
"Sini ikut aku!" Arya menarik tangan Fani, dan segera membawanya ketempat lebih sepi, agar pembicaraan mereka tenang. Sedangkan Fani hanya bisa merasakan sakit di Pergelangan tangannya, karena tarikan dan cengkeraman yang begitu kuat saat Arya menariknya dengan paksa.
"Sakit Arya!" bentak Fani sambil menepis tanggan Arya. Setelah terlepas, Fani langsung memandang pergelangan tangannya yang memar dan membekas cap jari Arya.
"Kamu ini kenapa sih? Kenapa kamu berubah sekarang, kamu jadi kasar tau gak!" teriak Fani dengan mata berkaca-kaca. Fani sangat sakit hati dengan perilaku Arya, yang sudah berubah total.
"Jangan bahas itu dulu! Ada hal lain yang ingin aku tanyakan sama kamu. Bagaimana bisa kamu tau jika Dira menghindari kami, bahkan sampai memutuskan tali persaudaraan?" tanya Arya dengan serius. Sedangkan Fani seketika langsung membeku, karena Arya mempermasalahkan ucapannya tadi.
"Jawab! Pokoknya kamu harus jujur, jika tidak, jangan salahkan aku bila melakukan sesuatu yang bisa membuat kamu menyesal!" bentak Arya dengan keras.
Fani semakin gugup dan bingung, karena Arya mulai curiga dan menginterogasi dirinya. Tangan Fani langsung dingin dan kram, saat Arya menatapnya begitu tajam.
"Kan... Kan... Aku sudah bilang, itu hanya feeling aku saja Sayang. Aku juga tidak tau, jika ucapanku benar. Jadi aku mohon jangan mencurigai aku, aku hanya asal jawab tadi." Jelas Arya tak percaya dengan ucapan Fani, terlebih lagi Fani menjawab dengan gugup. Dengan mata yang menelisik, Arya langsung melihat sororan mata Fani. Namun dengan cepat Fani mengalihkan pandangannya itu, agar tak bertatapan dengan mata tajam milik Arya.
"Jangan kira ka.u bisa membodohiku Fani! Aku bisa melihat kebohongan dari tatap matamu itu, cepat katakan dimana Dira!" Fani semakin gelagapan saat Arya terus menekannya.
"Astaga, anak ini sulit banget sih di kibulin. Aduh bagaimana ini, pasti Arya sangat marah jika tau, akulah dalang semuanya. gunam Fani.
"Jawab!" Fani langsung tersentak saat Arya membentaknya. Dengan sangat cepat Fani langsung menjawab, dan tak perduli lagi dengan apa yang terjadi nanti.
"A... Aku gak tau pasti Dira dimana, tapi Setahuku Dira mau pergi dari kota ini. Mungkin Dira ada di pelosok desa, karena hanya tempat itu yang tak bisa kamu jangkau," ucap Fani dengan gemetar. Rontok semua tulangnya saat di tanya seperti itu dengan Arya, mungkin jika orang lain menjadi Fani. Pasti akan merasakan hal yang sama.
"Darimana kamu tau, katanya tadi kamu gak tau Dira dimana?" desak Arya sekali lagi. Yang membuat Fani semakin terpojok, dan tak bisa berkutik.
"Aku yang menyuruh Dira pergi jauh, dan tak mengganggu kita lagi. Aku suruh dia pergi jauh dari perkotaan, agar kamu tak bisa menemukan dia." Arya sangat kesal dengan pengakuan Fani, sungguh lelaki itu tak percaya jika kekasihnya sangatlah kejam. Hingga berbuat hal semacam itu, kesal itu yang dirasakan Arya.
Plakk...
Satu tamparan lolos di pipi Fani, dan menimbulkan rasa panas dan sakit di area wajahnya. Dengan sangat cepat Fani langsung menatap tajam Arya, bahkan tatapan itu adalah tatapan kecewa.
"Arya"
__ADS_1
"Apa? Sakitkan, Sayang?" jawab Arya sambil tersenyum sinis.
"Sakit, Arya." jawab Fani
"Tapi ini tak sebanding dengan sakitnya orang tua ku, Fani! Apa kamu tak melihat Mama? Dia sampai sakit-sakitan, asmanya juga sering kambuh, dan itu semua karena keegoisan kamu Fani!" teriak Arya tepat di muka Fani.
"Maafkan aku, Arya. Hikss... Hikss..." tangisan Fani langsung pecah, saat Arya membentak nya dengan sangat keras. Bahkan baru kali ini Arya marah sebesar ini dengan Fani.
"Sekarang kamu pergi! Aku gak mau melihatmu lagi, jika Dira ditemukan. Dan jika Dira belum juga di temukan sampai 1bulan ini, jangan harap aku akan memaafkan mu Fani!" ancam Arya. Sedangkan Fani langsung terbelalak, karena Arya sampai segitunya jika menyangkut Dira.
"Awas saja kamu Dira! Aku pastikan kamu gak akan kembali lagi, dan untuk kamu Arya. Aku akan mendapatkan kamu seutuhnya, camkan ini. Kita akan menikah, walaupun tanpa restu orangtua mu!"
