
Namun meski bagaimanapun bagi Shen Yu Lin, Xi Lilian adalah adik kesayangannya untuk selamanya. Saudara kandung satu-satunya yang dia miliki saat ini.
Saat ini Shen Yu Lin benar-benar merasa sangat bersalah karena selama ini dia telah gagal menjaga tubuh adiknya dan juga separuh jiwa miliki ibundanya yang tersisa dan bersemayam dalam tubuh sang adik.
Yang selama ini ia tinggal pergi begitu saja ke akademi. Dengan seluruh ambisinya untuk segera menjadi kuat untuk melindungi sang adik dikemudian hari.
Namun yang tidak ia ketahui bahwa dia akan melewatkan kesempatan terbesar untuk bisa melindunginya.
Karena begitu dia kembali keadaan telah berbeda dari sebelumnya. karena jiwa adiknya yang sesungguhnya telah kembali menempati tubuhnya sendiri.
Shen Yu Lin sungguh-sungguh menyesali kebodohannya itu.
Andai saja Ia tidak menuruti kemauan Sang Ayah, setidaknya dia masih memiliki kesempatan untuk menjaga adik dan juga ibundanya untuk disisa waktunya. Sebelum jiwa adiknya kembali.
"Bodoh.... benar-benar bodoh... mungkin hanya akulah seorang kakak yang tak bisa melindungi adiknya sendiri dan juga melewatkan kesempatan untuk berbakti pada bunda begitu saja, dan malah memilih pergi mencari kesenangan hidup sendiri," batin Shen Yu Lin.
Xi Lilian yang mengerti perasaan Gegenya itu pun mulai menghampirinya dan juga menggandeng serta memeluk lengan pemuda itu dengan penuh kasih.
“Gege, semuanya bukan salah gege, lagi pula gege lah satu-satunya orang yang peduli padaku maupun ibunda di dalam kediaman jendral itu. Aku sangat bersyukur memiliki seorang abang kandung yang selalu perhatian dan juga peduli padaku. Dan tentu saja ibunda juga pasti akan bangga. Justru Lian’er yang harus meminta maaf pada kalian semua, karena kehadiranku di kandungan ibunda itu membuat kalian kehilangan ibunda lebih awal,” kata Xi Lilian dengan penuh penyesalan dan juga rasa bersalah.
“itu semua bukan salah Anda Yang Mulia....”
Ucapan Shen Yu Lin dipotong secara tegas oleh Xi Lilian.
“Apanya Yang Mulia, siapa yang kau sebut itu, aku tetaplah Lian'er kecil dan juga adik kesayangannya mu jika Gege masih menginginkan aku,” ucap Xi Lilian dengan sendu di akhir kalimatnya.
__ADS_1
Shen Yu Lin yang tidak tahan ketika melihat sang adik merasa sedih dan juga menyalahkan dirinya sendiri langsung saja memeluknya dan mencium pucuk kepalanya dan mengatakan dengan lantang dan yakin.
“Aku adalah abang mu, dan kau adalah adik kesayangan ku untuk selamanya. Bahkan jika kau telah bersuami pun aku tak akan pernah melepaskan mu begitu saja kalau sampai ada orang yang menggertak mu, maka aku akan selalu ada untukmu, meski aku tak sekuat dirimu, tapi aku sangat bersedia menjadi tameng bagimu untuk seumur hidupku," kata Shen Yu Lin dengan penuh keyakinan.
Mo Fei Tian yang tersentuh akan hubungan kedua kakak beradik yang saling menguatkan itu akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu hal untuk keduanya.
Dan mungkin ini juga kali terakhir baginya bisa melakukan hal ini untuk mereka semua.
“Lian’er, Kakak ipar dan semuanya, aku membawa seseorang yang ingin bertemu dengan kalian semua, dan kemungkinan ini adalah kesempatan terakhir baginya untuk bisa menemui kalian semua secara langsung,” kata Mo Fei Tian pada semua orang yang ada disana.
Setelah itu Mo Fei Tian melakukan gerakan tangan untuk membuka sebuah portal kecil yang kemudian muncul sinar dan juga muncul sosok bayangan yang sangat mereka kenali.
Xi Lilian dan juga Shen Yu Lin yang melihat fitur wajah yang indah itu, mereka segera berlari mendekat pada bayangan itu yang merupakan jiwa dari Xi Yu Nian. Ibunda mereka berdua.
“Bunda ...!” seru Xi Lilian dan juga Shen Yu Lin bersamaan. Bahkan air mata mereka berlinang dan membasahi kedua pipi mereka.
“heii... kenapa kalian malah menangis? Apakah kedua kesayangan bunda ini tidak ingin bertemu bunda kalian ini? Kalian Putra dan Putri bunda yang paling bunda sayangi. Kalian telah tumbuh semakin dewasa sekarang," kata roh jiwa Xi Yu Nian dengan nada bercanda untuk menghibur kedua buah hatinya itu.
Yang seketika mendapat gelengan kepala dari kedua Putra dan Putrinya itu. karena saking senangnya bisa berjumpa dengan ibundanya. mereka berdua sampai tak bisa berkata-kata.
"Maafkan ibunda yang tak bisa menemani dan menyaksikan kalian tumbuh besar sampai seperti sekarang ini, menjadi remaja yang tangguh dan juga berbudi luhur,” kata kata dari jiwa Xi Yu Nian itu dijeda sejenak.
Dia memandangi wajah putri kecilnya yang kini telah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik jelita. Dengan senyuman yang tak pernah pudar dari bibir jiwa Xi Yu Nian.
