
Mereka semua yang mendengar teriakan Sang Jendral itu langsung dibuat gemetaran dan bahkan banyak pelayan kediaman telah pingsan akibat tekanan dari Sang Jendral Shen Guo Feng.
Yang saat ini entah muncul dari arah mana, namun tiba-tiba saja sudah berada
sisi bagian belakang dari Sang Selir Duan Yu Yan yang kini tengah terdiam seakan tak bisa bergerak sedikitpun setelah mendengar teriakan Sang Jendral Shen Guo Feng tadi.
Bahkan Selir Duan Yu Yan juga tertegun dan juga langsung jatuh terduduk dengan lemas nya. Seolah-olah dirinya telah kehilangan seluruh kekuatan dan kemampuan nya tadi ketika menyerang Pengawal Sang Jendral barusan.
“Tuan ku, Anda di sini?” tanya Selir Duan Yu Yan kikuk.
“Apa ada yang bisa melarang ku untuk datang ketempat ini,” jawab Jendral Shen acuh tak acuh.
__ADS_1
“Ah... Maaf kan hamba Tuan ku, bukan begitu maksud hamba. Hanya saja apakah...” ucapan Selir Duan terhenti.
“Cukup, tidak perlu banyak bicara lagi. Karena kau sudah berani tidak mengindahkan kata-kata ku tadi dan tetap berupaya melindungi putri mu itu dan bahkan kau juga sangat memiliki keberanian untuk menentang keputusan ku layaknya seseorang yang berkuasa di Kediaman ini, sehingga berani berbuat keributan dan juga menyerang orang-orang yang telah aku perintahkan, apalagi yang paling fatal adalah ternyata kau adalah seseorang yang telah mencuri senjata milik Nian'er ku dan kau gunakan untuk mencelakai bawahan ku itu merupakan sebuah pelanggaran dan juga kejahatan yang serius. Maka kau juga harus bisa menerima konsekuensinya dari semuanya yang kau lakukan hari ini. Dan kejahatan mencuri senjata kipas milik Nyonya Besar juga akan kau tanggung,” kata Sang Jendral dengan dingin dan datar bahkan tanpa memandang sedikitpun kearah Selir Duan Yu Yan.
Akan tetapi Jendral Shen Guo Feng kala itu tengah memberi kode kepada bawahannya tadi untuk segera melakukan hukuman pada Shen Sie Mei dan membawanya langsung ke Kuil Leluhur yang terletak jauh dari kota dan juga pemukiman bahkan kuil itu terpencil di Pegunungan Sunyi. Dan hanya diberikan satu pelayan kecil mengikutinya untuk melayaninya sampai ke sana, dan setelah itu pelayan itu akan dibebaskan.
“Tidak, tidak begitu tuanku, hamba tidak berani melanggar perintah Anda, hanya saja, ya... Merekalah... Mereka lah yang terlalu kasar ketika membawa Mei'er keluar dari aula tadi, sehingga, aku hanya berusaha memperingatkan mereka saja agar tidak keterlaluan dan menyakiti Mei'er,” kata sang Selir Duan Yu Yan dengan gugup.
“Lalu bagaimana kau menjelaskan mengenai senjata yang kau kenakan tadi terhadapku? Karena aku sangat yakin jika kipas itu merupakan milik Nian'er karena aku pernah melihatnya menggunakan kipas itu,” kata Sang Jendral Shen Guo Feng pura-pura meminta penjelasan.
“Oh ya Dewa, mudah-mudahan saja tuan besar percaya dengan kata-kata ku, jika tidak maka habislah aku, Jika sampai aku ketahuan jika aku yang telah mencuri senjata ini dan benda berharga lainnya dari Nyonya Xi Yu Nian terutama giok itu.” Ucap Selir Duan Yu Yan dalam benaknya.
