
1 jam sudah Arya berada di kamar mandi, kini dia keluar dari sana dengan wajah yang amat di tekuk-tekuk bak karpet lipat. Mulutnya pun tak berhenti mengumpat, karena mendapatkan nasip buruk.
"Ck ... Percuma nikah, ujung-ujungnya si Via yang membantu aku menyelesaikan semua," gerutunya sambil berjalan ke arah lemari.
"Aduh .... tanganku sakit semua. Jika tadi bukan mama, pasti aku gak akan perduliin. Tapi gak enak banget sih mau mesra-mesraan saja gak bisa bebas, apa aku ajak Dira tinggal di rumah yang aku beli kemarin saja ya?" ucap Arya sambil memakai bajunya.
"Tapi bagaimana jika Dira gak mau? Tapi sayang juga rumahnya,bkalau gak di huni. Aku juga sudah mendekorasi rumah itu dengan sempurna," ucap Arya sekali lagi. Setelah selesai berpakaian Arya langsung merebahkan tubuhnya dan kembali memikirkan tentang hubungan dia dan Dira.
"Tau ah! Lebih baik aku rundingkan dulu dengan Dira nanti, kalau dia mau yang pindah kalau tidak ya di sewakan saja," ucap Arya sambil mengacak-acak rambutnya. Namun tak lama setelah itu, Arya mendengar dering ponselnya.
Drrtt... Drrtt...
Arya pun mencari ponselnya, setelah ketemu Arya langsung melihat layar ponselnya dan melihat siapa yang menelpon.
"Nomor siapa ini? Kenapa aku tak mengenal nomor ini?" ucap Arya. Dengan sangat malas Arya mengangkat ponselnya, dan betapa terkejutnya Arya saat mendengar suara seseorang di sebrang.
"Hallo siapa ini?" ucap Arya dengan nada ketus.
"Arya, aku kembali."
Deg..
Jantung langsung berdetak sangat kencang dan tubuh Arya langsung membatu, saat mendengar suara wanita yang pernah meninggalkan dirinya demi pekerjaan. Bahkan waktu itu, Arya sangat mencintai wanita ini. Namun keegoisan yang terlalu besar, wanita ini dengan tega meninggalkan Arya.
Gak ... Gak, aku gak boleh seperti ini. Aku sudah moveon, aku sudah mendapatkan wanita yang sangat hebat. Dira yang aku cintai, dia hanya masalalu dan harus di buang jauh-jauh! gumam Arya dalam hati. Setelah itu Arya langsung membalas ucapan wanita itu.
__ADS_1
"Kembali ya kembali saja, kenapa harus bilang sama aku? Kurang kerjaan apa, kamu!" ucap Arya sangat tegas. walaupun hati Arya bergetar, dia gak akan memperlihatkan itu semua karena Arya sudah memiliki Dira.
"Ternyata kamu masih marah sama aku Arya. Tapi aku yakin, jauh di lubuk hatimu kamu sangat merindukan aku," balas Serlin sambil terkekeh.
Ya wanita itu adalah Serlina Elisabeth Deingri, cinta pertama Arya. Mereka menjalin hubungan dari SMP. Setelah lulus sekolah Serlin dan Arya memutuskan untuk kuliah di Jerman, dan setelah selesai kuliah mereka balik ke Indonesia untuk melakukan pertunangan dan terlaksanalah pertunangan itu, dan memutuskan untuk ke jenjang lebih tinggi.
Namun saat Arya akan mempersiapkan pernikahan mereka, Ryant mengalami kecelakaan dan menyebabkan dia lumpuh. Ryant menyerahkan perusahaan ke Arya karena Vano tak mau megurus perusahaan keluarganya.
Vano memiliki usaha sendiri, jadi perusahaan milik Ryant sepenuhnya milik Arya. Dan dengan sangat terpaksa Arya menerima perusahaan itu, karena memang yang bisa menghendel hanya Arya.
Namun saat Arya baru menjalankan perusahaan selama 3 bulan. Serlin meminta izin untuk kembali ke Jerman, karena Serlin mendapat panggilan kerja di sana. Tentu arya menolak dan ingin mempercepat pernikahannya agar Serlin tak jadi pergi. Tapi sayangnya Serlin kabur saat acara pernikahan akan di langsungkan.
"Kamu salah besar Serlin! Aku sudah moveon, aku juga sudah memiliki keluarga dan aku sangat mencintai istriku," ucap Arya sangat lantang dan percaya diri. Namun terdengar kekehan kecil di sebrang sana, yang membuat Arya bingung.
Tanpa menunggu lama Arya langsung mematikan panggilan itu, karena dia sudah terlanjur malas dengan Serlin. Ucapan Serlin juga bagai angin lalu, dan tak penting juga buat Arya.
"Setelah sekian lama pergi dan membuat hatiku hancur, sekarang seenaknya saja datang dan minta balikan. Aku gak akan sudi," dengus Arya.
Setelah itu Arya kembali merebahkan tubuhnya dengan nyaman. Arya ingin menikmati masa cuti kerjanya setelah menikah, bahkan tak tanggung-tanggung. Ryant memberikan libur selama sebulan, karena Ryant sudah sangat menginginkan cucu dari Arya.
****
"Aira kamu ambil saja baju yang kamu suka, nanti biar Mama yang bayar," ucap Dewi sambil memberikan baju pada Aira. Sedangkan Aira merasa sangat tak enak hati, dengan kebaikan Dewi.
"Gak perlu, Bu. Aira bajunya masih banyak, jadi gak perlu baju baru," tolak Aira sangat lembut. Namun Dewi tak keperdulian itu semua, dia tetap memilihkan baju untuk Aira.
__ADS_1
"Tia tolong pilihkan baju yang bagus untuk Aira, Mama gak tau dia suka model apa. Kamu kan pernah tinggal sama dia, jadi kamu yang memilihkan," suruh Dewi.
"Aira itu postur tubuhnya sama kaya Tia, jadi Mama pilih yang ukurannya sama kaya Tia. Aku yakin kok sama pilihan Mama, pasti pas untuk Aira," jawab Dira sambil tersenyum.
"Baiklah, Mama mau ambil semua model di sini untuk Aira dan kamu juga." Dira pun langsung melotot saat mendengar perkataan Dewi.
Semua baju? Apa-apaan Mama ini, memang mau buka toko baju? gumam Dira dalam hati.
"Mama itu pemborosan, cukup beli 3 saja buat Tia, kalau Aira 12 stel udah cukup," balas Dira.
"Papamu uangnya banyak, jadi untuk apa di simpan mulu. Lebih baik di belanjakan, dan setiap bulannya Mama juga selalu beli baju di sini untuk anak-anak panti. Jadi pasti di diskon kok," ucap Dewi sambil tertawa.
"Mama bangga dapat disko 5℅ ma?Bangga itu kalau dapat diskon 75℅, ini mah gak seberapa," jawab Dira sambil tertawa terbahak-bahak. Namun perkataan Dira di dengar oleh pemilik toko, dan langsung menjawab ucapan Dira.
"Jika untuk Mbak, saya gak apa-apa kok diskon 75℅." Dira pun langsung menoleh ke sumber suara. Setelah tau siapa orang itu, Dira langsung tersenyum kikuk.
Mati kamu Dira, lagian mulut lemes amat sih? Bagaimana ini, pasti aku di kira beneran. gumam Dira sangat takut.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1