“Lian’er putri kecil bunda yang hebat, maafkan bunda yang terpaksa harus menjauhkan jiwamu dari seluruh keluarga sayang. Yakinlah jika bunda tidak pernah berpikir untuk menyingkirkan ataupun membuang mu, sayang. Bunda terpaksa melakukan semua itu. Karena bunda sangat mencintaimu. Dan bunda ingin dirimu tumbuh dengan baik. Maafkan bunda juga yang tidak bisa menjaga tubuhmu dengan baik hingga kau bisa kembali menempatinya sayang. Tapi sekarang bunda lega bisa menyaksikan dirimu seperti ini. Apalagi kau telah menemukan takdir mu. Bunda merasa jauh lebih lega sekarang,” ucap jiwa Xi Yu Nian dengan penuh kasih sayang yang tulus.
__ADS_1
“Terima kasih bunda, dan Maafkan Lian’er Bunda, karena Lian’er bunda menjadi seperti ini,” kata Xi Lilian dengan berderai air mata membasahi seluruh pipinya hingga bajunya juga ikut basah karena air matanya yang terus mengalir deras.
“Dasar gadis bodoh, tentu saja ini bukan karena mu ataupun salahmu. Tapi memang sudah seharusnya bunda melakukannya. Demi permata hati bunda yang cantik ini.” Ucap Xi Yu Nian untuk menenangkan sang putri
Dan dia juga ingin menghapus air matanya dengan tangannya, namun ia lupa jika dia tak bisa lagi melakukannya karena dirinya saat ini hanyalah sebuah jiwa tanpa raga yang nyata.
"Tapi jika bukan karena Lian'er maka bunda tidak perlu melakukan hal yang merenggut seluruh kekuatan dan juga jiwa Bunda. sehingga dengan begitu bunda masih memiliki waktu yang cukup untuk bersama yang lainnya," kata Xi Lilian dengan lirih.
"Lian'er dengarkan Bunda, meskipun bunda tidak melakukan semua itu pun, bunda juga tidak yakin apakah Bunda bisa bertahan berapa lama, karena bunda lebih mengetahui kondisi tubuh bunda kala itu. Dan apakah kau berpikir jika mereka akan diam saja ketika mendengar kabar mengenai bunda yang masih bisa bertahan setelah melahirkan bayi. Bunda tau dengan pasti jika mereka akan melakukan rencana yang lain untuk segera melenyapkan ibumu ini, yang mereka anggap sebagai penghalang bagi mereka. jadi bunda tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa melindungi dirimu sayang, putri bunda yang jelita ini. Dan tentunya dirimu juga tahu jika ada seseorang yang selalu setia menantikan dirimu kembali untuk bisa menjalani takdirnya kembali. Apakah kau tak memikirkan perasaannya ketika kau bersikap seperti ini?" kata Xi Yu Nian menjelaskan dan juga menggoda Xi Lilian yang entah sejak kapan wajahnya hingga ke telinganya telah merah merona.
"Ibu kau...ehm terima kasih untuk semuanya yang Bunda lakukan untuk Lian'er," kata Xi Lilian dengan muka yang menunduk karena tersipu malu.
"Ah...kau ini putriku. jadi untuk Apa kau perlu mengucapkan terima kasih pada ibumu ini? Dasar gadis konyol," jawab Xi Yu Nian dengan senyum mengembang ketika melihat sang putri yang masih tersipu.
Akan tetapi ia juga tidak lagi menggoda putri kesayangannya itu. karena dia juga merasa tak enak hati jika harus memojokkan sang putri.
Namun tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara seseorang yang sangat Agung.
"Ibu mertua memanglah irang yang baik hati, betapa beruntungnya aku memiliki seorang ibu mertua yang sangat perhatian dan memikirkan perasaan menantunya ini yang selalu menantikan istri dalam kesepian," kata Mo Fei Tian sambil melangkah mendekati Xi Lilian dan merangkul pundaknya dengan lembut.
Dan itu membuat Xi Lilian semakin tersipu malu, hingga ia menutupi wajahnya yang semakin memerah dengan kedua tangan nya.
Sedangkan Xi Yu Nian hanya bisa tersenyum melihat keintiman mereka berdua dan juga dalam hatinya dia bersyukur atas kebahagiaan yang putrinya dapatkan, setelah kesedihan yang harus ia tanggung di kediaman Jendral.
Setelah itu jiwa Xi Yu Nian beralih memandang putra tertuanya. Ia memberikan senyuman yang penuh kasih sayang yang telah lama dirindukan oleh Shen Yu Lin.
__ADS_1
“Lin’er putra kecil bunda sekarang telah tumbuh dewasa. Bunda sangat bangga dengan Putra Sulung Bunda yang satu ini. Kau tidak hanya berani membela dan melindungi Adikmu, tapi kau juga berjuang untuk menuntut keadilan bagi adikmu. Bunda benar-benar kagum dengan sikap dan pribadimu yang selalu tulus itu sayang. Sekarang bunda tak lagi khawatir seperti dulu. Maafkan bunda yang telah meninggalkanmu dan tidak menemani mu untuk membacakan buku cerita lagi ketika kau hendak tidur. Tidak bisa membuatkan pau kesukaanmu lagi. Dan yang terpenting tidak bisa lagi menyisir kan rambutmu seperti dulu ketika kau kecil yang selalu susah dan tidak mau untuk mengikat rambut. Maafkan bunda yang harus melewatkan masa-masa itu untuk mu Lin’er. Namun yang harus kau tahu adalah bahwa sampai saat ini dan sampai kapanpun bunda tetap menyayangi putra bunda yang imut itu yang kini telah menjelma menjadi seorang pria muda yang sangat rupawan,” ucap Xi Yu Nian sambil menggoda putra sulungnya itu.