
Dan saat ini juga telah ada seseorang yang tengah memperhatikan pertempuran mereka berdua.
Ya, itu adalah Mo Fei Tian, yang datang ke sana, karena merasakan aura dari istri kecilnya dan ada aura lain yang mendekati istrinya.
Dan Ketika Mo Fei Tian samapi di sana, dia disuguhkan dengan pertempuran yang menurutnya agak aneh. Namun juga sangat efektif dan mematikan bagi orang-orang yang tidak memiliki tingkat Kultivasi yang tinggi.
Mo Fei Tian yang awalnya merasa khawatir akan istri kecilnya itu. Kini ia merasa lebih tenang.
Karena ia melihat bahwa istrinya tidak kenapa-kenapa dan ada kemiripan dari aura sang istri dan juga sosok laki-laki yang tengah bertarung dengannya itu.
Dan Mo Fei Tian mengerti bahwa mereka merupakan dari satu Klan yang sama dan juga memiliki garis keturunan yang sama.
Saat Mo Fei Tian hendak turun dan melerai perkelahian mereka. Tiba-tiba saja Xi Lilian telah berhasil melumpuhkan pria yang menjadi lawan berlatihnya ini dengan menahan kedua tangan pria itu dibelakang dan kakinya diatas punggung laki-laki itu dan satu tangannya lagi memegang belati kesayangannya dari zaman modern.
Yang mana belati itu adalah belati khas, yang diberikan oleh Abang nya Mario salah satu Mafioso handalnya dan juga satu-satunya orang yang menemaninya memulai karir hingga Emilia sukses dan terkenal.
Namun di saat sosok pria itu melihat bahwa senjata yang digunakan oleh Xi Lilian adalah sebuah belati yang sangat familiar baginya. Ia juga menyunggingkan senyum bahagia yang mengembang di bibirnya.
Yang membuat Xi Lilian dan juga Mo Fei Tian yang melihatnya tak mengerti, mengapa pria itu justru tersenyum ketika ditodong dengan senjata tajam itu.
Dan akhirnya pria mengucapkan sebuah kalimat yang tidak pernah disangka oleh Xi Lilian sebelumnya.
“Emilia Febi Amarta, tidak pernak ku sangka bahwa setelah kau kembali ke dunia ini, dirimu masih akan menggunakan senjata itu. Bahkan untuk melawan ku yang membuatkannya khusus, belati itu untuk adik kecilku dulu.” Kata pria itu yang justru membuat Xi Lilian berkaca-kaca.
Setelah itu Xi Lilian langsung melepaskan tangannya dan membantu pria itu berdiri dengan Ia juga menahan tangisnya.
Karena Xi Lilian saat ini masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan apa yang baru saja Ia dengar dari pria dihadapannya itu.
Dan setelah pria itu berdiri tegap dihadapannya Xi Lilian langsung saja meraih penutup muka yang menutup wajah pria itu.
__ADS_1
Begitu penutup wajah itu telah disingkirkan dan munculah sosok wajah yang begitu akrab di penglihatannya.
Xi Lilian yang seolah tak percaya dengan penglihatan nya sendiri kini dirinya mulai meraba wajah itu, tubuh itu.
Dan bahkan dirinya juga memutar sosok pria yang begitu akrab di penglihatannya. Hingga Xi Lilian merasa puas dan yakin akan satu hal.
Barulah kemudian tangisannya langsung pecah bersamaan tubuhnya yang menghambur dalam pelukan pria itu.
“Kak Mario? Apakah kau benar-benar Kak Mario ku yang dulu? Kak Mario yang selalu ada buatku saat aku butuh seseorang? Kakak yang selalu merawat ku saat aku sakit. Kakak yang selalu membersihkan luka-luka ku ketika selesai menjalankan misi? Kakak ku yang selalu menjadi body guard dan Kak mario ku yang selaku menjadi supir pribadi ku saat aku malas nyetir?” tanya Xi Lilian beruntun yang berhasil mengubah ekspresi pria yang Ia peluk yang semula penuh keharuan dan kasih sayang dan berubah menjadi manyun karena kata-kata terakhir yang Xi Lilian sebutkan tadi.
Bagaikan api yang sedang menyala terang lalu diguyur dengan air es. Yang langsung seketika menandakan nya.
“Hhuuuhhh kau itu dari dulu tak pernah berubah. Kata-kata mu itu sungguh langsung mengubah suasana menjadi gelap gulita, dan tak ada lagi warna yang cerah ketika kau sudah mulai berbicara. Semua warna berubah menjadi kelam. Dasar kau memang bocah kecil ingusan.” Balas pria itu sambil mendengus sebal.
Tapi Ia masih tetap mengelus pucuk kepala Xi Lilian dengan penuh kasih seorang kakak terhadap sang adik.
“Kau benar-benar Kak Mario ku? Kenapa kau bisa ada disini? Apakah Kakak juga sudah tiada disana?” Tanya Xi Lilian pada lelaki yang di anggap nya sebagai Mario itu.
Namun Ia berusaha sebisa mungkin untuk mengendalikan dirinya.
Setelah itu saat pria yang dipanggil Kakak Mario itu oleh istri kecilnya Ingin membuka suara untuk menanggapi pertanyaan Xi Lilian tadi.
