
Keesokan hari Aira dan juga Pras sudah datang di kediaman Wiguna, dengan selamat tanpa kekurangan satupun. Aira juga tampak lebih kurus, saat ini. Mungkin karena tak mendapatkan bayak makan, setelah Dira kembali ke Jakarta.
"Selamat datang, Aira," ucap Dira dengan sangat gembira. Dira merasa sangat bersalah sempat meninggalkan Aira, hingga dia seperti ini. Kurus, kering, dan tak terurus.
"Mbak Dira!" Aira pun langsung memeluk Dira sangat erat. Aira sungguh merindukan Dira, karena memang Aira sudah menganggap Dira ibunya.
"Kamu kangen gak sama Mbak? Mbak kangen banget sama kamu, Mbak juga kangen dengan omelan kamu Aira," ucap Dira sambil menciumnya.
"Mbak tega sama Aira, katanya mau nengok Aira. Tapi nyatanya tidak, lagi nengok Aira." Sungguh Dira langsung merasa sedih dan bersalah, memang dia yang salah karena lupa dengan Aira. Tapi itu semua juga karena dia di pungit, oleh Sintal.
"Maafin Mbak ya, Ra. Mbak ada masalah Sayang, tapi sekarang kamu tenang saja. Kita akan bertemu setiap hari, karena kamu akan tinggal dengan Mbak di Jakarta," ucap Dira sambil memegang pipi Aira.
"Tapi Aira takut merepotkan Mbak, lebih baik Aira tinggal di Malang saja. Daripada nanti menambah beban buat mbak Dira," tolak Aira dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu percayalah sama Mbak, nanti kamu tinggal sama mama Dinda. Mama Dinda sangat baik dan penyayang, jadi kamu gak perlu takut," balas Dira sambil tersenyum.
"Siapa itu, mama Dinda?" tanya Aira.
"Mama Dinda adalah mama suami Mbak, nanti kamu akan di adopsi sama mama Dinda. Kamu jangan takut beliau baik, dan kamu harus terima gak boleh nolak pokoknya," paksa Dira. Namun Aira hanya menganggukkan Kepala, tanda setuju.
"Kamu istirahat dulu di kamar sana, nanti malam kita ke rumah mama Dinda. Mbak yakin kamu pasti suka, dengan mama Dinda." Aira pun menurut dan memasuki kamar yang Dira tunjuk. Sedangkan Pras juga ikut Aira, untuk membawa semua barang Aira.
Setelah Aira masuk. Dira memutuskan untuk mandi karena badannya terasa panas dan gerah, mungkin karena di luar cuacanya lagi extrem jadi membuat Dira gerah.
Dira memasuki kamar dengan bersenandung. Dengan perasaan tenang Dira membuka pintu, namun saat dia berhasil membukanya, tiba-tiba tangan Dira di tarik oleh Arya hingga tak jadi masuk kedalam kamar mandi.
"Ahhh..." teriak Dira. Namun dengan cepat Arya membungkam mulut Dira.
"Shuut, ini Kakak," ucap Arya tepat di telinga Dira.
" Ya ampun, Kak! Bisa gak sih, gak kagetin aku? Untung aku gak punya riwayat jantung, kalau punya gimana?" Cerocos Dira sambil menatap tajam Dira. Namun berbeda dengan Arya, Arya sungguh menatap Dira dengan tatapan mesum.
"Aku ingin kamu, Dira," bisik Arya sambil menji*lat leher Dira.
"Uumm," desis Dira saat merasakan sapuan lembut di lehernya. Setelah itu Arya terus menggigit leher Dira hingga menampakkan tanda kepemilikan, tepat di leher mulus Dira.
"Kak, kemarin malam kan sudah. Masa sekarang lagi, Dira pengen tapi Dira capek," balas Dira sambil menikmati ulah Arya yang mulai menelusup, ke daerah gunung kembar Dira.
__ADS_1
"Tuh kamu bilang ingin, jadi kita buat Arya junior yuk? Aku mau cepat punya anak yang lucu, jadi kita harus setiap hari buatnya," jawab Arya dengan senyuman yang amat mesum.
"Kamu pikir anak kita nanti Robot? Kok bilang buat anak, bikin emosi saja. Aku sebagai calon ibu, gak terima ya Kak!" rajuk Dira sambil mencibirkan bibirnya.
"Perasaanku gak ada yang salah deh, dengan ucapanku yank. Sebelum jadi anak kan kita harus membuatnya dengan berkerja keras, bahkan mengeluarkan keringat sangat banyak," jelas Arya.
"Entahlah, tapi yang pasti aku tak mau kamu berbicara seperti itu. Lebih baik kamu bilang, ayo kita proses bikin dedek bayi. Itu lebih baik," balas Dira sangat kesal. Sedangkan Arya semakin di buat bingung, karena ucapan Dira.
"Bukannya sama, ya? Kan sama-sama ada kata, buat? Coba deh kamu resapi lagi ucapanku dengan Ucapmu, Yank. Aku bilang buat anak, sedangkan kamu proses membuat dedek bayi. Bukannya sama ya?" Arya semakin di buat bingung dengan ulah Dira. Tak bisanya Dira seperti ini, sangat sensitif.
"Tau, Ah!" Dira pun semakin ngambek dan tak mau mendekat ke arah Arya. Sedangkan Arya semakin di buat gemas dengan kelakuan Dira. Dengan sangat lembut Arya mendudukkan Dira di atas pangkuannya, bahkan Arya langsung membuka kancing kancing baju Dira.
