
Dira memasuki perkantoran Arya dengan sangat cepat. Di luar sana tiba-tiba hujan deras, dan dirinya lupa membawa payung. Memang beberapa hari ini, kota Jakarta di guyur hujan terus-menerus. Hingga membuat Dira kesal, karena jalanan menjadi licin.
"Loh, bu Dira!" seru salah satu Karyawan saat melihat Dira.
"Ani, aku minta tolong boleh?" tanya Dira sambil memeras bajunya yang sudah basah kuyup.
"Bisa, Bu."
"Tolong ambilkan baju saya di ruangan, Suamiku. Bilang sama dia, tolong ambilkan baju lengkap dari lemari. Aku gak mungkin masuk dengan keadaan seperti ini, nanti kasihan yang bersihin," jelas Dira sangat lembut.
"Baik, Bu. Tunggu sebentar, saya akan cepat."
Tanpa tunggu lama Ani langsung menuju ruangan Arya. Sedangkan Dira lebih memilih diam di depan kantor, sambil memeluk dirinya. Udara sangat dingin, hingga menusuk tulang-tulang Dira.
Semakin bertambah umur, Dira semakin lemah. Tubuhnya seakan rentan sakit, jika tekena hujan. Tapi Dira selalu merasa nyaman walaupun sakit, karena Arya selalu memberikan kenyamanan saat dirinya sakit.
Sedangkan jauh di atas sana, Ani baru saja sampai di depan ruangan Arya. Dengan sangat cepat, Ani mengetuk-ngetuk pintu ruangan Arya. Tak membutuhkan waktu lama Ani di persilahkan masuk, dan Ani langsung masuk.
"Permisi, Pak. Saya kesini karena di suruh bu Dira, beliau sedang ada di luar. Bajunya basah kuyup, dan saya di suruh mengambil baju di ruangan pribadi Bapak," ucap Ani.
Seketika Arya langsung berdiri, dan mentapa Ani dengan tajam. Ani yang mendapatkan tatapan itu, langsung mundur seketika. Tatapan yang sangat menakutkan, dan dingin.
Kok aku merinding ya? Tatapan dia seperti tatapan ingin membunuh, tapi jika dia mau membunuhku. Memang aku salah apa, bukannya aku malah membantu dia untuk menyampaikan pesan istrinya? gumam Ani dalam hati. Tapi setelah itu, Ani langsung terperanjat karena bentakan Arya.
"Kenpa kamu biarkan dia di luar! Ini hujan lebat, dan kamu membiarkan istri bosmu sendiri di luar sana!" bentak Arya sangat keras, hingga membuat Ani memegang dadanya.
"Bu Dira sendiri yang gak mau masuk, Pak. Karena bajunya basah kuyup, bukan saya yang melarang bu Dira masuk," jawab Ani sedikit kesal.
"Sama saja, ini perusahaan dia. Kenapa dia takut masuk dengan keadaan seperti itu, alasan saja kamu!"
__ADS_1
Tanpa tunggu lama, Arya langsung meninggalkan Ani sendiri di sana. Arya ingin bertemu Dira, karena Arya tau, jika kondisi Dira sering memburuk jika terkena hujan.
Sedangkan Ani, merasa sangat kesal dengan Arya. Ingin sekali Ani meninju bosnya, jika bukan karena dia butuh kerjaan dia akan mengeluarkan jurus bela dirinya itu.
Dasar bos gak ada Akhlak, bisanya marah-marah terus. Ingin ku bunuh saja, tapi aku gak mau di penjara!
***
Dengan perasaan yang sangat bersalah, Arya memasuki lift khusus bos agar cepat sampai di bawah. Sebenarnya Arya ingin naik tangga tadi, tapi di pikir-pikir lututnya gak akan kuat turun dari lantai 20 ke lantai dasar. Bisa-bisa Arya akan masuk rumah sakit, jika nekat melakukan itu.
Tak membutuhkan waktu lama kini Arya sudah ada di lantai dasar. Pintu Lift juga sudah terbuka, dan Arya langsung berlari keluar gedung.
Saat sampai di luar, Arya menoleh kesana-kemari untuk mencari istrinya. Dan pandangan Arya langsung tertuju pada seseorang yang dia cari, ternyata Dira ada di pojok kanan perusahaan sambil duduk berjongkok.