Kemudian disela oleh Mo Fei Tian yang berdehem yang mengagetkan sepasang Kakak dan adik yang sedang bernostalgia.
“Hhemm...hheem.... Lian’er seperti tenggorokan ku sedang bermasalah, apakah kau memiliki pil yang berguna?” Tanya Mo Fei Tian agak canggung.
Saat mereka berdua menyadari keberadaan Mo Fei Tian mereka berdua pun menjadi kikuk, dan suasana menjadi terasa aneh.
Seperti sedang ketahuan selingkuh saja yang Xi Lilian dan pria itu rasakan saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Mo Fei Tian juga memasang wajah dan juga senyum canggung, karena telah menganggu keharmonisan kakak beradik ini.
Akhirnya pria yang dianggap sebagai Mario itu memecahkan suasana yang sangat aneh dan tidak nyaman ini menjadi suasana yang membuat Xi Lilian dan Mo Fei Tian menjadi semakin kecut saja.
“Hei Apa ini, kau bahkan baru saja kembali kemarin dan kau juga sudah bersuami. Ini benar-benar tidak adil bagiku. Dan apa tadi dia memanggilmu Lian’er. Bahkan aku saja masih tidak tau namamu itu dasar, benar-benar adik durhaka. Dan kau juga adik ipar? Apakah kau ini juga tak mau memperkenalkan namamu juga kepadaku Abang iparmu ini? Kamu jangan ikut-ikutan gadis sinting ini ya. Yang suka ngomong sekenanya dan mengubah suasana yang indah penuh haru biru langsung drop jadi mendung yang disertai petir.” Kata pria itu pada Xi Lilian dan juga Mo Fei Tian.
Saat ini Xi Lilian yang baru saja mendengar perkataan dari Abang Mario itu kemudian langsung bersungut -sungut geram karena kakaknya itu kembali memberikan kata-kata yang tak pernah Xi Lilian sukai dari dulu.
“Bang Mario kamu bilang apa tadi? Bukan aku yang sinting..... Abang Mario yang sedeng, gak waras. Aaahhh sudahlah Ayo A Tian, kita tinggalkan saja dia disini dan mari akan ku ambilkan kamu obat terbaik buatan ku, khusus untuk mu. Mari tinggalkan saja orang itu, aku benar-benar tidak mengenalnya, dasar orang sedeng.” Kata Xi Lilian marah-marah pada Mario dan juga sambil menyeret lengan Mo Fei Tian untuk menjauh dari Mario.
Mo Fei Tian yang melihat interaksi mereka berdua ini sedikit tidak mengerti dengan bahasa-bahasa yang mereka gunakan.
Tapi Ia bisa mengerti bahwa Xi Lilian tidak menyukai jika disebut apa tadi Sin Ting. Yah sinting itu. Pikir Mo Fei Tian.
Tapi Mo Fei Tian juga merasa senang, karena ternyata saudara laki-laki dari Xi Lilian di kehidupan ini bisa menganggapnya adik ipar, dan itu berarti jika dia juga merestui kami. Pikir Mo Fei Tian lagi
Sedangkan Mario yang melihat Xi Lilian pergi sambil menyeret Mo Fei Tian dia tak kuasa untuk membiarkannya.
“Hei gadis sinting, mau kau bawa kemana adik ipar ku itu? Biarkan aku mengenal dan ngobrol bersamanya dulu. Jika kau mau pergi,pergilah sendiri. Apa urusannya dengan dia? Aku yakin dia datang kemari karna ingin menyapa dan mengenalku.” Teriak Mario pada Xi Lilian.
“Hhhaahhhh, dasar Abang ku yang kurang ganteng, dengarkan baik-baik ya. Aku ingatin sekali lagi jangan pernah panggil aku gadis sinting lagi, aku punya nama yang indah, dan kau harus mengingatnya sampai kau tua bangkotan nanti. Namaku Xi Lilian.... Xi Lilian... Ingat itu.” Kata Xi Lilian penuh penekanan sambil menghentak-hentakkan kakinya.
“Oke...baiklah...baiklah...baiklah aku akan mendengarkan mu adik. Dan siapa nama suamimu itu? Tanya Mario pada Xi Lilian.
Saat Xi Lilian hendak menjawab tapi sudah di dahului oleh Mo Fei Tian.
“Perkenalkan kepada Kakak ipar. Namaku Wang Jin Tian.” Kata Mo Fei Tian sambil sedikit menunduk yang mana itu berarti Ia menghormati saudara laki-laki dari istri kecilnya itu.
“Hei apa yang kau lakukan itu, jangan sungkan denganku, panggil saja aku Xin Mu Ren Yang Maha Dewa Pengendali Takdir dan Karma.” Kata Xin Mu Ren alias Mario sambil menundukkan badan pada Mo Fei Tian.
__ADS_1
Mo Fei Tian dan juga Xi Lilian tercengang melihat reaksi Kakak Mario nya alias Xin Mu Ren itu.
Hingga akhirnya Xi Lilian akhirnya berencana menanyakan, akan tetapi tiba-tiba Xi Lilian mendengar seseorang berkata didalam benaknya.