandang oleh mata.


Apalagi disempurnakan dengan sebuah gaun ungu yang begitu mengesankan yang mampu mengemukakan segala kelebihan dari tubuh idealnya.


Sehingga siapa saja dapat melihat dengan jelas betapa eloknya setiap tonjolan dan juga lekukan yang indan dan sensual di tubuh nya itu.


"Ahh... kalian memang saudara yang sangat baik dan juga sangat kompak. Sehingga kalian memiliki pemikiran dan penilaian yang begitu identik. Sungguh mengesankan! Tapi tidakkah kalian merasa malu dengan kata-kata yang baru saja kalian ucapkan itu?! Apakah selama ini kalian juga bertindak sesuai dengan apa yang kalian sebut dengan aturan dan juga tata krama?! Bisakah kalian sebutkan perlakuan kalian terhadap kami dan terutama pada Lian'er ku, yang bisa dianggap sesuai dengan tata krama itu? Bukankah kalian Anak Selir? Tapi mengapa kalian tidak menyapa kami yang merupakan keturunan resmi kediaman ini dengan sesuai aturan? Bahkan masih Ada Tuan Jenderal Besar berada disini, dan kau sama sekali tidak memandangnya ataupun hanya memberi salam secara simbolis. Tidakkah hati nurani kalian ini merasa bersalah setelah mengatakan begitu banyak kata untuk kami, tapi kalian sendiri begitu abai. Dan bagaimana dengan apa yang telah kalian perbuat selama belasan tahun ini? apakah itu yang dinamakan bertindak sesuai tata krama?!" sunis Shen Yu Lin pada kedua bersaudara keturunan Selir itu


Dan apa yang dikatakan oleh Shen Yu Lin itu, cukup berhasil untuk membuat Shen Sie Lie tertegun untuk beberapa saat.


Tepat ketika Shen Sie Lie bisa menguasai perasaannya lagi barulah ia buru-buru menghadap Sang Ayah untuk menyapa dan memberi salam. Sehingga Ia tidak berkesempatan untuk menanggapi kata-kata Shen Yu Lin.


"Ahhahhh... Salam kepada Ayahanda, dan mohon maafkan, Lie'er yang membuat ayah dan semua saudara menunggu lama," lanjut Shen Sie Lie yang berjalan sambil menyapa Sang Jenderal Shen.


Dan tanpa sedikitpun keraguan dan juga rasa bersalah dalam setiap kata-kata nya.


"Hm" balas Sang Jenderal Shen Guo Feng dengan singkat dan ada persaan ketidakpuasan terpancar sangat jelas dari sorot matanya.


Dan dengan nada yang sangat tidak sabar serta aura yang mencekik baginya.


Baru pada saat itulah Shen Sie Lie merasa jika ada hal yang salah, dan kemunginan besar dia telah menyinggung Perasaan Ayahanda nya.

__ADS_1


Sehingga sikap Ayahanda nya itu menjadi begitu dingin dan tidak bersahabat sama sekali.


__ADS_2