
Sedangkan saat ini didalam ruangan, dimana tempat Mo Fei Tian dan para pembunuh bayaran itu berada tengah terjadi perdebatan antara kawanan pembunuh itu dengan Mo Fei Tian dalam rupa Wang Jin Tian.
“Oh, ternyata Pangeran bodoh ini sudah bangun rupanya bos, dan lihatlah itu, sikapnya yang tampak seperti pengecut.” Kata salah satu anggota pembunuh bayaran itu.
“Siapa yang kalian sebut pengecut? Aku tidak pengecut, kalian saja yang beraninya bermain keroyokan, apa sebenarnya mau kalian hah?” tanya Mo Fei Tian yang masih mendalami perannya.
“Haha... Ternyata dia bukan pengecut bos, tapi itu sama saja tidak ada artinya dimata kita bos, karena dia hanyalah seorang sampah dan pemborosan besar. Sia-sia saja Kaisar memberikan sumber daya sebanyak apapun untuk nya yang akan terbuang percuma dan tidak membuahkan hasil apapun selain sebagai seonggok daging dan lemak. Lihatlah tingkat Kultivasi nya saja masih berada di ranah pemula tahap 2 bahkan kalah jika dibandingkan dengan seorang anak kecil.” Sindir pembunuh bayaran yang lainnya.
Yang mana Ia tidak mengetahui jika Ia akan sangat menyesal nantinya karena telah mengatakan semua kata-kata provokatif seperti itu.
“Jika kau tak mau mati lebih baik kau cepat serahkan lencana pasukan militer Klan Xia itu kepada kami sekarang juga. Atau kalau tidak aku akan tanggung sendiri akibatnya.” Kata Sang Ketua pembunuh bayaran.
“ Mengapa aku harus menyerahkan lencana ini pada kalian, ini adalah milik kami, yang merupakan peninggalan dari mendiang Ibunda Permaisuri kami. Aku tidak akan pernah menyerahkannya kepada kalian. Meski sekalipun aku harus mati aku tidak akan pernah memberikan pusaka berharga ini pada kalian, ini adalah milik kami dan akan sangat berguna bagi Kakak Sulung ku dimasa depan jika dia dalam keadaan terancam.” Kata Mo Fei Tian lagi.
"Meskipun lencana itu sangat berguna, namun kau dan saudara-saudara kembar mu itu tidak pantas untuk menggunakannya," teriak pembunuh bayaran paling muda dengan senyum sinis dan tatapan mata yang provokatif.
"Tentu saja saudara ku pantas karena pusaka ini adalah hak milik mereka. Jadi apa urusannya dengan mu. Lagi pula jika kalian mengambil lencana ini. Bahkan kalian juga tidak bisa menggunakan lencana ini sekalipun kalian mati. Karena kalian sama sekali tidak memiliki darah Keturunan Klan Keluarga Jendral Xia sama sekali. Huuhh... dasar kalian tidak tahu diri," kata Mo Fei Tian berusaha memprovokasi mereka, agar mereka mau mengatakan siapa yang telah menyuruh mereka dengan sendirinya.
"Memangnya apa yang kau tahu, Pangeran seperti dirimu bahkan tidak mampu berbuat apa-apa jika kami tetap berupaya untuk mengambil benda berharga itu dari mu. Bahkan jika kami tak bisa menggunakan lencana itu, setidaknya masih ada Keturunan Keluarga Xia yang lainnya yang lebih pantas menggunakannya dibandingkan dengan Kalian. Dan selain itu mereka juga memiliki kedudukan yang lebih berharga dihadapan Sang Kaisar dibandingkan dengan kalian ketiga putra tertuanya." kata ketua pembunuh bayaran itu dengan senyum mengejek.
__ADS_1
"Mana mungkin ada seseorang yang Lebih baik dimata Ayahanda Kaisar dari kami bertiga, apalagi ibunda kami juga merupakan satu-satunya wanita keturunan resmi dari Keluarga Jendral Xia. sedangkan yang lain pun hanya anak murba, bahkan Bibi permaisuri Xia Wu Mei juga merupakan keturunan dari seorang selir tingkat lima, yang bisa berhasil merayu ayahanda kaisar hanya dengan tipu muslihatnya saja. bahkan Putra dan Putrinya itu entah anak dari kaisar atau bukan tidak ada yang tahu pasti," cibir Mo Fei Tian yang sengaja dia katakan dengan keras agar Kaisar Wang Junsi mendengarnya dengan jelas.
Bahkan Mo Fei Tian saat ini merasa sudah saatnya bagi dirinya untuk mengungkapkan kebenaran mengenai kemampuannya di hadapan Sang Kaisar.
Selain itu juga Mo Fei Tian ingin segera mengungkapkan kedok dan seluruh kebusukan yang dilakukan Permaisuri Xia Wu Mei dengan Putra dan Putrinya dibelakang Sang Kaisar dari Kekaisaran Li itu, selama ini.
"Bangsat ternyata kau memiliki nyali dan pandai berkata-kata. Rasakan ini hiatt.... hahh." kata salah seorang pembunuh bayaran mulai emosi dan menyerang Mo Fei Tian dengan jurus elemen anginnya.
