
Kini Angga dan Dewi menunggu di depan UGD. Baby-Twins juga selalu rewel, dan menangis. Mereka seakan tau, jika Mommy-Nya sedang ada masalah.
Bahkan daritadi mereka selalu memanggil-manggil Dira, sehingga membuat Dewi semakin menangis. Dewi tak pernah membayangkan, jika anak dan cucunya akan mengalami nasip seperti ini.
"Diam, Sayang. Mommy sedang di priksa, kalian jangan rewel ya. Kasian Mommy, jika kalian rewel," ucap Dewi sedikit terbata-bata karena menangis.
"Mom ...."
"Iya, Nak. Mommy sedang di dalam, lagi di periksa dokter. Ardi gak boleh nakal, karena Mommy lagi sakit." Seketika tangisan Ardi pun berhenti.
Seakan dia mengerti dengan ucapan Dewi. Bahkan Ardi kini diam sambil menatap pintu UGD, seperti menanti seseorang keluarga dari sana.
"Momm ... Momm ...."
Sungguh terdengar sangat pilu. Panggilan Ardi pada Dira, sambil terus menunjuk ke arah pintu.
Dewi yang tak tega langsung memeluk cucunya itu. Dewi menangis sejadi-jadinya, melihat kemalangan mereka.
"Nasibmu, Nak. Daddy-mu belum juga sadar, sekarang kalian harus menerima keegoisan Nenek kalian. Nenekmu sangat tega memisahkan kalian, dengan Daddy-mu." Isak Dewi sambil terus memeluk Ardi.
Sedangkan Elin langsung terisak. Elin gak kuat melihat penderitaan seorang anak yang baru saja berusia 9 bulan itu.
"Mbok, aku gak kuat melihat ini. Mereka masih kecil, kenapa harus mendapatkan cobaan seperti ini. Tuhan sungguh gak adil, aku sakit melihat ini semua," ucap Elin sambil menangis.
Elin tak perduli jika di bilang lebay, tapi dia benar-benar menangis. Elin gak kuat melihat penderitaan Dira, dan Baby-Twins.
__ADS_1
"Mbok juga gak tega, neng Elin. Mbok gak bisa berkata-kata lagi, sungguh berat cobaan bu Dira," balas Ria yang juga ikut menangis. Untungnya Raya langsung tidur, saat Ria menimang-nimang Ria saat di depan UGD.
"Elin gak mau nikah kalau seperti ini, Mbok. Elin lebih memilih sendiri saja, mertua itu sangat kejam," ucap Elin sekali lagi.
"Hust ... gak boleh seperti ini, karena itu gak baik. Gak semua mertua seperti itu, ini hanya kesalahpahaman saja." Elak Ria.
Namun tak lama setelah itu, seorang dokter keluar dari dalam UGD. Dengan cepat dewi, dan Angga mendekati dokter.
"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Angga sangat cepat.
"Bu Dira hanya kecapean saja, dan satu lagi saat lihat dia kekurangan kalsium. Tapi ini juga wajar bagi ibu hamil, di awal kehamilan," jelas Dokter Edward.
Namun penjelasan dokter Edward tak masuk di otak Dewi, apalagi dengan kata-kata ibu hamil. "Hamil?" tanya Dewi sangat penasaran.
Seketika Angga langsung mengusap wajahnya sangat kasar. Masalah satu belum selesai, sekarang mendapatkan kabar Dira sedang hamil.
"Pa, ini bukan mimpi kan?" tanya Dewi sangat tak percaya.
"Ini bukan mimpi, Ma. Entah kita harus bahagia atau sedih, mendengar semua ini. Tapi semua sudah terjadi, bagaimanapun juga anak yang di kandung Tia tetap cucu kita. Dan kita yang akan merawat mereka," balas Angga.
Setelah itu dokter Edward pamit undur diri. Sedangkan Dewi langsung masuk ke ruangan UGD, dan melihat keadaan Dira.
Sedangkan di sisi lain. Dinda dan juga Ryant bertengkar hebat, karena sikap Dinda yang sangat egois. Namun tetap saja, Ryant kalah telak dengan Dinda.
Bahkan Ryant tak bisa melarang Dinda, karena Dinda mengancam akan bunuh diri Ryant terus membela Dira.
__ADS_1
Hari ini juga, Dinda akan memindahkan Arya ke rumah sakit yang Dinda tuju. Dinda juga sudah menghubungi Lisma agar dia ikut, karena memang Lisma yang akan mendonorkan ginjalnya.
Dinda sengaja tak muncul dari pagi, karena dia sibuk mengurus kepindahan Arya. Dinda lakukan ini agar Arya sembuh, dan kembali seperti semula.
Jika suatu hari nanti Arya bangun, dan menanyakan Dira. Maka Dinda akan jujur, tapi untuk sekarang kesehatan Arya lebih penting dari segalanya.
"Dok, sudah siap semua kan?" tanya Dinda saat melihat Dokter mempersiapkan segalanya.
"Sudah, Bu. Hanya tinggal di pindahkan saja, dan melakukan perjalanan," balas Dokter.
"Dinda, kamu keterlaluan! Ingat suatu hari nanti Arya pasti akan mencari anak dan istrinya, kamu jangan berbuat seenaknya. Sebelum terlambat beritahu Dira, kalau bisa ajak dia juga," ucap Ryant yang sama sekali tak setuju.
"Ini keputusanku, aku mau yang terbaik untuk Arya. Jika kamu kasihan dengan Dira, maka ikut Dira sana. Tapi aku akan tetap pada keputusanku, jika Arya akan pindah dari sini!" balas Dinda sangat ketus.
Setelah itu Dinda mengikuti para Suster yang mendorong ranjang pesakitan Arya. Sedangkan Ryant hanya bisa mengumpat kesal, melihat keegoisan istrinya itu.
Kamu pasti akan menyesal, Dinda. Keegoisanmu yang akan menjadi keretakan hubunganmu dengan Arya nanti, karena kamu telah tega memisahkan mereka bertiga dari Arya. Semoga kamu tak pernah menyesalinya, jika waktunya telah tiba.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1