Kembali Untuk Menjemput Takdir

Kembali Untuk Menjemput Takdir
Bab. 212


__ADS_3

Selain itu Xi Lilian juga telah berhasil memurnikan pil-pil legendaris yang telah hilang selama puluhan ribu tahun lamanya. dan salah satunya adalah Pil Alam Legendaris yang akan Xi Lilian berikan pada Gege nya Shen Yu Lin agar Gege nya itu bisa segera menerobos ranah Dewa-dewi.


"Syukurlah semuanya telah berhasil ku buat. Yah meskipun itu semua cukup menguras tenaga dan juga qi dalam tubuhku. Tapi setidaknya semuanya sepadan dengan hasil yang aku dapatkan. Dengan begini Aku berharap agar mereka semua bisa terlindungi di saat genting sekalipun," guman Xi Lilian yang merasa cukup puas dengan hasil yang ada di tangannya saat ini.


Sambil menyeka keringat dan juga meregangkan tubuhnya yang telah Xi Lilian paksa untuk fokus membuat semua itu selama dua bulan penuh tanpa istirahat sedikitpun.


Meski terkadang Xi Lilian akan meminum air dari mata air surgawi ataupun pil penambah qi, di sela-sela waktu yang sedikit longgar dalam setiap pemurnian baik pil maupun racun.


Namun, meskipun Xi Lilian telah mengabiskan waktu selama itu didalam ruang dimensinya. Tetap saja, di dunia luar waktu baru berjalan selama satu jam. Jadi masih ada waktu yang tersisa, sebelum acar perburuan akan dimulai.


"Huuft... sebaiknya aku istirahat dan membersihkan tubuh dulu, sebelum aku keluar dari sini. Aku kira sebentar lagi waktu perburuan juga akan segera tiba," ucap Xi Lilian pada dirinya sendiri.


Sambil melangkahkan kaki jenjang nan putih mulus bak salju itu menuju pemandian air panas spiritual yang berada di dalam istana air terjun pelangi yang di ciptakan oleh suami tercintanya khusus untuk Xi Lilian.


"Ahh... betapa nyaman dan juga menenangkannya bisa berendam dan menikmati suasana di sini. Yang benar-benar mampu menghilangkan rasa penat dan juga untuk mengembalikan stamina ku yang telah terkuras selama dua bulan ini," ucap Xi Lilian yang merasa sangat senang dan juga riang.


Bahkan untuk menikmati suasana dan juga waktu berendamnya Xi Lilian bahkan sampai memejamkan matanya dan bersandar pada bidang yang kokoh yang berada di belakangnya.


Seolah dirinya ingin merasakan dan meresapi setiap sensasi ketika dirinya berendam di dalam kolam air panas spuritual itu.


Sehingga Xi Lilian tidak menyadari sama sekali adanya sosok lain yang entah sejak kapan dia juga tengah berendam di belakang Xi Lilian di mana tempat Xi Lilian bersandar saat ini.


Di saat saat yang begitu tenang seperti ini, sebenarnya membuat Xi Lilian merasa sangat merindukan seseorang. Yang tentu saja orang itu juga merindukan gadis cantik nan baik hati itu.


"Andaikan saat ini ada A Tian disini. Pasti akan lebih menyenangkan. Entah mengapa aku jadi selalu merindukannya setiap waktu," batin Xi Lilian yang kini masih saja asyik memejamkan mata indahnya itu, namun dengan ekspresi yang sedikik berubah menjadi agak sedikit murung. Yang mungkin disebabkan dirinya tengah merindukan Sang suami tampannya.


Sedangkan sosok yang tengah menyaksikan bagaimana gadis kecil yang begitu mempesona tidak hanya secara fisiknya saja namun juga hatinya, tengah terpejam dan menikmati suasana berendam di air panas spiritual ini sambil merebahkan punggungnya dengan bersandar tepat di dada bidangnya yang kokoh itu kini justru menjunjukan senyum menawannya dengan semakin lebar.


