
Setelah selesai mandi, Vano langsung menuju taman belakang. Di sana Vano melihat Opa-Nya yang sudah sangat tua, tapi masih terlihat gagah.
Vano sangat ingin seperti Ryant, yang selalu sabar menghadapi segalanya. Namun, sayangnya Vano gak bisa. Dia selalu cuek bebek, kepada semua orang hingga membuat dia haru di benci beberapa orang.
Entah nurun siapa Vano. Tapi yang pasti, Vano sangat dingin dengan orang asing. Bahkan Vano enggan mengumbar kemesraan, atau memamerkan segala sesuatu yang dia miliki.
"Opa, sedang apa sama Zidan?" tanya Vano. Namun pertanyaan itu membuat Ryant terkejut, hingga Ryant langsung terjingkat.
"Vano! Kamu tuh ngagetin Opa, Sayang. Untung Opa gak punya jantung, kalau punya bagaimana?" Vano pun tersenyum saat Ryant berkata seperti itu.
Setelahnya Vano langsung mendekati Ryant, dan mencium pipi Ryant. Memang Vano sangat manja pada Ryant, tapi Vano selalu bilang untuk merahasiakan segalanya. Vano gak mau di cap anak manja, sebab itu Vano melarang Ryant bercerita ke siapapun.
"Dasar bocah nakal. Ada orang tua ngomel gak di dengarkan, malah langsung cium-cium saja." Kesal Ryant.
"Aku sangat merindukan, Opa. Sudah lama kita gak bertemu, dan sekarang Vano ingin tidur bersama Opa sambil di tepuk-tepuk punggungnya."
__ADS_1
Ryant pun tersenyum lembut. Di taruhlah Zidan di dalam box, dan setelah itu Ryant langsung memeluk Vano. Ryant menangis, karena sikap Vano mirip dengan almarhum anaknya.
"Kamu persis sekali dengan Om kamu, Nak. Oh ya, kenapa muka kamu bonyok seperti ini? Kamu habis tawuran, atau apa?" tanya Ryant sangat khawatir.
"Vano gak pa-pa, Opa. Vano tadi sedikit ada masalah, jadi sebab itu Vano di sini saja. Vano gak mau buat Mommy-Daddy Khawatir. Opa tau sendiri kan, mereka seperti apa jika lihat Vano luka sedikit saja," balas Vano.
Setelah itu Vano duduk di atas lantai, dan di sandarkan kepalanya di pangkuan Ryant. Sedangkan Ryant, yang melihat tingkah cucunya semakin di buat sedih. Ryant jadi mengingat, dulu Vano juga suka seperti ini.
Vano, apakabar kamu Nak. Semoga kamu bahagia bersama mamamu di sana, papa sangat merindukan kalian. Tapi rindu papa sudah terobati oleh Vano kecil, sikapnya juga seperti kamu Nak. Apapun yang kamu sukai, sekarang di sukai Vano kecil. Coba kamu liat wajah keponakanmu ini, dia mirip sekali denganmu dulu. Tinggu papa, Nak. Papa akan menyusul kalian, jika waktunya sudah tiba. Dan untukmu Dinda, tunggu aku. Aku pasti akan datang menjemputmu, seperti janji kita dulu, lirih Ryant dalam hatinya.
"Opa, jangan sedih lagi. Aku selalu ada di dekat Opa, walapun aku sama dengan Om Vino, tapi cintaku lebih besar dari Om Vano. Opa jangan sedih lagi ya, jika Opa rindukan Om, pandangan wajah Vano. Di situ Opa akan melihat Om," ucap Vano yang terus menciumi tangan Ryant.
"Kamu kok tau jika Opa sangat merindukan Om kamu, memangnya tadi Opa bilang seperti itu?" tanya Ryant sedikit penasaran.
"Semua karena ikatan batin, Opa. Vano tau, Opa sangat merindukan Om. Tapi asal Opa tau, jauh di sana Om juga sangat merindukan Opa. Sekarang Opa jangan sedih, karena mulai sekarang Vano akan selalu ada di sisi Opa." Vano pun berdiri dari duduknya, dan langsung memeluk Ryant.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata mulai menetes deras dari mata Ryant. Ryant tak menyangka cucunya sedewasa ini, padahal dia masih muda untuk orang yang harus berpikir dewasa.
"Kamu anak Papa, Vano. Anak Papa, sampai kapanpun kamu tetap anak Papa." Ryant pun menangis sejadi-jadinya.
Ryant sangat merindukan Vano putranya, yang telah lama pergi. Bahkan Dinda juga ikut meninggalkan dirinya sendiri, dan melupakan semua janjinya dulu.
"Vano tetap anak Papa, sampai kapanpun akan tetap jadi anak Papa. Vano tetap Vano nya, Papa Ryant."
Deg...
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading
Gak tau, emang karena aku lagi sedih atau part ini mengandung bawang. Sampai aku nangis ðŸ˜