
Setelah mendapatkan alamat Serlin, Dira langsung pergi ke rumahnya untuk mencari Sintal. Sempat tadi dia berfikir akan pergi sendiri, tapi setelah di renungkan. Melihat sikap Serlin yang licik, membuat Dira berpikir ulang dan memutuskan mencari bantuan dengan Sintal.
"Asalamualaikum, Ma, Pa, Dira pulang." ucap Dira saat memasuki rumah. Dira berjalan ke arah ruang tamu, dan mencari keberadaan orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dewi dan Angga bersamaan. Hari ini hari minggu, jadi Angga ada di rumah. Setiap liburan, Angga selalu menikmati kebersamaannya dengan Dewi di rumah.
"Loh! Kamu sudah pulang, Sayang?" tanya Dewi sambil menhampiri Dira.
"Aku baru sampai, satu jam yang lalu. Oh ya, kak Ital kemana? Aku ingin minta tolong sama, Kakak," balas Dira sambil menanyakan Sintal. Sedangkan Angga yang tak melihat menantunya, pun bertanya.
"Mana suamimu, Tia?" tanya Angga. Dira pun langsung mendekati Angga, dan langsung memeluk Angga.
"Inilah yang ingin aku bicarakan, Pa. Tia mau minta tolong sama kakak, Tia mau kak Sintal mengantar aku ke rumah seseorang," balas Dira dengan lesu. Angga tau ada yang tak beres, akhirnya Angga menuntun Dira agar duduk di sofa.
"Sebentar, Mama akan hubungi kakakmu. Soalnya semenjak Fani sering kontraksi, Sintal jarang pulang kerumah," ucap Dewi.
"Kak Fani kenapa, Ma? Bukannya kandungan kak Fani masih delapan bulan ya, kok sudah sering kontraksi?" tanya Dira sedikit khwatir.
"Fani merasa stres karena ayah dari anaknya selalu mengganggu dia, setiap hari dia di teror Sayang." Dewi pun menceritakan kejadian yang di alami Fani. Bagaimana Rangga menggangu Fani, dan sampai Fani mengalami penekanan batin.
"Ma, gak perlu menelpon kakak. Aku gak mau kakak semakin terbebani, cukup kak Fani yang dia pikirkan." Cegah Dira. Dira gak mau sampai kakaknya terlalu pusing dengan dua masalah, mungkin Dira akan meminta tolong orang lain.
"Memangnya kamu mau minta tolong apa, Sayang? Barang kali Papa bisa bantu kamu, dan satu lagi kamu juga belum jawab pertanyaan Papa tentang Arya," ucap Angga sambil menatap mata Dira. Dira pun menghembuskan napas sangat kasar, dan setelah itu menceritakan semuanya.
"Kak Arya di tangkap polisi, Pa," balas Dira dengan suara bergetar. Sedaritadi dia berusaha menahan tangis agara tak terlihat kacau, sekuat mungkin Dira menahan ternyata tak bisa.
"Kenapa suamimu bisa di tangkap polisi?" tanya Dewi yang terkejut. Dewi tak menyangka, menantunya masuk penjara.
"Mantan tunangan kak Arya datang ke Bali kemaren, trus dia marah-marah sama Tia karena dia berpikir jika Tia merebut kak Arya. Terus kak Arya menjelaskan semuanya, dia gak terima terus buat laporan palsu, jika kak Arya menganiaya Serlin waktu di Bali." Dira bercerita dengan wajah yang di sembunyikan di dada Angga.
Angga dapat merasakan tubuh anaknya bergetar, dan menangis. Dengan sangat lembut Angga mengelus punggung Dira, agar dia tenang.
__ADS_1
"Sekarang kamu maunya, gimana?" tanya Angga.
"Tia mau kerumah Serlin, Pa. Papa mau kan temanin Tia ke rumah Serlin, sekalian Dira mau mancing Serlin untuk mengaku," balas Dira yang masih menangis.
"Baiklah, ayo kita kesana sekarang. Setelah ke sana Papa boleh liat hasil visum Serlin gak? Biar Papa lihat itu palsu, atau asli," ucap Angga.
"Hasilnya ada di kantor polisi, Pa. Kayaknya palsu, karena kak Arya sama sekali gak memukul Serlin sama sekali. Cuma kita sempat bertengkar sedikit, karena Serlin bilang kalau Tia wanita murahan," jaawab Dira lagi.
"Ya sudah, kamu jangan nangis lagi. Papa mau siap-siap, kita kerumah Serlin sekarang juga. " Dira pun melepas pelukanya dan menghapus air mata yang terus menetes itu.
Setelah itu Dewi langsung duduk di sebelah Dira, dan langsung memeluk putri semata wayangnya itu.
"Yang sabar ya, Sayang."
***
"Cepat kamu ngaku! Jangan berbelit-belit lagi, jika kamu ngaku kami akan ringankan hukumanmu!" teriak salah satu polisi. Sedangkan Arya hanya terdiam dengan senyuman mengejek, bahkan Arya sama sekali tak menggubris perkataan polisi.