Terlebih lagi ketika dirinya mendengar bahwa istri kecilnya kini tengah merindukan dirinya dan mendambakan kehadirannya.


Hal itu benar-benar membuat sosok itu yang tak lain adalah Mo Fei Tian, Sang Kaisar Dewa, menjadi sangat gemas dan ingin memeluk dan tak ingin melepaskan istri kecilnya yang kini tengah bersandar pada dada bidangnya yang kokoh.


Selain itu ketika Mo Fei Tian menyaksikan bagaimana penampilan istrinya yang tengah berendam kini apalagi hanya dengan menggunakan sehelai kain yang sangat tipis dan juga transparan.


Yang seolah dapat mengekspos seluruh lekuk tubuh yang begitu indah nan ranum itu membuatnya semakin hampir tak bisa menahan kendali pada dirinya.


Bahkan tak dapat di pungkiri bahwa kini wajah nya telah memerah hingga ke telingannya yang tampak bagaikan kelopak bunga mawar yang bengitu merona, karena saat ini sesuatu yang ada dibawah sana kini telah menyembul dan seolah memberontak minta untuk di keluarkan dan ingin segera menembus kenikmatan di lembah surgawi dari istri yang paling Ia cintai.


Namun ketika Mo Fei Tian teringat akan janjinya pada sang istri kecilnya. Dirinya dengan mati-matian menahan seluruh hasratnya yang kini tengah membara.


Akan tetapi Mo Fei Tian mencoba untuk menghilangkan pikiran mesumnya itu. Dan mencoba untuk bersikap tenang seperti biasa. Itu merasa sangat sulit.


Terlebih lagi saat ini tanpa sadar Xi Lilian melepas kontrol dari aura pesona pemikatnya. Yang menjadikan Mo Fei Tian merasa sangat sulit untuk mengendalikan hawa nafsunya.

__ADS_1


Sedangkan Xi Lilian yang kini juga mersakan jika ada sesuatu yang salah dan aneh, dirinya pun mengernyitkan dahinya dan segera membuka matanya.


Dan sebelum Xi Lilian bisa menoleh ke belakang, untuk melihat apa yang ada disana. kini Xi Lilian justru dikejutkan dengan sebuah suara dan juga dua lengan kekar merengkuh pinggangnya yang ramping dari belakang.


"Benarkah permaisuri ku ini merindukan Kaisar ini?" bisik Mo Fei Tian di telinga sang istri kecilnya.


Dan hal itu tidak hanya sangat mengejutkan bagi Xi Lilian. Namun juga membuatnya sangat malu hingga wajahnya begitu merah seperti tomat hingga ke pangkal telinganya yang kini terasa sangat panas. Dan Xi Lilian pun segera akan memalingkan wajahnya kesamping, supaya sang suami tidak melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.


Akan tetapi bagaimana mungkin semua pemandangan itu akan luput dari penglihatan Sang Kaisar Dewa Yang Agung itu? Bahkan semuanya tampak begitu jelas dihadapannya. Dan itu membuat Sang Mo Fei Tian merasa sangat terkesima dan bahagia, ketika dirinya menyadari bahwa istri kecilnya kini tengah malu-malu.


Yang mana itu tandanya Sang Istrinya yang mungil itu benar-benar merindukannya saat ini.


Selain itu Xi Lilian yang belum sempat bereaksi itu, kini justru tubuhnya telah di balikkan untuk menghadap sang suami. Yang mana itu justru memmberikan kesempatan bagi Xi Lilian untuk memeluk suami tampannya itu erat-erat, yang seolah dirinya tak pernah ingin melepasakan dekapan hangat sang suami tampannya.


Namun yang sebenarnya terjadi adalah Xi Lilian ingin menenggelamkan wajahnya yang masih merah dan memanas itu dan menyembunyikannya di dalam dada bidang suaminya yang kini juga masih memeluk dirinya dengan penuh perhatian.


