Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 51 Pertengkaran di rumah sakit


__ADS_3

"Keluarga, bu Fani?" panggil seseorang dokter.


"Iya saya, dok," jawab Arya.


"Ada hal serius yang saya ingin bicarakan tentang kondisi, bu Fani. Dan saya harap, suaminya bisa iku saya ke ruangan," ucap dokter Frengky sekali lagi.


"Tapi, suaminya..."


"Saya, suaminya." Sintal pun langsung memotong pembicaraan Arya, dan mengaku sebagai suami Fani.


"Kamu, apaan sih?" tanya Arya yang sangat terkejut. Sedangkan yang di tanya hanya acuh tak acuh.


"Kapan dokter Sintal, menikah?" tanya dokter Frengky, yang merasa bingung.


"Tiga bulan yang lalu!" jawab Sintal sangat kesal.


"Kenapa dokter tak mengundang, kami?" tanya dokter Frengky lagi dan lagi. Sungguh emosi Sintal sudah sampai di ubun-ubun, bagaimana bisa masih bisa bertanya di saat genting begini.


"Memang nikah harus koar-koar ya? Cepat apa yang ingin dokter katakan, karena saya gak mau terjadi apa-apa dengan Fani!" Terlihat dokter Frengky langsung gelagapan, dia tau saat ini Sintal sedang kesal dengan dirinya.


"Oh... Maafkan, saya. Ayo ikut saya kedalam, nanti saya jelaskan." Sintal dan Frengky pun memasuki ruang tersebut, sedangkan Dira dan Arya masih tak percaya apa yang di katakan Sintal barusan.


"Kak... Bukannya dokter Sintal bilang tak suka dengan wanita ya? Kenapa sekarang ngeklaim kak Fani, sebagai istrinya?" tanya Dira yang sangat bingung.


"Entahlah. Mungkin saja ada dewa maut yang merasuki tubuh Sintal, hingga dia bisa berkata seperti itu kemarin," jawab Arya acuh tak acuh.


Lama mereka berdua menunggu Sintal, namun tak kunjung keluar hingga membuat Dira memikirkan perkataan Dinda di rumah. Arya yang tau Dira melamun pun akhirnya memberanikan diri bertanya.


"Kamu, kenapa?" tanya Arya sangat lembut.

__ADS_1


"Kak, ada sesuatu yang ingin Dira bicarakan. Sepertinya memang kita harus berpisah dulu sampai kita menikah, aku akan kembali ke Malang dan kakak tetap di sini bersama Mama," ucap Dira sedikit ragu. Sedangkan Arya langsung menoleh ke arah Dira, dengan tatapan tak setuju.


"Gak bisa!" tolak Arya sedikit membentak. Terkejut iyalah terkejut, wong Arya berkata sangat keras.


"Kak kita sudah dewasa, harusnya mengerti sedikitlah. Malu di lihat orang, ucapan mama ada benarnya juga. Kita belum muhrim, tapi kita sudah berani melakukan hal-hal yang di luar nalar. Semenjak kita memutuskan menikah, mama selalu was-was takut kita kebablasan, jadi Dira mohon izinkan Dira balik ke Malang," ucap Dira dengan muka memohon.


"Aku gak mau Dira! Biarkan saja mama, kaya gak pernah muda saja," dengus Arya. Sungguh Dira ingin sekali getok kepala Arya, karena dia selalu saja bersikap seperti ini.


"Aku malu tau, Kak. Dulu aku polos, setelah kenal kamu aku jadi kaya gini dan asal kamu tau Kak! Banyak yang mengata-ngataiku saat melihat kemesraan kita, bukan karena dia iri, tapi karena kita belum terhubung dengan ikatan suci," balas Dira lagi. Bahkan kini Dira sedikit merajuk.


"Kenapa sih harus dengerin kata orang? Kita hidup gak minta makan orang kok, kita kemana-mana juga pakek uang sediri kenapa musti mikirin omongan orang?"


"Memang kita makan gak minta orang. Tapi tetap saja malu tau, aku dulu sama Vano gak seperti ini loh kak! Dulu aku pendiam, lugu, polos setelah kenal kamu aku ikut-ikutan mesum dan otakku jadi gesrek!" ucap Dira sangat jengkel, karena Arya selalu menjawab ucapannya.


"Bagus dong! Kamu ada perubahan, itu namanya kamu sudah bangkit dari keterpurukan dan aku sangat berpengaruh hingga membuatmu berubah!" Sungguh Dira sangat capek, karena Arya sama sekali tak bisa mengerti. (Sama ke authornya, juga capek. Capek hati.)


"Tau deh! Terserah kamu, Kak! Tapi jangan salahkan aku, jika aku berubah sikap karena kamu gak mau diatur!" Arya pun akan melayangkan protes tapi niatnya di urungkan setelah melihat Sintal keluar dari ruang dokter.


"Fani hampir saja keguguran. Tapi Alhamdulillah, semuanya sudah stabil, janinnya juga bisa di selamatkan," ucap Sintal yang terlihat lega. Begitu juga Dira, dia juga sangat lega mendengar berita baik ini.


"Alhamdulillah, kalau gitu," ucap Dira sambil tersenyum. Namun berbeda dengan Arya, dia masih saja ngambek karena Dira ingin berpisah.


"Kenapa itu, Bulldog?" tanya Sintal pada Dira. Sedangkan Dira Plonga-plongo karena tak tau siapa yang di maksud Sintal.


"Maksud dokter, siapa?"


"Itu sebelah, kamu." Dira pun langsung menoleh ke arah Arya yang masih setia cemberut, dan tak ingin bersuara sedikitpun.


"Biasa... Biarkan dia sendiri, Dok," ucap Dira acuh, dan Sintal pun tau jika mereka habis berdebat, karena Sintal tau sikap Arya. Jika marah akan seperti setan, tapi kalau ngambek seperti bocah.

__ADS_1


"Kalian pulanglah, biar Fani aku yang urus. Lebih baik kamu urus bayi besarmu itu," pinta Sintal dengan nada mengejek. Arya yang merasa tersindir langsung menatap tajam Sintal, dan ingin sekali menonjok Sintal.


"Gak perlu kamu usir, aku akan pergi. Dira kamu pulang naik taxi saja, aku ada urusan di kantor!" Setelah itu tanpa pamit Arya langsung meninggalkan Dira sendiri bersama Sintal.


"Sepertinya Arya marah beneran, Dira." Sintal menatap mimik muka Dira yang senduh,atau bisa dibilang sangat sedih.


"Dok... Boleh pinjam uang 100rbu, hak?" ucap Dira yang membuat Sintal terkejut.


"Buat, apa?" tanya Sintal yang penasaran.


"Apa dokter gak tau, kalau aku di tinggal kak Arya? Dokter juga tau kan, jika aku berangkat sama kakak tanpa membawa dompet. Jadi aku ngutang dulu, nanti sampai rumah Dira transfer." Sintal pun langsung menggeleng-gelengkan Kepalanya, tapi dia juga langsung mengeluarkan uang 200ribu.


"Gak perlu dibalikin, aku ikhlas kasih ke kamu," ucap Sintal sambil mengelus lembut kepala Dira. Sedangkan Dira langsung berbinar, saat Sintal berkata seperti itu.


"Seriusan, dok?"


"Sama uang saja, langsung ilang itu sedihnya. Iya itu kamu ambil, anggap saja aku seperti kakakmu jangan panggil dokter atau ada istilah ngutang. Kalau butuh uang bilang saja," ucap Sintal sekali lagi. Sedangkan Dira langsung mengangguk, dan berterima kasih pada Sintal.


"Makasih, kak Sintal." Setelah itu Dira langsung pergi dari rumah sakit dengan hati yang senang, karena ada seseorang yang menganggapnya adik. Sungguh Dira sangat rindu kakaknya, tapi Dira tak tau dia di mana.


"Andai Tia tidak di culik, mungkin dia seumuran dengan Dira. Bagaimana keadaan kamu sekarang, Tia. Kakak kangen sama kamu, dek, papa, mama juga kangen sama kamu. Cepatlah pulang," tanpa sadar Sintal meneteskan air mata, saat mengingat adiknya yang selama ini hilang.


"Andai waktu bisa di putar, aku akan menjaga adikku waktu itu. Namun sayangnya, aku masih kecil belum tau apa-apa."


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


Maaf lagi gak mood, tapi ini naskah gak aku rubah. Yang ini masih sama, seperti dulu.


__ADS_2