Kembali Untuk Menjemput Takdir

Kembali Untuk Menjemput Takdir
Draft


__ADS_3

Bahkan saat ini pelayan yang menemaninya untuk pergi ke acara perayaan di Istana Kekaisaran begitu kagum melihat penampilannya yang menurutnya sangat luar biasa cantik. Hingga Ia sulit untuk menahan keinginannya untuk bertanya pada anak bungsu dari majikannya itu.


"Nona terlihat sangat cantik, Bahkan dengan riasan yang sederhana saja sudah sangat memukau. ini benar-benar luar biasa. Nubi ini baru menyadari jika ternyata penampilan Nona bungsu bahkan jauh lebih menawan jika dibandingkan dengan Jiejie Anda. Apakah selama ini Nona Shen Sie Mei memang sengaja menutupi penampilan cantik yang anda miliki ini dengan menggunakan banyak riasan seperti biasanya?" tanya sang pelayan.


"Kau baru tahu itu sekarang pun, juga belum terlambat. Lagi selama ini cukup bodoh karena selalu menurut dengan pengaturan Jiejie ku itu. Sehingga kecantikan ku ini selalu tersembunyi, dan tampak jauh dibawah penampilan lembut dan juga anggun Jiejie Sie Lie," ucap Shen Sie Mei dengan sangat tidak puas.


Sang pelayan kediaman yang bekerja untuk Selir Duan Yu Yan itu, akhirnya paham akan satu hal. Dan ia merasa sangat yakin dengan dugaannya ini.


"Menyaksikan hal ini, aku menjadi sangat yakin jika kedua Nona Muda Shen ini sedang tidak akur. Pantas saja Nona Muda bungsu ini memutuskan untuk tinggal di kediaman semalam, dan juga berangkat ke perjamuan di Istana Kekaisaran sendiri. Sebenarnya aku juga kasihan terhadap gadis kecil ini, melihat bagaimana Nyonya Duan lebih memiliki kecenderungan memihak pada putra dan putri sulungnya itu, benar-benar tidak adil bagi Nona bungsu ini," batin pelayan yang kini mendampingi Shen Sie Mei didalam kereta kuda.


Bahkan tatapan pelayan itu tampak begitu rumit, dan tampak seolah-olah ia menatap Shen Sie Mei dengan kasihan dan juga tak berdaya.


"Hai, mengapa kau memandangku seperti itu? Apakah ada yang aneh? Atau ada masalah apa di wajahku?" tanya Shen Sie Mei secara frontal pada pelayan nya. Karena dirinya merasa tidak nyaman dengan cara pelayannya itu melihatnya.


"Aah... tidak...tidak ada apa-apa Nona, nubi hanya terlalu kagum dengan kecantikan Nona bungsu yang menurut hamba melebihi kecantikan dari Nona tertua," kata pelayan itu dengan gugup, karena merasa tidak enak hati telah kepergok menatap sang majikan kecilnya itu.


"Hheehh.... aku tahu itu," balas Shen Sie Mei dengan sangat percaya diri dan angkuh.


"Tapi Nona, Apakah Anda yakin akan menghadiri Perayaan dalam Istana mengenakan pakaian yang seperti ini? Tidakkah Anda akan membutuhkan sebuah jubah, agar....."


Sebelum pelayan itu selesai berbicara sudah di serobot oleh Shen Sie Mei.


"Apanya yang salah dengan penampilanku? Bukankah kata mu tadi, Aku tampil begitu sempurna?" tanya Shen Sie Mei dengan sedikit tidak sabar.

__ADS_1


"Apa yang nubi katakan memang benar Nona, Nubi ini tidak berani untuk berbohong. Akan tetapi, dengan penampilan Nona yang demikian akan menimbulkan banyak kecemburuan dan juga masalah-masalah yang tidak kita inginkan. Selain itu semua orang akan berpikir yang tidak-tidak mengenai Nona Muda. Dan menganggap Nona Muda sebagai seorang wanita penggoda. Maafkan Nubi ini yang telah lancang." kata pelayan itu ragu-ragu dan juga merasa sangat bersalah.


"Apa yang kau tahu? Aku sudah susah payah berdabdan seperti ini tentu saja aku punya alasan sendiri. Selain itu, aku juga tidak akan pernah mengalah sedikitpun terhadap Shen Sie Lie itu mengenai Yang Mulia Pangeran Mahkota. Dan daripada kamu selalu ribut alangkah lebih baik dirimu diam dan memperhatikan jalanan.dan pergi carikan aku camilan karena aku masih lapar karena tidak sempat sarapan dengan benar tadi." balas Shen Sie Mei dengan ketus dan wajah di tekuk.