"Ah... A Tian...." panggil Xi Lilian pelan.


"Emn...Ya," gumam Mo Fei Tian lembut, sambil menikmati pelukan hangat Sang Istri kecinya itu yang kini bersarang dalam dekapannya.


"Kkaa Kau, sejak kapan kau berada di sini?" tanya Xi Lilian dengan deru nafas yang tidak teratur dan terkesan memburu.


Yang menandakan bahwa saat ini Xi Lilian tengah gugup. Karena ketahuan sedang merindukan Sang suami. Yang tidak tahunya Sang suami justru berada di sana dan bisa mendengar gumamnanya tadi.


Itu semakin membuat Sang Pria tampan yang adalah suami takdirnya tersebut menjadi semakin tertekan. Karena Mo Fei Tian harus menahan gejolak yang semakin membara yang baru saja coba dirinya tahan dengan susah payah.


Dan saat ini justru kembali meningkatkan keinginannya untuk melahap gadis yang kini sedang berada dalam dekapannya itu saat ini juga.


Namun betapa besar keinginannya itu, Mo Fei Tian berusaha sangat keras untuk menahannya. Dirinya tidak mungkin akan menyakiti kekasihnya itu hanya untuk memuaskan nafsunya.


Yah meskipun itu sah-sah saja karena bagaimana pun mereka adalah sepasang suami dan istri.


Akan tetapi menurut Mo Fei Tian saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk meraih dan meneguk kenikmatan surga dunia milik Sang istri. Lagipun kini usia Xi Lilian juga masih terlalu muda untuk dapat merasakannya. Dan Mo Fei Tian benar-benar tidak ingin merusak kehidupan orang yang sangat dirinya cintai itu.


Setelah menenangkan diri sejenak, kini Mo Fei Tian pun baru terdengar menjawab pertanyaan dari permaisurinya yang masih setia dalam pelukan hangatnya.


"Emn...Aku telah disini disaat kaki kecilmu itu memasuki air kolam ini. Apakah Permaisuri ku tak bisa merasakannya?" ungkap Mo Fei Tian.


Meskipun demikian suaranya yang begitu serak dan berat tak dapat menampik hal apa yang telah terjadi pada sang empu.


Bahkan Xi Lilian pun sedikit terkejut oleh karena nya. Xi Lilian pun dapat mengerti dengan keadaan Sang Suami. Dan itu benar-benar membuatnya terharu terhadap pengorbanan suaminya itu.


Sebenarnya Xi Lilian pun merasakan gejolak yang sama terhadap sang suami. Dan Xi Lilian juga berpikir jika Mo Fei Tian benar-benar ingin menuntaskan segala hajatnya itu dirinya pun tidak akan menolak.

__ADS_1


Hanya saja dirinya begitu tak menyangka tentang keseriusan sang suami yang ingin menjaganya hingga waktunya tiba nanti.


"Benarkah, apakah Suami datang kemari juga karna merindukan permaisuri mu ini?" tanya Xi Lilian yang berniat menggoda Sang Suami, meski dengan suara yang sangat malu-malu.


Yang terbukti dengan wajah dan telinganya semakin memanas dan merah. Bahkan Mo Fei Tian pun merasakan bahwa tubuh sang kekasih kecil dalam pelukannya itu kini semakin menegang bercampur deru nafasnya yang semakin tak beraturan.


Mengerti bahwa Sang istri kecilnya juga merasakan perasaan yang sama dengan dirinya Mo Fei Tian merasa begitu senang. Karen itu tandanya dirinya tidak memiliki keinginan yang bertepuk sebelah tangan.


Hanya saja Mo Fei Tian tak ingin mangambil kesempatan untuk menjamah keindahan dari sang istri. Dirinya masih tetap pada pendiriannya. Hingga saat mereka resmi menikah di kehidupan yang baru ini.