"Kenapa kamu diam, bodoh!" teriaknya sekali lagi, dengan sangat kencang.
"Bukti sudah di depan mata. Jadi kamu gak bisa mengelak lagi, aku pastikan kamu akan di penjara Arya," ucap Serlin yang baru datang.
Sedangkan Arya langsung menatap tajam Serlin, entah kenapa sekarang Arya menjadi benci dan merasa menyesal telah mengenal Serlin.
"Kita lihat saja Serlin. Siapa yang akan di penjara, aku atau kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini, karena aku muak melihatmu!" balas Arya dengan meludah di depan Serlin.
Marah? Jelas Serlin marah, tapi dia mencoba sabar. Dia mau bicara empat mata saja, dan menawarkan sesuatu yang menguntungkan.
"Pak, bisa tinggalkan kami sebentar?" pinta Serlin dan tentu polisi itu membiarkan Serlin bicara berdua saja dengan Arya.
"Aku gak mau bicara dengan wanita kotor seperti kamu, sudah pergi sana sebelum kesabaranku habis. Aku menahan emosi karena kamu wanita, tapi jika aku sudah tak bisa menahan jangan salah kan aku jika nanti kamu keluar hanya tinggal nama!" Ancam Arya. Arya benar-benar muak melihat Serlin, bahkan dia ingin mencekik wanita ular itu saat ini. Namun dia tak bisa, karena tangannya di borgol.
__ADS_1
"Uuuhhh, aku takut," jawab Serlin dengan berakting ketakutan. Serlin benar-benar psikopat, dia bukan Serlin yang dulu melainkan Serlin yang gila akan sesuatu.
"Sudahlah Arya, kita bukan anak kecil lagi. Aku akan mengeluarkan kamu jika kamu mau menikah dengan aku, tak apa-apa aku jadi istri kedua, asal kamu mau menikah dengan aku," ucap Serlin sambil mengelus rahang Arya.
Sedangkan Arya yang merasa jijik langsung melengos, agar tanggan Serlin tak menyentuhnya lagi.
"Ciihh... Jangan harap kamu jadi istriku, aku gak mau punya istri gak waras seperti kamu. Kamu perlu dokter Serlin, kamu itu perlu pengobatan untuk menyembuhkan penyakit kamu itu!" teriak Arya sangat kencang.
"Aku gak sakit. Aku hanya gila Karena cintamu Arya, menikahlah denganku. Kita membuka lembaran baru lagi seperti dulu, kita akan hidup bahagia dengan anakku ini." Arya pun langsung membelalakan mata, saat Arya berkata seperti itu.
"Jadi kamu kembali hanya karena anakmu gak punya bapak? Enak banget kamu ya! Yang buat siapa, yang harus tanggung jawab siapa? Entah apa rencana Allah hingga aku di kelilingi wanita hamil dan ingin menjadi kan aku suaminya, ini benar-benar gak adil!" gerutu Arya sangat kesal.
"Ini anak kamu sekarang, Arya," jawab Serlin dengan pedenya.
"Ogah! Kepedean banget kamu itu Serlin, kamu kira aku masih cinta kamukan, sebab itu kamu kira aku akan terima kamu apa adanya?" Arya pun terkekeh saat mengatakan itu. Arya tak percaya, jika Serlin sepicik itu.
"Tapi sayangnya aku bukan Arya yang dulu. Arya yang bodoh dan terlalu mencintai wanita nakal seperti kamu, untung Allah masih sayang sama aku hingga menggagalkan pernikahan kita dulu. Aku gak bisa bayangin jadi apa aku dulu jika kita jadi nikah, mungkin aku hanya jadi lelaki bodoh yang di injak-injak harga dirinya oleh seorang Serlin," ucapnya sambil tertawa lebar.
"Apa maksudnya kamu menolak tawaran aku, Arya?" tanya Serlin sangat kesal. Serlin tak mau penolakan, Serlin hanya mau di turuti saja.
"Kalau kamu pintar pasti akan mencerna semuanya dengan baik, tapi jika kamu rada kongslet ya ... Kamu gak akan paham dengan kata-kataku tadi." Arya sengaja mengejek Serlin, karena memang itu kenyataannya.
"Dengar Arya! Aku akan memasukkan kamu ke penjara hingga mendapatkan hukuman seumur hidup, aku yakin kan kamu akan terpisah dari istrimu itu!" teriak Serlin sebelum pergi meninggalkan Arya. Namun Arya tak mengidahkan ucapan Serlin, malah Arya selalu mengejek ucapan Serlin.
"Makasih loh ya atas ancamannya. Hingga membuat aku takut, tapi sayangnya itu bo'ong," teriak Arya Sabil tertawa terbahak-bahak. Serlin semakin kesal dengan Arya, bahkan Serlin semakin mengumpat.
"Aku kok geli ya, mendengar perkataanku tadi? Ini gara-gara Dira yang suka nonton yang aneh-aneh, dan aku jadi ketularan deh," gunam Arya sambil senyum senyum sendiri.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading