
Arya dan Dira kini memasuki perkantoran milik keluarga Wiguna. Karena adegan panas mereka, Arya sampai telat dua jam ke kantor. Dengan sangat bahagia Arya menggandeng tangan Dira dan memasuki gedung perkantoran, Arya merasa energinya tiba-tiba muncul lagi saat Dira memberikan asupan tadi pagi.
Semua mata tertuju pada Dira dan Arya. Pasangan yang sempurna, bahkan tak ada cacat sedikit pun. Arya merangkul pinggang Dira dengan sangat erat, sedangkan Dira berjalan sangat anggun sambil menyapa para pegawai Arya.
"Selamat pagi, semua," ucap Dira sangat ramah.
"Selamat pagi bu Arya dan pak Arya," jawab seluruh pegawai. Setelah itu Dira dan Arya menuju ruangannya. Namun saat mereka sampai di depan ruangan tiba-tiba Gibran memeluk Arya dari belakang, dan membuat kehebohan yang luar biasa.
Apakah Dira terkejut? Iya dia sangat terkejut, saat melihat lelaki tampan tapi gelagatnya seperti banci.
"I miss you, Honey," ucap Gibran dengan memeluk erat Arya.
"Ih ... Lepas gak! Ini di kantor jangan macem-macem kamu Gibran, lepasin atau aku tonjok kamu," balas Arya sambil menahan malu. Seketika Gibran langsung melepaskan pelukannya dan menatap Arya dengan tatapan penuh cinta. 🤮
"Maafkan, aku. Anggap saja itu adalah bentuk kangen ku sama kamu Sayang, aku sangat merindukan kamu," ucap Gibran sambil melebarkan tangannya untuk minta di peluk. Namun dengan cepat Dira menggeser Arya kesamping, dan pelukan Gibran langsung mendarat ke tubuh Dira.
Mata Arya langsung melotot, karena istrinya di peluk orang jadi-jadian. Sedangkan Gibran baru menyadari yang di peluk bukan Arya pun, langsung melepaskan pelukan itu. Bak orang yang takut terkena kuman, itulah tingkah Gibran.
"OMG! 😱 Aku memeluk wanita. Astaga, ini sangat memalukan sekali. Memeluk sesama jenis," teriak Gibran dengan lompat-lompat gak jelas. Jangan lupakan tangan Gibran, yang menghapus jejak pelukan tadi.
"Kita berbeda jenis, dodol! Aku wanita kamu laki-laki, aduh bagaimana bisa lelaki macho seperti kamu jadi lekong gini," ucap Dira sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
"Memang aku laki-laki. Tapi itu dulu, sekarang aku adalah wanita. Ingat aku wanita," jelas Gibran untuk mengingatkan Dira.
"Kamu lelaki GIBRAN ALBERT REVANS!" Arya pun mulai geram. Dia gak rela istrinya di peluk laki-laki lain, walaupun itu kakak, atau siapapun gak boleh. (Pocecif ya Bun😁)
"Dan satu lagi. Jangan pernah peluk-peluk aku di depan umum, jadi saya harap kamu mengerti apa yang saya maksud. Oh satu lagi, jangan sembarangan peluk Dira, dia hanya milikku," Jelas Arya dengan nada meninggi.
"Maafkan aku, Honey. Aku hanya ingin dekat kamu saja, gak akan macem-macem. Sueer... untuk aku meluk dia, tadi gak sengaja," balas Gibran cengengesan. Arya semakin prustasi, saat melihat kelakuan Gibran yang semakin parah. Padahal dia sudah menyewa dokter khusus di sana, untuk menangani Gibran. Tapi kenapa dia makin parah.
"Tunggu! Tunggu! Jadi maksudnya, Gibran ini Gay?" tanya Dira kebingungan.
"Gini ... biar aku jelaskan. Gibran ini dulu lelaki normal, tapi karena sering di bully oleh wanita, Gibran jadi belok. Dan yang di sukai Gibran adalah lelaki yang membuatnya bangkit, ya itu suami kamu Dira," ucap Seto sedikit ragu-ragu. Sedangkan Dira langsung melototkan matanya, dia gak habis pikir cowok seganteng ini Gay.
"Amit-amit jabang bayi, semoga anakku gak seperti dia," gerutunya sambil mengelus perut yang masih rata itu.
Sial tokcer juga itu benih-benih sialan, baru saja nikah udah jadi aja itu anak. Semoga sifatnya gak nurun kayak bapaknya, yang gak punya otak sama sekali, gumam Seto dalam hati.
"Iya di dalam perutku ada Arya junior, aku dan kakak akan memiliki anak," balas Dira dengan bahagia. Namun kebahagiaan itu langsung luntur saat Gibran bersuara, suaranya sangat melengking menyakitkan telinga.
"Apa! Kamu serius Honey? Kamu akan punya anak, astaga aku akan memiliki anak. Kita akan punya anak Honey, dan aku akan di panggil Mama nanti," teriak Gibran sangat bahagia, bahkan Gibran juga langsung memeluk Arya dengan erat. Namun tidak dengan Dira, dia gak mau anaknya memanggil Gibran Mama. Apa-apaan, Mama Mama.
"Woe! Ini anak aku dan kakak, bukan anak kamu dan kakak!" balas Dira sangat jengkel.
__ADS_1
Arya ingin sekali mendorong tubuh Gibran, tapi Lagi-lagi Arya gak tega melihat kebahagiaan Gibran yang tulus dari hati. Arya masih ingat betapa terpuruknya dia saat di bully oleh wanita, dan itu sangat sulit membuat dia gak berniat bunuh diri.
"Masa aku gak boleh sih, anggap anakmu sebagai anakku? Aku kan hanya minta itu aja, gak lebih. Arya mana katamu permpuan itu baik, nyatanya dia galak banget seperti ketua OSIS yang dulu," Celetuk Gibran dengan mata berkaca-kaca.
Disini lah Arya mulai gak tega. Gibran sebelumnya orang yang sangat baik, hanya saja dia perlu pengertian lebih agar dia kembali normal. Mungkin Arya akan mencari orang yang sangat lugu, untuk menghadapi Gibran dan membuat Gibran percaya gak semua wanita jahat.
"Kamu kenapa kembali lagi ke Indonesia? Bukannya sudah aku bilang, walapun kamu sudah lulus kuliah, kamu tetap harus menjalani terapi di Australia. Apakah ada yang membullymu lagi?" tanya Arya sangat lembut. Sedangkan Dira sangat terkejut, melihat kelembutan Arya ke Gibran.
Dira dapat melihat, Arya begitu menyayangi Gibran. Dira jadi merasa bersalah karena sempat membentak dia tadi, sungguh Dira menyesal.
"Aku gak suka di sana. Aku juga gak mau pisah sama kamu Arya, di sana orang nya jahat-jahat. Mereka semua membicarakan aku di belakang, mereka bilang aku gak waras jadi harus masuk rumah sakit jiwa," balas Gibran sangat sedih. Sedangkan Dira gak mau ikut campur dengan urusan Gibran, lebih memilih pergi.
"Kak aku pegal. Aku masuk dulu ke dalam, kakak bicara saja dulu sama Gibran," ucap Dira yang memotong pembicaraan Gibran.
"Iya kamu istirahat dulu. Nanti aku menyusul, jangan capek-capek kalau mau makan tinggal telepon OB." Dira pun mengangguk kan kepala dan segera pergi. Sedangkan Arya mengajak gibran ke ruangan Seto untuk membicarakan semuanya.
*
*
*
__ADS_1
happy Reading