****
Sedangkan di tempat lain, Dira dan Aira sudah bersiap untuk pergi kepasar. Karena hari ini libur, jadi Dira ingin mengajak Aira pergi kepasar, dan membeli keperluan warung.
"Aira ikut Mbak kepasar, sekalian kamu ikut karena Mbak gak buka hari ini." ajak Dira.
Setelah siap semuanya mereka langsung berangkat, dengan berjalan kaki. Di perjalanan menuju pasar, Dira sedikit menikmati pemandangan yang tertera di depan matanya. Pemandangan yang sangat indah, asri dan tak lupa dengan hawa dingin nan sejuk.
Bahkan Dira sampai memakai jaket tebal, karena saking dinginnya. Kota malang yang sangat identik suasana dingin, dan tak tertandingi.
"Mulut Mbak ada asapnya," ucap Aira dengan tertawa. Dengan cepat Dira menghembuskan nafas, dan benar. Hidung dan mulutnya mengeluarkan asap putih.
"Mbak sangat kedinginan. Berada disini, selama 3 minggu belum menjamin akan kebal dengan hawa dingin, Aira." jawab Dira dengan sedikit mengigil.
"Jangankan Mbak, Aira saja yang dari bayi, terkadang suka gak kuat. Mandi pun juga takut, dan bimbang. Jika mandi pakai air dingin, pasti seperti mandi air Es. Tapi jika pakai air hangat, sesudah kita mandi, pasti akan mengigil." Dira pun langsung tertawa mendengar kejujuran Aira yang begitu polos. Gadis berusia 10 tahun, yang sangat manis. Namun sayang nasipnya tak semanis orangnya.
"Dira" Dira dan Aira pun langsung menoleh saat seseorang memangil namanya.
"Eh, mas Beno. Ada apa mas?" tanya Dira dengan ramah. Sedangkan Aira langsung diam, karena dia gak mau ikut campur urusan orang dewasa.
__ADS_1
"Naiklah, aku akan mengantarmu sampai pasar. Aku gak tega melihat wanita berjalan kaki, untuk pergi kepasar," ucap Beno. Beno adalah anak pak RT di kampung Dira. Walaupun Dira sering menolak ajakan Beno, tapi pria itu tak pernah menyerah untuk meluluhkan hati Dira
"Tidak perlu Mas. Saya sama Aira lebih baik jalan kaki, karena jalan kaki lebih sehat. Kalau gitu saya permisi dulu, takut kesiangan." tolak Dira dengan halus.
"Gagal lagi, tapi gak apa-apa deh, masih banyak waktu untuk mendekati janda kembang itu." gunam Beno.
Sedangkan Dira dan Aira langsung pergi meninggalkan Beno. Dira sangat tau, jika Beno mengejar dia. Tapi Dira gak mau itu terjadi karena Beno bukanlah orang baik. Walaupun dia anak Pak RT, tapi dia tak pernah mencerminkan perilaku baik. Dira sering kali melihat Beno, keluar dari rumah bordir di desa sebrang.
"Kenapa Mbak selalu menolak Mas Beno? Padahal Mas Beno selalu baik sama Mbak, dia juga sering bantu mbak kan?" ucap Aira saat mereka sudah jauh dari Beno.
"Dia baik karena ada maunya, Aira. Mas Beno berusaha deketin Mbak, Mbak juga gak mau memberikan harapan palsu untuk Mas Beno. Jadi lebih baik Mbak nolak dari sekarang, daripada nanti sakit hati." bohong Dira. Dira gak mungkin kan membeberkan jika Beno, lelaki yang suka main perempuan.
"Oh... Apa Mbak punya pacar?"
"Mbak gak punya pacar, Sayang. Mbak itu baru di tinggal pergi sama suami Mbak, sebab itu sekarang Mbak menetap di sini bersama Aira." jawab Dira sambil mencubit pipi Aira. Dira sangat gemas jika Aira sudah membahas masalah, yang serius.
"Tega banget sih suaminya Mbak, padahal Mbak cantik tapi kok ditinggalin? Tapi tenang saja Mbak! Kalau dia kesini, Aira pastikan dia tak akan bisa mendapatkan Mbak lagi. Aira kesal sama suami Mbak, kenapa dia bisa ninggalin Mbak?" ucap Aira dengan menggebu-gebu. Sedangkan Dira langsung tertawa terbahak-bahak, mendengar perkataan gadis polos itu.
"Kamu itu ada-ada saja Aira. Ayo cepat nanti kita gak kebagian ikan dan sayuran segar, kamu gak capek kan Mbak ajak jalan?" tanya Dira sambil menahan tawa. Jujur Dira masih tak bisa berhenti tertawa, karena kepolosan Aira barusan.
"Tidak dong Mbak. Kan Mbak sendiri yang bilang, jalan kaki lebih sehat."
"Ya sudah, ayo jalan. Nanti kita benar-benar kehabisan ikan." Mereka pun kembali berjalan agar cepat sampai pasar, karena jika sampai telat. Besok Dira gak akan bisa jualan.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1
Ada yang ngeh gak, ini ceritanya ada yang berubah 🤣🤣🤣