"Tentu saja, bagaimana mungkin suami mu ini tak merindukan mu istriku. Sedangkan setiap saat aku selalu memikirkan dirimu. Aku selalu merindukan mu," jawab Mo Fei Tian sambil melonggarkan pelukannya dan menatap mata indah sang istri.


Seolah ingin mengungkapkan keseriusannya pada Xi Lilian. Dan setelah itupun ciuman hangat meluncur seketika di bibir seksi milik sang gadis.


Hanya saja hal itu hanya terjadi hanya untuk sekilas yang kemudian beralih pada kening dan juga pucuk kepala Xi Lilian secara berulang kali.


Xi Lilian yang mendapatkan serangan mendadak seperti itu terkejut dan tidak menyangka, hingga dirinya mematung.


Namun dalam dasar hatinya yang paling dalam Xi Lilian merasa sangat senang dan seolah terdapat bunga-bunga bermekaran didalamnya.


"Ku kira kita sudah cukup lama berendam di sini Lian'er, sudah waktunya untuk kembali," Ucap Mo Fei Tian yang mencoba memecahkan kecanggungan dan juga kesunyian yang baru saja terjadi akibat ulahnya.


"Ahh, kau benar A Tian. Aku akan segera bersiap, kau juga sebaiknya juga bergegaslah," kata Xi Lilian yang seketika itu juga menghilag dari sana. Yang seolah ingin melarikan diri dari suasan canggung dan mendebarkan hatinya barusan.


"Hahaha," Mo Fei Tian pun terkekeh menyaksikan sang istri kecilnya yang pergi begitu saja. Dan Ia pun tak lama kemudian juga menghilang dari sana.


Waktu terus berjalan, dan kini Xi Lilian pun telah selesai bersiap. Dirinya bahkan telah menghabiskan waktu dengan putri kesayangannya Mo Lie Yiran hingga sang putri pun tertidur lelap dalam gendongannya.


Setelah menidurkan sang bidadari kecilnya di kamarnya Xi Lilian pun segera keluar untuk menemui para kontraktualnya.


"Hai Gege, dimana yang lainnya?" tanya Xi Lilian yang saat ini bertemu dengan Yuan Long si naga putih.


"Mereka masih berkultivasi Lian'er. Dan saat ini adalah giliranku untuk menjaga putri kecilmu, itulah mengapa aku hanya sendiri disini," balas Yuan Long.


"Ah begitu ternyata, Terima kasih Gege, maaf merepotkan mu dan yang lainnya. Oh ya apakah Gege merasakan ada suatu aura yang janggal beberapa waktu ini?" tanya Xi Lilian.


"Kami semua dapat merasakannya Lian'er, Bahkan Yiran kecil sering berjaga dan waspada akibat hal ini," balas Yuan Long.


"Haihh, sungguh kasihan putri ku itu. diusianya yang begitu muda namun harus bersiap untuk memikul tanggung jawab yang begitu besar dimasa depan? Semoga saja Jiejie bisa membimbingnya kelak. Dan sebenarnya siapa orang yang telah berhasil bersekutu dengan para monster itu? Aku pasti akan segera menyelidikinya, sebelum semuanya terlambat.


"Semua ini adalah ulah dari Matriark Sekte Selendang Hitam yang sangat berambisi dengan kekuatan dan kecantikan yang seolah menolak usia tua. Sehingga dia menyembah para monster itu dengan imbalan hidup awet muda," terang Mo Fei Tian yang tiba-tiba saja muncul.


"Tapi Bukankah Sekte Selendang Hitam ini merupakan salah satu sekte terkemuka yang menentang hal-hal yang sesat semacam ini? Dan setau ku Matriark Sekte Selendang hitam ini merupakan seorang yang dengan sebutan Wanita Suci, dan tak pernah sekalipun memiliki ambisi liar seperti itu?" ucap Xi Lilian yang telah mengumpulkan banyak informasi dan juga mendalami karakter dari para tokoh-tokoh besar dan terkemuka dalam Daratan Nanxuang ini.

__ADS_1


__ADS_2