
Teriknya Sinar mentari membuat Dira terbangun, karena silau. Dira sedikit mengeliatkan badan, dan mencari keberadaan Arya. Namun yang di cari tak ada di tempat, hingga membuat Dira kesal.
"Biasa habis manis, sepah di buang. Semalam habis hot, sekarang hilang seperti hantu!" gerutu Dira sambil memakai baju yang berserakan di lantai. Namun tak lama Dira bangun, keluar lah Arya dari kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat.
"Kamu kenapa, Kak?" tanya Dira yang merasa khawatir. Dira sangat menyesali perkataannya tadi, Dira pikir Arya meninggalkannya. Tapi ternyata Arya ada di kamar mandi, karena memuntahkan semua isi perutnya.
"Kepalaku sakit, perutku juga mual, aku dari jam lima pagi tadi selalu berada di wastafel. Aku muntah-muntah dari tadi, kayaknya aku salah makan deh Sayang," balas Arya dengan lemas. Sedangkan Dira langsung menghampiri suaminya, dan mengecek suhu tubuh Arya.
"Terahir kamu makan apa?" tanya Dira sambil mengusap keringat Arya yang bercucuran.
"Semalam sih aku makan seperti biasanya, gak ada yang lain. Cuma semalam aku terlalu banyak minum nutrisi deh, jadi umor," balas Arya dengan tersenyum. Namun Dira masih tetap khawatir, karena baru kali ini Arya sampai muntah-muntah.
"Maksudnya susu aku sudah, ex Payet?" tanya Dira dengan rasa takut. Kali aja, nutrisi yang di minum Arya sudah kadaluwarsa.
"Bukan ex Payet. Mungkin aku terlalu banyak minum jadi umor, kan semalam aku minum berkali-kali," jawab Arya agar menenangkan Dira.
"Aku takut, Kak. Lebih baik,stop nutrisi dulu. Aku takut Kakak kenapa-napa." Arya pun semakin di buat gemas, tanpa tunggu lama Arya langsung memeluk Dira sangat erat.
"Jangan! Aku masih mau tau, lagian ini hanya berlebihan saja. Nanti juga hilang, kan sayang kalau gak di minum," Rengek Arya sambil memegang gunung kembar Dira.
"Masih sempet kamu mikir nyusu lagi. Dasar mesum, pokoknya gak boleh minum susu kalau kamu belum sembuh Kak!" Putus Dira. Sedangkan Arya hanya bisa pasrah, karena memang dia masih belum kuat memikirkan hal itu.
"Ayo kita ke kamar tamu saja, bisa jadi kamu masuk angin gara-gara tidur di lantai, Kak." Ajak Dira dengan memapah Arya keluar dari kamar. Namun saat mereka sampai di ruang tamu, opah Wiguna sudah datang untuk menjemput Dira dan Dinda.
"Mau kemana kalian?" tanya opah Wiguna yang duduk di atas sofa. Seketika Dira dan Arya langsung berhenti mendengar ucapan opah nya, karena nada bicara opah yang terlalu dingin.
"Dira mau antar Kakak tidur di kamar tamu, Opah. Kakak sepertinya masuk angin karena tidur di lantai, jadi ini Dira mau pindah ke kamar tamu," jawab Dira jujur. Sedangkan Arya kembali menepuk jidat, saat Dira keceplosan.
"Memang kenapa dengan ranjang kalian? Apa kurang nyaman hingga tidur di lantai, kalian ini sungguh aneh-aneh saja," balas Opah dengan tatapan menyelidik.
"Buka aneh-aneh, Opah. Kakak terlalu bersemangat hingga ranjangnya jebol, jadi semalaman kita tidur di bawah," ucap Dira tanpa dosa. Arya sungguh meruntuki kepolosan Dira, bagaimana bisa dia bercerita dengan lancar tanpa ada kendala, seperti jalan tol.
Sepertinya ini karma untukku, aku selalu membodohi Dira. Dan sekarang aku di permalukan Dira, karma memang ada, gumam Arya dalam hati.
__ADS_1
"Oh.... Padahal itu ranjang yang di belikan Papamu , dengan jerih payahnya. Setau Opah ranjang kalian terbuat dari kayu jati, jika sampek jebol. Berati Arya seperti binatang buas," balas Opah dengan menatap tajam cucu lucknut nya itu.
"Emm, Opah. Ranjangnya Dira ganti sebelum pernikahan, kan Kakak bilang, terserah kamarnya mau di bikin seperti apa. Jadi ranjangnya Dira ganti, karena saat kita jalan-jalan di Mall, Dira kepincut modelnya," ucap Dira cengengesan.
"Terus ranjang yang lama kemana, gak mungkin kamu buang kan?" Dira pun langsung menggelengkan kepala.
"Tidak, Opah! Ranjangnya masih utuh, di kamar tamu. Sepertinya, ranjang lama mau ku ambil lagi. Di dalam sudah gak ada ranjang," balas Dira sambil garuk-garuk kepalanya.
"Ya sudah, biarkan dia pergi sendiri ke kamar. Kamu ikut dengan Opah sebentar, ada yang ingin Opah bicarakan," ucap Opah pada Dira. Namun setelah itu, Arya langsung protes.
"Tapi Arya ingin di antar Dira, Opah!" Protes Arya. Namun lagi-lagi, Opah langsung memberikan tatapan tajam untuk Arya.
"Kalau kamu di antar Dira, Opah yakin akan lama! Yang tadinya memerlukan waktu 5 menit menjadi 2 jam, karena kamu pasti mengurung Dira!" balas Opah sangat kesal. Padahal dia hanya ingin bicara 10 menit, gak lebih, tapi Arya tak mengizinkan itu.
"Terserah, Opah!" Arya pun langsung pergi meninggalkan Dira dan Opah di ruang tamu. Bahkan Arya terus berjalan dengan mulut yang tak berhenti mengumpat, karena kesal. Sedangkan Dira, yang mendengar umpatan Arya langsung bernapas panjang.
"Huft!"
"Jangan takut, dia gak akan marah lama-lama. Cepat kesini, Opah mau bicara sama kamu," titah Opah Wiguna. Dira yang disuruh duduk pun mengikuti kemauan Opah. Dengan jantung yang bergemuruh, Dira mencoba menatap mata Opah nya itu.
"Boleh, Opah," jawab Dira dengan lembut, selembut kapas.
"Sebelumnya Opah minta maaf, saat sepeninggal Vano, Opah gak datang. Begitu juga saat kamu menikah dengan Arya, kamu tau kan usia Opah sudah gak memungkinkan untuk bolak-balik naik pesawat," ucap Opah dengan lembut. Bahkan Dira tak melihat kegarangan, seorang Wiguna lagi.
"Ini juga Opah terpaksa datang kesini, karena Seto menghubungiku. Dia bilang perusahaan selalu di terlantarkan, dan suamimu dan juga mertuamu sama-sama gak becus," ucap Opah sekali lagi. Bahkan Dira melihat wajah lelah di mimik muka Opah nya, Dira merasa ada beban yang belum Opah nya selesaikan.
"Gak apa-apa, Opah. Dira tau bagaimana lelahnya Opah menanggapi kak Arya, tapi Dira janji akan merubah kak Arya agar lebih tanggung jawab lagi, dengan pekerjaannya," balas Dira dengan tersenyum lembut.
"Baiklah Opah percaya, tapi ada sesuatu yang ingin Opah tanyakan. Apa Opah boleh bertanya?" tanya Opah. Dira yang di tanya pun langsung mengangguk pasti.
"Apa kamu mencintai, Arya?" Dira pun mulai bingung dengan pertanyaan Opah, dia merasa ada yang ganjal. Apalagi bertanya seperti ini, sudah jelas kan Dira menikah dengan Arya karena Vano juga karena cinta yang datang tiba-tiba.
"Kenapa Opah bertanya, seperti itu? Bukannya Opah sudah tau jawabannya, dan tanpa di tanya pun Opah juga tau, jika Dira sangat mencintai kak Arya," jawab Dira dengan pasti.
__ADS_1
Opah pun langsung menatap Dira dengan raut wajah senduh, Dira yang melihat raut wajah Opah nya pun semakin bingung.
"Opah, kenapa?" tanya Dira yang penasaran. Dengan cepat Opah menjawab, dan menjelaskan semuanya.
"Kamu sudah melupakan Vano? Opah sangat sedih melihat semuanya, di rumah ini sama sekali tak ada yang rindu dengan kehadirannya. Hanya Opah yang sangat merindukan cucu kesayangan, Opah," ucap opah Wiguna dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Dira langsung terkejut mendengar penuturan, sang Opah.
"Kenapa Opah bilang begitu? Dira tetap mencintai Vano, jauh di lubuk hati Dira masih ada nama Vano. Dia akan selalu ada di hati Dira yang paling dalam, tapi Opah juga tau kan. Jika suami Dira sekarang kak Arya, jadi sebisa mungkin Dira harus mencintainya," jawab Dira dengan tatapan serius.
"Dengarkan Dira, Opah. Walaupun Vano telah tiada, tapi Dira selalu mengirimkan dia doa setiap hari. Dira memang jarang ke makam Vano, tapi Dira selalu kirim doa. Yakinlah jika Dira sama sekali gak melupakan, Vano." Dira terus menjelaskan semuanya. Jujur memang jauh di lubuk hati Dira, masih tersimpan nama Vano.
"Maafkan Opah, Dira"
"Opah gak salah. Tidak ada yang salah dalam hal ini Opah, jadi Opah jangan pernah berfikir jika kami melupakan Vano. Karena Vano masih ada di dalam hati Dira, dia akan kekal abadi di dalam sini," Ucap dira sambil menunjuk dadanya.
"Terima kasih karena tidak melupakan Vano. Ini Opah ada sesuatu untuk kamu, anggap saja ini kado pernikahan dari Opah." Wiguna pun mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi kalung berlian yang sangat mahal. Dira yang merasa terkejut pun hanya bisa melongo, karena Dira tau itu sangatlah mahal.
"Opah, ini sangat berlebihan. Dira gak mau menerima ini," tolak Dira sangat sopan.
"Terimalah, jika kamu menolak sama saja kamu tak menghargai, Opah." Ancam Wiguna. Dira yang merasa bingung pun akhirnya menerima pemberian Opah nya, Dira gak mau di cap cucu menantu yang gak tau berterima kasih.
"Terima Kasih, Opah."
*
*
*
*
Happy Reading
Sambil nunggu cerita ini, kalian bisa jalan-jalan ke cerita temen aku yang namanya Sambel Timun lohh. Gak kalah keren, ceritanya.
__ADS_1
Judulnya Muara kasih sayang.