Hati Arya sangat tercubit melihat istrinya menggigil di luar kantor. Dengan sangat emosi Arya mendekati Dira, dan tanpa aba-aba Arya langsung menggendong Dira ala Bridal Style.
"Aaahhkkk!" Pekik Dira sangat terkejut. Bahkan Dira langsung mengalungkan tangannya itu di leher Arya, karena takut terjatuh.
"Diam! Siapa yang nyuruh kamu hujan-hujanan, hingga basah seperti ini? Bukannya sudah ku bilang selalu jaga kesehatan, kenapa kamu gak dengerin ucapanku sih Dira!" balas Arya sambil memasuki gedung perkantoran.
Dira tak menjawab ucapan Arya, karena dia fokus pada tatapan orang-orang yang sangat kagum mungkin. Tapi bagi Dira ini memalukan sekali, karena semua orang menatap ke arahnya.
Dengan sangat malu, akhirnya Dira menelusupkan wajahnya di dada bidang Arya. Dira merasa pipinya sangat merah, karena kelakuan Arya.
Ahhh, pasti mereka berpikir aneh-aneh. Sudah tua masih banyak tingkah, malah melebihi anak muda. Aku ingin loncat ke dasar jurang saja, aku malu sekali ya ampun! gumam Dira dalam hatinya.
Setelah itu Arya segera masuk kedalam lift. Di dalam lift, tak ada yang bersuara sama sekali. Dira sedikit mengigil, apalagi bajunya sangat basah.
Sedangkan Arya yang tau istrinya itu kedinginan hanya bisa memandang, karena tangannya masih di buat menggendong. Setelah lift terbuka, Arya langsung menuju kamar mandi. Di dudukan Dira di dalam bak mandi besar itu, dan Arya menyalahkan kran air.
__ADS_1
Air hangat pun langsung mengguyur badan Dira. Terasa hangat, hingga membuatnya sedikit baikan. Apalagi Dira hanya tinggal duduk manis, karena Arya yang melepaskan seluruh pakaiannya dan memandikan diri dirinya.
Dira menikmati pijatan-pijatan lembut dari Arya. Sungguh Arya adalah suami idaman, selalu mengerti Dira. Hingga Dira melupakan satu hal, tujuan utamanya ke sini adalah mengambil Arleta untuk di ajak ke rumah Ryant.
"Apakah sudah enakan? Lain kali jangan seperti ini, nanti kamu sakit lagi. Aku gak mau istriku sakit, ataupun kelelahan. Memang kamu mau apa kesini, apa gak sabar nunggu suamimu ini pulang?" Arya pun mulai mengomel.
Sungguh Dira sangat risih, tapi suka. Karena Arya sangat perhatian padanya, dan hanya pada dirinya.
"Aku mau jemput Arleta, mau aku ajak ke Papa. Sudah satu minggu ini kita gak ke sana, aku sangat merindukan Papa," balas Dira yang masih menikmati pijitan Arya.
"Kamu telat, Sayang. Tadi Arleta di jemput Papa, dan sudah dua jam lebih Arleta di rumah Papa." Dira pun mendengus kesal karena Arya sama sekali tak memberikan kabar, apalagi menghubungi dirinya.
"Kenapa kamu gak bilang sih, Kak! Aku kan bisa langsung ke sana, jika kamu kabari aku dulu." Kesal Dira sambil mengerucutkan bibirnya.
Sungguh Arya merasa sangat gemas dengan Dira. Ingin sekali Arya melahap istrinya sekarang juga, tapi Arya juga memikirkan kesehatan Dira. Jadi, Arya hanya mencium singkat bibir istrinya itu.
"Maafkan aku, Sayang. Aku kira kamu masih tidur, karena kelelahan. Aku kan suami yang takut istrinya terganggu saat tidur, jadi lebih baik aku membiarkan kamu tidur nyenyak selama aku gak ada," ucap Arya sambil mencubit pipi istrinya itu.
"Tau ah!" Dira pun merajuk dan membuat Arya semakin gemas dan tak bisa menahan. Akhirnya Pertahanan Arya gagal, hingga mereka melakukan sesuatu yang di luar expectation.
.
.
.
Happy Reading
Anu, jika Alisya, Ardi, Mahen, dan Raya kisah cintanya aku buat rumit kek benang kusut bagaimana? 😆😆
__ADS_1
Jawab ya, sebelum aku buat seperti yang aku mau 😁