"Kak,"
"Diamlah, aku sudah kangen milikku," celah Arya. Dira pun tak bisa membantah, Dira pasrah saat Arya terus membuka bajunya hingga menampilkan dua bukit kembar yang sangat ranum.
"Ini kesukaanku, ini hanya milikku kan?" Dira pun hanya mengangguk sambil tersenyum. Dengan susah payah Arya menahan hasrat yang mulai memuncak, bahkan Arya sangat sulit menelan ludahnya sendiri. Karena terbius oleh kemolekan, tubuh Dira.
"Apa aku boleh minum susu ini? Aku sangat ingin menikmati ini, ini favoritku," ucap Arya sambil mere*mas bukit kembar itu.
"Aku menolak pun, Kakak gak akan dengar kan? Jadi lakukan sesukamu saja, tapi jika kakak gigit lagi ... Kakak aku suruh tidur di luar!" balas Dira dengan nada penekanan.
"Emm," desis Dira saat Arya mulai menyusu seperti bayi kelaparan. Tangan Dira pun langsung mendarat di kepala Arya dan sedikit menekan kepala Arya agar lebih dalam memainkan dada Dira.
"Kamu suka, Sayang?" tanya Arya dengan suara parau. Sedangkan Dira tak menjawab, Dira mulai terhanyut dengan perlakuan Arya hingga dia tak bisa berbicara.
Tangan Arya mulai nakal dan masuk kedalam milik Dira, dan bermain mengobrak-abrik isi hutan rimba Dira. Sungguh Dira sangat terkejut dengan perlakuan Arya, karena baru kali ini Arya melakukan hal yang di luar batas. Walau mereka sudah SAH tapi bagi Dira itu sangat menjijikan.
"Kak apa yang ... Ahhh," ucapan Dira langsung terhenti saat Arya mencubit sesuatu di bawah sana. Dengan reflek Dira malah semakin melebarkan kakinya agar Arya lebih mudah melakukan itu. (Aku dimana, aku siapa) 🙃
"Tubuhmu lebih jujur, Dira. Mulut berkata tidak, tapi ragamu berkata iya" ejek Arya di selah kenikmatan yang tiada tara itu.
"Jangan banyak bicara cepat lakukan! Rasanya gak enak tau, di saat begini malah berhenti. Membuyarkan imajinasi saja kamu, Kak!" balas Dira sangat dongkol.
Arya pun terkekeh dan segera membuka celananya. Dengan rasa penasaran Dira menunduk dan melihat milik Arya yang begitu besar. Dira menelan ludahnya dengan sangat susah, karena baru kali ini Dira melihatnya dengan jelas.
"Astaga! Jelas saja milikku terasa nyeri sesudah melakukan itu, teryata sebesar itu benda yang membuatku tak berdaya selama tiga hari kemarin?" teriak Dira sangat terkejut.
__ADS_1
"Kamu akan merasakannya sekali lagi, Sayang," goda Arya. Setelah melepas celana Dira, Arya langsung mengangkat sebelah kaki Dira dan di senderkan punggung Dira di tembok. Arya mulai memasukkan milik nya dan mulai terhanyut dalam irama indah.
Desahan demi desahan terdengar di kamar Dira, bahkan Arya sangat agresif melakukan kali ini. Arya ingin mencapai puncak, begitu juga Dira. Namun saat mereka mulai terbakar, dan benih-benih kecebong akan keluar. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka, dan gagal sudah pelepasan yang amat mereka tunggu.
"Sintia ini Mama. Apa Mama boleh masuk? Mama mau minta tolong sama kamu," teriak Dewi dari luar. seketika kenikmatan mereka langsung AMBYAR.
Bahkan hasrat yang sangat tinggi tiba-tiba hilang begitu saja.
"Sial!" umpat Arya.
"Kak ada Mama! Cepat pakai bajumu, aku mau buka pintunya," ucap Dira sambil terburu-buru memakai semua bajunya.
"Kamu jangan jawab. Mungkin Mama akan berfikir kita tidur, please ini sudah tegang-tegangnya Dira," balas Arya yang putus asa.
"Minta bantuan LERVEA dulu kak, ini orang tua loh, nanti kualat." Arya pun merasa kesal dan berlari ke arah kamar mandi. Sedangkan Dira berlari ke arah pintu dan langsung membuka pintu kamarnya.
Cklek...
"Mama gak ganggu kalian kan?" tanya Dewi saat Dira membuka pintu kamar, dengan acak-acakan.
"Gak kok, Ma."
"Tapi kok lama banget kamu buka pintunya, kalau kamu repot Mama gak jadi minta tolong deh, kamu masuk lagi saja," jelas Dewi.
Sudah telat kalau masuk Ma. Si Bambang sudah ngambek di kamar mandi, gumam Dira dalam hati.
"Gak perlu. Mama mau minta tolong apa, biar Dira bantu," ucap Dira sambil tersenyum.
"Mama mau ajak kamu belanja, kamu bisa kan?" tanya Dewi.
"Bisa, tapi Dira mandi dulu. Belum mandi daritadi, sekarang gerah," balas Dira. Dewi pun menganggukkan kepala, dan menunggu Dira di bawah. Sedangkan Dira langsung masuk kedalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya. Karena gak mungkin dia pergi belanja, dalam keadaan belum mandi junub.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading