
Melihat kejadian tersebut seseorang yang sedari tadi berada di atas pohon itu memiliki insting jika akan terjadi keributan besar baik didalam maupun diluar kediaman itu.
Akhirnya Ia memutuskan untuk segera membuat formasi segel agar orang-orang yang ada disekitar sana dan seluruh penghuni istana Kekaisaran Wuxi ini tidak ada yang menyadari kejadian tersebut.
“Untuk apa kalian masuk? Biarkan dia mengurus dan juga menjaga dirinya sendiri, lagi pula tak selamanya kalian bisa selalu melindungi orang itu. Jangan buang dan habiskan tenaga kalian untuk sesuatu yang tidak berguna seperti itu.” Kata Sang Kaisar Wang Junsi dengan dingin.
“Ayah apa yang kau lakukan? Dia itu adik kami dan juga anakmu darah daging mu, begitu tega dan sampai hati kau berkata seperti itu. Bahkan seekor binatang buas pun tahu caranya untuk menyayangi dan melindungi anak-anaknya. Tapi kau? Hehh... Tidak heran, dan cukup tahu saja bagiku jika kita memiliki seorang Ayah yang pilih kasih terhadap anak-anaknya Gege. Bahkan aku juga ragu apakah kita juga masih menempati ruang di dalam hatinya atau tidak. Karena selama ini yang ku tahu, bahwa semua kasih sayangnya dan juga apapun yang terbaik hanya Ia serahkan kepada Bibi kita dan Putra Putrinya itu.” Kata Wang Xue Min dengan nada sindiran.
Ya ketiga Putra tertua Kaisar Wang itu tidak pernah menganggap Permaisuri Kaisar saat ini sebagai ibu mereka. dan hanya mengakui statusnya yang sesungguhnya hanyalah seorang Bibi murba dari kediaman Jendral Xia.
“Kau...!! Jaga ucapan mu itu Min’er..!” teriak Sang Kaisar Wang Junsi sambil menunjuk muka putra keduanya itu.
“Apa?! Bukankah semua yang aku katakan itu benar?! Bahkan selama ini memang itu yang kau lakukan," kata Wang Xue Min dengan pertanyaan yang mengandung makna retorika.
"Bagaimana mungkin mulutmu itu bisa berkata-kata seperti itu kepada Ayah mu sendiri? Aku bahkan tak pernah menyangka jika lidahmu begitu tajam," kata Sang Kaisar Wang dengan dingin.
Namun raut wajahnya saat ini terdapat sedikit rasa tidak nyaman dan juga berusaha untuk tenang dan mengendalikan diri.
Yang mana itu sama artinya dengan membenarkan apa yang telah dikatakan oleh Putra Kedua nya barusan.
"Oh Ayah, jangan pikir kami ini orang-orang bodoh yang tidak bisa membaca keadaan dan juga setiap tindakan mu yang sangat jelas menyiratkan akan permusuhan pada kami Putra mu yang sah." kata Wang Xue Min lagi dan di jeda sebentar
"Bahkan selama ini kami tahu, alasan kau yang selalu saja bersikap acuh terhadap kami, dan kau bahkan tega melimpahkan semua tugas dan juga tanggung jawab Putra Keempat kesayangan mu itu kepada kami, sedangkan dia hanya perlu berdiam diri, menikmati waktu luang nya itu untuk bersenang-senang dan menenggelamkan dirinya dengan rasa kepuasan dan juga kenikmatan yang ia teguk bersama para selir dan gundik nya itu. Namun semua hasil kerja keras kami selama ini selalu kau limpahkan kepadanya dengan alasan itu merupakan tanggung jawabnya pada awalnya. Dan itu masih bisa untuk ku terima sikap Anda yang selalu memanjakannya itu, selagi itu tidak benar-benar mengancam nyawa kami bersaudara." kata Pangeran Kedua Wang Xue Min yang melayangkan protesnya akan ketidakadilan yang dilakukan oleh ayahnya itu.
__ADS_1
"Apa maksud mu itu? Mana mungkin aku akan membuat nyawa kalian dalam bahaya? Bagaimana pun juga aku adalah Ayah mu," kata sang Kaisar Wang Junsi dengan dingin dan tampak sangat muram.
"Tapi aku tidak tahu siapa identitas kalian yang sebenarnya asbisa saja kalian itu merupakan hasil dari perselingkuhan wanita murahan itu dengan laki-laki rendahan itu." batin Sang Kaisar Wang Junsi, yang tidak yakin bahwa ketiga pangeran kembar itu adalah putra kandungnya.
"Apakah Ayahanda benar-benar tidak bermaksud atau tidak itu hanya ayahanda yang mengatauinya. Akan tetapi bagiku dengan beberapa kali kau, Ayahanda ku yang bijaksana justru dengan teganya beberapa kali membuat kakak tertua hampir saja meregang nyawa di medan pertempuran. Bahkan yang paling membuat ku kecewa terhadap Anda Yang Mulia Kaisar Yang Agung, disaat Anda mengirim Kakak tertua kami untuk memimpin pasukan menuju medan perang yang tengah terjadi perang hebat dengan Kekaisaran Benua seberang, yang selama ini kita kenal sangat licik. Namun begitu kau tahu bahwa Putra mu itu yang merupakan seorang Putra Mahkota yang seharusnya mempersiapkan diri dan juga belajar di dalam Kekaisaran, telah sampai di perbatasan sana. Kau justru dengan sengaja menarik semua Jendral maupun panglima perangn lainnya beserta seluruh para pasukan militer yang mereka pimpin, untuk kembali ke Ibukota Kekaisaran dengan alasan yang sangat tidak jelas dan tidaklah masuk akal sama sekali. Bahkan kau sendiri sangat paham dan tahu dengan jelas keadaan di perbatasan waktu itu, sangatlah genting dan berbahaya bagi Kakak tertua yang harus terus berjuang dan bertahan dalam situasi darurat hanya dengan jumlah pasukan yang terbatas. Dan andai saja saat itu aku dan juga Paman Xia Wei Yunho tidak bersikeras untuk menyusul ke sana bersama pasukan Keluarga Xia kami, kami tidak akan tahu telah menjadi apa akhirnya Kakak Sulung saat itu, Kalau kami tak segera tiba disana. Bahkan setelah kami dan para pasukan militer pribadi kami datang itu juga tidak mengubah banyak situasi disana. Dan andai saja adik... ah maksudku orang itu tidak datang untuk membantu dan membalikkan keadaan, maka sangat bisa dipastikan jika kami pulang hanya tinggal nama saja.” Kata Wang Xue Min dengan berapi-api dan hampir saja keceplosan jika yang membantu mereka adalah adik ketiga mereka yang tak lain adalah Wang Jin Tian (Mo Fei Tian)
“Bukankah pada akhirnya keputusan ku itu benar, karena nyatanya kalian semua dapat kembali dengan selamat dan membawa kan kemenangan?” kata Sang Kaisar dengan entengnya.
Karena sebenarnya selama ini apa yang dilakukan oleh Sang Kaisar Wang terhadap Ketiga Putra tertuanya itu adalah hasil hasutan dari Sang Permaisuri Xia Wu Mei.
Yang sedari dulu membenci Permaisuri Xia terdahulu dan juga ketiga putra kembarnya itu.
“Ternyata benar dugaan ku selama ini Gege. Bahkan orang tua kita sendiri tega melakukan semua itu dan tidak ada rasa bersalah ataupun penyesalan sedikit pun. Maka bisa dipastikan jika dirinya sengaja melakukan itu agar dirinya memiliki alasan untuk melimpahkan posisi Pangeran Mahkota kepada Putra Bibi kita tercinta itu, ketika kita tidak kembali dengan selamat ataupun tidak membawa kemenangan bagi Kekaisaran kita. Benar-benar pemikiran seorang Ayah yang sangat menakjubkan.” Ucap Pangeran Wang Xue Min dengan nada sarkastik.
“Duar...Duaaarrr...Duuuaaarrrrrr...!!!!
“Suara apa itu,” tanya Sang Kaisar Wang Junsi.
Namun tak ada yang menanggapinya, karena kedua anaknya telah begegas masuk dengan memanggil saudara kembar ketiga mereka.
“Tian’er...!!” teriak kedua kakak kembar itu secara bersamaan dan telah menghilang dari tempat awal mereka berdiri.
Sedangkan Kaisar Wang Junsi yang ditinggal oleh kedua putranya itu juga merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya telah terjadi didalam Kediaman tersebut sehingga menimbulkan suara ledakan yang begitu kerasnya.
__ADS_1
Akhirnya Sang Kaisar Wang Junsi itu mengikuti kedua Putranya untuk melihat keadaan yang terjadi di dalam sambil mengeluarkan gerutuan dan juga sumpah serapah yang seharusnya tidak dilakukan olehnya. Mengingat yang berada di dalam sana juga salah satu putranya.
“Dasar anak yang tidak berguna, hanya untuk menghadapi beberapa orang saja tidak sanggup. Apakah pantas dirinya itu disebut sebagai pangeran dari Kekaisaran terkuat dan termakmur di Benua Nanxuang ini. Maka lebih baik jika Ia tewas di dalam sana agar aku tidak perlu lagi menanggung malu karena memiliki seorang putra yang bodoh dan juga tidak berguna seperti itu.” Kata Sang Kaisar Wang Junsi yang kini mengomel sambil berjalan masuk ke kediaman yang ditempati oleh putra ketiganya itu.
Namun ketika dirinya telah memasuki ruangan apa yang dirinya lihat dan juga dirinya dengarkan sangat membuatnya terkejut dan juga merasa tak percaya dengan penglihatan dan juga pendengarannya sendiri.
Meski masih terhalang oleh sehelai kain sutra tipis sebagai tirai penutup pintu. Dan hanya menyisakan sebuah celah sedikit dibagian tengah.
Namun itu sudah cukup untuknya menyaksikan kejadian dan keadaan didalam ruangan saat itu.
Dan ketika dirinya mengetahui jika didalam sana terdapat empat orang pembunuh bayaran dengan kemampuan Kultivasi yang masing-masing orang berada di ranah Jendral Petarung tingkat puncak. Dirinya benar-benar terdiam seribu bahasa.
Namun dalam benaknya Ia juga merasa malu dengan apa yang tengah ia katakan tadi.
"Bahkan jika saat ini yang berada didalam ruangan ini dan melawan keempat pembunuh bayaran itu juga belum pasti bisa menang. Bagaimana dengan anak itu?" tanya Sang Kaisar Wang Junsi dalam hatinya.
Karena dirinya sendiri menyadari jika dirinya hanya kemampuannya sendiri yang juga sama-sama berada di ranah yang sama dengan para pembunuh bayaran itu. Ia belum tentu bisa mengalahkan mereka semua.
Belum selesai Sang Kaisar
Wang Junsi mengalami keterkejutan nya kini dirinya kembali dibuat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh salah satu pembunuh bayaran itu.
“Bola api merah keluarlah dan lahap Pangeran bodoh dari Kekaisaran Li itu, hancurkan tubuh dan tulangnya menjadi abu,” teriak pembunuh bayaran ke tiga yang sedari tadi telah terpancing amarahnya.
__ADS_1