Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 52 Apakah ini rasa kasihan atau Cinta


__ADS_3

"Mana laporan yang saya minta, kemarin malam?" tanya Arya pada sekretarisnya. Setelah dari rumah sakit, Arya langsung menuju kantor agar bisa melupakan amarahnya.


"Maaf, Pak. Berkas-berkasnya belum selesai, karena bu Nita tiba-tiba jatuh sakit," jawab Mawar sangat takut. Bahkan Mawar sudah memprediksi apa yang akan terjadi, saat Arya datang dengan wajah yang sangat muram.


Brakkk....


"APA KAMU TAK BISA MENGERJAKAN


KAN ITU SEMUA? KALAU KAMU TAU NITA SAKIT, SEHARUSNYA KAMU SEBAGAI SEKRETARIS SAYA NGERTI DONG HARUS APA! SAYA DI SINI GAJIH KAMU MAHAL TAPI OTAK GAK DI PAKAI!" bentak Arya sangat murka. Sedangkan Mawar yang merasa takut, hanya bisa menangis saat mendapatkan bentak kan dari Arya.


"Perusahaan saya keras Mawar, jika mental kamu tak kuat lebih baik kamu mengundurkan diri. Saya gak mau pecat kamu karena saya tau kamu butuh uang, tapi saya memberi ruang bebas untuk semuanya jika sudah merasa bosan/gak kuat, silahkan ajukan surat pengunduran diri dan saya akan menyetujuinya" ucap Arya sangat tegas.


Beginilah Arya, jika sedang marah dia gak kenal waktu. Namun saat ngambek, akan seperti anak kecil. Begitu juga saat bucin, dia akan seperti orang gila.


"Sa... Saya masih mau berkeja, Pak," Jawab Mawar sambil sesegukan.


"Sekarang pergilah, kerjakan semua yang saya butuhkan. Tenang saja setiap kamu membantu karyawan lain yang sedang sakit, ada uang tambahan buat kamu saat pulang nanti," ucap Arya sangat lembut, bahkan tak seperti tadi. Mawar hanya mengangguk dan bergegas meninggalkan, Arya.


"Sial! Semua gara-gara mama, andai mama gak lebay pasti Dira gak akan meminta LDR lagi. Ini membuat kepalaku semakin sakit, karena memikirkan semuanya!" Arya yang merasa frustasi, langsung mengacak-acak rambutnya sangat kasar. Bahkan umpatan umpatan, selalu keluar dari bibir Arya.


****

__ADS_1


"Uuggghh..!" Erang Fani saat dia mulai sadar dari pingsannya. Sintal yang mengetahui itu langsung memeriksa keadaan Fani, dan melihat apakah Fani baik-baik saja. Walaupun Sintal bukan dokter kandungan, tapi dia bisa kalau memeriksa kondisinya saja.


"Kamu sudah, bangun?" tanya Sintal sangat lembut.


Fani yang mulai sedikit sadar dengan semuanya langsung menatap Sintal dengan mata berkaca-kaca, bahkan tangan Fani langsung, memegang perutnya yang masih rata itu.


"Tenang saja, anak kamu baik kok. Kata dokter kamu terlalu banyak pikiran, jadi membuat kamu stres dan mengalami pendarahan," Sintal berusaha memberi tau keadaan Fani, karena Sintal tau jika Fani ingin bertanya namun tak bisa. Fani sangat takut mendengar berita buruk, dan terjadi apa-apa dengan bayinya.


"Kamu serius, kan?" Kini Fani muali bicara, walaupun sangat pelan.


"Aku serius, dia baru berusia 8 minggu kamu harus hati-hati. Untuk beberapa hari kamu akan tinggal di rumah sakit, dan aku akan menemanimu, mungkin juga bergantian dengan Arya,"ucap Sintal sangat lembut, selembut Sutra.


"Apa boleh, aku pinjam ponsel kamu?" Sintal pun merasa bingung, tapi dia tetap memberikan ponselnya pada Fani. Setelah itu Fani langsung mengambil ponsel Sintal, dan mencoba menghubungi Rangga kembali.


"Rangga ini aku, Fani," balas Fani sangat pelan.


"Gak ada bosen-bosennya kamu menghubungiku, sudah ku bilang jangan hubungi aku lagi!" bentak Rangga sangat keras, bahkan Sintal sampai mendengar itu semua.


"Rangga aku pendarahan dan sekarang ada di rumah sakit, apa kamu gak mau melihat kondisi calon anakmu? Gak apa kamu membenci aku, tapi jangan anakmu." Mohon Fani, dan saat ini Fani tak dapat membendung air matanya lagi. Sedangkan Sintal yang melihat Fani, langsung merasa iba.


"Berapa kali aku bilang, itu bukan anakku. Kamu bilang pendarahan, syukurlah lebih baik lagi kalau anak itu meninggal!"

__ADS_1


Hati Fani sungguh semakin sakit setelah mendengar perkataan Rangga, sedangkan Sintal merasa emosi langsung mengambil ponsel itu dan marah-marah dengan Rangga.


"Dasar manusia gak punya hati. Kalau lo gak mau anak ini kenapa lo buat be*go, sungguh kamu orang yang paling kejam yang pernah aku temui." Sintal semakin emosi saat Rangga mengatakan sesuatu.


"Kalau lo mau, kenapa gak lo saja yang tanggung jawab? Enak kan dapat ibu dan anak sekaligus tanpa susah-susah, buat anak," jawab Rangga dengan tertawa keras, sangat keras hingga membuat telinga Sintal panas.


"Sialan! Tanpa lo suruh, gue akan bertanggung jawab sama anak ini, tapi ingat satu hal jangan pernah menyesal karena pernah membuang anak lo. Jika lo sudah sadar, entah tahun berapa, aku gak tau dan lo minta maaf sekaligus minta di akui sebagai orang tua anak ini. Aku pastikan lo gak akan mendapatkan permohonan maaf itu, bahkan anak lo sendiri akan membenci dirimu!" Setelah itu Sintal langsung mematikan panggilan tersebut, tanpa menunggu jawaban Rangga.


Sintal sudah terlalu marah, dan kesal. Melihat tingkah Rangga, sungguh Sintal ingin membunuh orang itu jika sampai bertemu nanti.


"Sungguh gak punya, otak," gerutu Sintal yang merasa geram. Namun kegeraman Sintal membuat Fani bingung, dan penasaran.


"Kenapa kamu begitu membela ku? Padahal dia sama sekali tak perduli dengan anak ini, dan kenapa kamu malah begitu baik denganku. Apa karena merasa kasihan? Tapi sayangnya aku tak suka di kasihani," ucap Fani sambil menangis. Sedangkan Sintal juga masih bingung kenapa dia begitu marah, saat mendengar Rangga berkata seperti itu.


"Apa benar aku hanya merasa kasihan?" gunam Sintal dalam hati. Dan mereka pun, langsung diam tanpa berbicara. Mereka berdua, sama-sama di rundung kebingungan.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2