Yang menunjukan ketidakpuasan dan juga kekesalannya pada pelayan kepercayaan ibu Selirnya itu.


"Baik Nona, Hamba akan turun membelikan makanan setelah kita sampai di persimpangan jalan di depan. Kebetulan disana terdapat toko kue yang sangat terkenal yang disukai oleh Nona Sulung." kata pelayan itu, yang tanpa sadar menyebutkan nama seorang yang sangat dibenci oleh Shen Sie Mei saat ini.


"Huhh.... akan lebih baik jika kau tidak pernah menyebutkan dihadapan ku mulai saat ini," ucap Shen Sie Mei dengan penuh penekanan.


"Baik Nona, Nubi ini mengerti," balas sang pelayan denagn cepat.


Dan setelah itu pelayan tersebut mengintruksikan kepada kusir untuk berhenti di dekat toko kue di persimpangan jalan.


Dan kemudian pelayan yang menemaninya segera turun untuk membelikan apa yang diperintahkan oleh Sang Nona.


Namun pada saat itu juga Shen Sie Mei melihat sebuah kereta kuda yang sangat mewah dan juga elegan yang tampak sangat familiar dimatanya.


"Benar-benar tak ku sangka, jika dia sungguh berhasil menaiki kereta kuda yang sangat menakjubkan itu," kata Shen Sie Mei dengan sangat sinis, serta kilatan kebencian yang tak bisa Ia tutupi.


Selain itu pandangannya selalu mengikuti ke mana arah kereta kuda yang sangat Ia dambakan itu pergi.


"Ini cukup aneh, Mengapa kereta itu melaju bahakan tanpa iring-iringan pengawal bersamanya. Aku juga tidak melihat Ayahanda sama sekali. Hanya seorang pemuda bersama seorang pengawal yang menunggang kuda. Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Shen Sie Mei bingung.

__ADS_1


Ditengah kebingungan yang telah melanda hatinya tiba-tiba saja Shen Sie Mei mendengar suara bising dan derap langkah kuda serta suara kereta yang beriringan.


Dan ketika Shen Sie Mei kembali mengarahkan pandangannya ke arah jalan jalan, pemandangan yang ia lihat adalah sesuatu yang sebenarnya sedang dirinya nantikan sedari awal.


"Bagus sekali, semua sesuai rencana ku. Bahkan kami dipertemukan di waktu yang tepat. Sepertinya langit masih berpihak kepada ku." gumam Shen Sie Mei.


"Ayah, kau harus menegakkan keadilan untuk Putrimu ini, Aku ingin menuntut monster yang terlihat lembut itu yang telah mengelabui dan membodohi diriku setiap saat. Sedangkan wanita jahat itu bahkan akan selalu tampil lemah lembut dan juga sempurna dihadapan seluruh Keluarga Jendral." batin Shen Sie Mei yang masih memperhatikan keramaian di jalanan.


Dan tepat ketika dirinya menemukan sebuah kereta kuda yang sangat tidak asing baginya. diantara rombongan dari kediaman Jenderal Shen Guo Feng itu, dia mendapatkan sebuah pemandangan sebuah kereta yang selalu menjadi alat transportasi kemanapun dirinya dan juga Jiejie nya Shen Sie Lie.


Shen Sie Mei benar-benar terkejut dan sedikit panik ketika secara tidak sengaja dirinya bertemu pandang dengan Sang Jiejie nya yang sangat keji.


Sehingga tanpa sadar Shen Sie Mei langsung menghindar dan mencoba menutup tirai kereta.


Dalam hatinya Ia merasa sedikit lebih senang dan bersemangat setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa kakak perempuannya yang baik hati itu todak menggunakan kereta mewah tersebut.


"Kalu bukan orang itu, lantas siapa yang berani menggunakan kereta peninggalan mendiang Ibunda Nian? Apakah sampah itu? bukankah gadis sampah itu dan Gege pertama telah meninggalkan kediaman Jenderal selama berhari-hari?" kata Shen Sie Mei yang semakin bingung.


Namun tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara yang tiba-tiba menghampiri dirinya.


"Ada apa dengan Anda Nona? Apakah ada sesuatu yang me ganggu Anda, selama saya pergi?" tanya Sang pelayan yang telah kembali setelah membeli beberapa makanan ringan dan juga sebuah jubah yang berwarna senada dengan gaun yang digunakan oleh Shen Sie Mei.


"Mengapa kau lama sekali? Memangnya apa saja yang telah kamu beli? cepat perintahkan kusir segera jalan dan menyusul rombongan di depan." perintah Shen Sie Mei dengan tidak sabaran.

__ADS_1


__ADS_2