__ADS_1
“Oh itu, milikmu? Jadi maksud mu, kau ingin menunjukan jika kau sangat bermurah hati kepada seorang Nyonya kediaman ini dengan membiarkan dia meminjam benda itu darimu? Kau yakin kipas yang begitu berharga itu adalah milikmu? Apakah kau yakin tidak mengambilnya dari seseorang? Jangan lupa aku ini seseorang yang seperti apa? Bahkan aku tahu seluruh asal usulmu dan dengan siapa saja kau bergaul sebelum kau masuk kedalam kediaman ini berkat Istri tercinta ku?” tanya Sang Jendral Shen Guo Feng berturut-turut dan semakin dingin dan suram.
“Ah, Tuanku percaya lah ini adalah milikku yang diberikan oleh seorang kenalan dulu. Dia, maksudku adalah orang itu memberikanku kipas ini karena aku telah membantunya, sehingga dia merasa berhutang budi padaku, dan akhirnya memberikan kipas ini kepadaku,” kilah Sang Selir untuk menutupi kebenarannya.
Kebenaran yang merupakan dia memang telah mencurinya dari mendiang Xi Yu Nian beserta banyak benda berharga lainnya setelah Sang Nonya Jendral itu telah dinyatakan meninggal.
Namun siapa sangka kata-katanya saat ini yang bertujuan untuk membela diri itu justru akan memperparah hukuman yang akan di terimanya nanti.
Karena selain dia telah mencuri, bahkan dia juga tak mau mengakuinya. Hal itu benar-benar membuat Sang Jendral Shen Guo Feng merasa tertantang akan sampai kemana kebohongannya dia lakukan untuk menutupi kebohongannya yang lainnya.
“Aku masih tidak tahu seorang seperti apa yang akan memberikanmu hal yang seberharga seperti itu kepada seorang budak keturunan dari wanita yang bekerja dirumah kembang pemikat dengan seorang Gigolo yang sama-sama bekerja di tempat itu. Bahkan dari hasil penyelidikan yang ku terima bahkan sedari kecil kau juga sudah dibuang ketempat perdagangan budak dan bahkan tak mengenal dunia luar sama sekali, barulah ketika usimu 13 tahun kau diambil oleh seorang pria tua dan bekerja untuk melayani seluruh kebutuhannya setiap hari. Namun suatu hari kau ketahuan mencuri uang sehingga kau disiksa dan akan dijual ke tempat yang menyerupai tempat selama ini ibu dan ayahmu melayani pengunjungnya. Bukankah begitu? Dan untuk kejadian selanjutnya tanpa harus aku mengatakan kita semua bisa tahu bagaimana baiknya istriku dulu memperlakukanmu. Namun kau justru bagaikan ular berkepala dua dihadapan istriku. Bahkan kau juga berani berpikiran untuk bisa menggantikan posisinya bukan?” tanya Sang Jendral Shen Guo Feng dengan dingin dan dengan kemarahan yang tak disembunyikan sama sekali.
__ADS_1
“Gawat kenapa jadi seperti ini, mengapa aku tidak pernah berpikir jika Jendral Shen ini bisa melakukan ini semua. Dan bagaimana mungkin aku melupakan kekuasaannya, sehingga dia bisa mencari informasi terkait seseorang dengan sangat detail hanya dengan sekali perintah bawahannya saja maka semua yang ingin diketahui akan segera dia dapatkan informasinya sedetail mungkin. Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin jika aku harus mengakui aku memang yang telah mencuri kipas yang luar biasa ini dari wanita mati itu. Sang Jendral sangatlah sensitif jika terhadap wanita itu.” Kebingungan Selir Duan Yu Yan dalam benaknya.
“ Tidak Tuan, itu mana mungkin hamba memiliki keberanian untuk hal itu, Hamba sudah sangat bersyukur karena selama ini Tuan selalu peduli dan juga menyayangi anak-anak hamba, Dan itu sudah cukup bagi saya Tuan, hamba sudah tidak menginginkan apapun lagi kalau anak-anak sudah bahagia,” kilah Sang Selir Duan dengan berusaha mempertahankan ketenangannya.