Namun Mo Fei Tian bisa menghindarinya dengan mudahnya meski ia tidak menggunakan energi spiritualnya dan hanya mengandalkan kecepatan dan kekuatan fisiknya saja.
Dan itu membuat pembunuh itu bertambah geram karena ia merasa diremehkan oleh seorang yang terkenal sebagai pemboros besar.
"Memangnya apa masalahnya dengan semua itu? Apakah dia hanya berstatus murba atau tidak, atau ibu ja***g mu yang telah mati itu yang selalu beruntung dan selalu menjadi penghalang bagi majikan kami Yang Mulia Permaisuri Kaisar Xia Wu Mei selama hidupnya. Dan terlepas benar atau tidaknya yang kau katakan, itu bukan urusan kami, namun yang terpenting saat ini kami harus merebut lencana itu dari tangan mu, dan itu akan memberikan keuntungan yang besar bagi kami, karena mereka telah menjanjikan bayaran mahal untuk itu." kata pembunuh bayaran yang menyerangnya tadi.
"Bagus, kalian memang tidak akan mungkin mengecewakan ku, bahkan umpan ku kalian tangkap dengan senang hati. Terima kasih bagi mu karena kau sendiri telah mengakui siapa dalang yang sesungguhnya dari kejadian malam ini. dan setidaknya dengan ini Sang Kaisar Wang Junsi itu akan mengerti tabiat orang kesayangannya selama ini dan apa tujuannya." kata Mo Fei Tian cukup puas dalam hatinya.
"Beraninya kalian manusia rendahan menghina ibunda ku dengan mulut mu yang kotor dan bau itu. lihat saja apa yang akan kalian dapatkan dari itu semua." kata Mo Fei Tian yang menunjukan kemarahannya dan energi spiritual nya kini mulai merembes keluar namun tidak disadari oleh keempat pembunuh bayaran itu.
“ Kurang ajar, ternyata kau berani menantang kami hah. Rasakan ini, kau akan tahu bagaimana rasanya terkena jurus Andalan ku.” Teriak salah satu dari pembuluh bayaran.
__ADS_1
Yang telah bersiap meluncurkan sebuah serangan terhadap Mo Fei Tian.
Sedangkan Sang Kaisar Wang Junsi yang melihat kedua Putranya yang juga masih berada di luar kediaman bersama dengan dirinya dan mendengar apa yang dikatakan oleh pembunuh bayaran itu pun mulai ikut bereaksi.
Dan ingin membantu Sang Adik. Meskipun mereka tahu bahwa adiknya itu tidak akan mengalami cidera apapun tapi demi membantu rencana adiknya mau tidak mau mereka berusaha untuk meyakinkan Sang Ayah.
Dan mereka juga ingin melihat bagaimana reaksi yang akan diberikan oleh Sang Ayah ketika mengetahui putra ketiga nya itu dalam bahaya.
“Gege sepertinya didalam tidak hanya ada satu penyusup saja, kita harus segera membantu Tian'er, aku takut terjadi apa-apa kepadanya,” ucap Wang Xue Min yang tampak begitu khawatir dan juga risau.
“Ya, kita masuk sekarang, sebelum para penyusup itu melukai Tian'er,” kata Wang Yun Ji yang tampak lebih tenang namun sorot matanya menunjukan jika dirinya juga merasa sangat gelisah jika sesuatu terjadi pada salah satu adik kembarnya itu.
Namun ketika mereka akan bergegas masuk, tiba-tiba saja mereka dihentikan oleh Sang Kaisar Wang Junsi yang merupakan Ayahanda mereka.
Bahkan setelah dirinya bisa mendengar dengan sangat jelas. Jika para pembunuh bayaran itu telah mengakui sendiri bahwa yang telah mengirim mereka adalah Sang Permaisuri Kaisar.
Yang mana itu artinya Permaisuri nya sendiri yang telah berusaha mengincar dan juga melenyapkan putra ketiganya itu. Namun Sang Kaisar Wang justru tampak biasa saja dan tidak merasa terkejut ataupun marah. Malah justru tampak seperti biasa saja.
Dan hal itu sangat membuat Kedua bersaudara yang berada di halaman bersama Sang Ayahanda Kaisar nya itu merasa sangat kecewa dan juga marah yang berusaha mereka tahan.
__ADS_1
Akan tetapi yang sebenarnya perasaan Sang Kaisar Wang itu sedikit merasa ragu untuk percaya akan apa yang dirinya dengar. Karena dari apa yang dirinya kenal istrinya yang kini sebagai Permaisuri itu adalah orang yang sangat lembut. Jadi tidak mungkin akan melakukan hal itu pada putranya yang tidak berguna itu.
"Ini pasti hanya cara dari penyusup itu untuk mengecoh dan juga mengalihkan kesalahan orang lain pada Mei'er ku. itu tidak mungkin benar, pasti ini hanya jebakan dari seseorang saja." pikir Sang Kaisar Wang Junsi yang memutuskan jika Permaisuri nya itu tidak bersalah, dan juga bentuk upayanya untuk melindungi Sang Permaisuri nya saat ini.