
"Benar-benar brengsek orang itu!Seenak jidatnya saja kalau ngomong, mana mungkin bisa aku yang bertanggung jawab atas anak dia. Yang buat siapa, kok aku yang di suruh tanggung jawab," gerutu Arya sambil masuk kedalam rumahnya. Dira yang melihat arya begitu kesal pun menghampiri Arya, dan bertanya ada apa.
"Kamu kenapa, Kak? Gimana tadi sudah bertemu dengan kak Rangga, dia mau bertanggung jawab kan?" tanya Dira penuh harapan. Dari tadi Dira menunggu kedatangan Arya, dan menanti berita baik untuk Fani.
"Kalau mau tanggung jawab sih enak, lah ini dia tetap kekeh gak mau tanggung jawab! Lebih parahnya lagi, dia bilang aku yang harus tanggung jawab," oceh Arya sambil menonjok tembok.
"Terus, apa tanggapan mu?" tanya Dira sangat ragu. Sebenarnya hati Dira takut kehilangan, tapi melihat Fani yang terlunta-lunta membuat hati kecil Dira ingin menyerah saja.
"Tanggapan ku, dia sangat gila!" jawab Arya sangat cepat.
"Kak, jika aku suruh Kakak menikah dengan kak Fani. Apa Kakak setuju?" Mendengar ucapan Dira, Arya langsung melotot dan menatap Dira tajam.
"Kamu ngomong apa sih? Aku gak mau nikah sama Fani, oke aku juga kasihan dengan Fani. Tapi apa ini akan berjalan dengan baik, jika aku menikahi Fani karena kasihan?" tanya Arya yang sangat murka.
"Kak, anggap saja kamu yang melakukan semua itu. Pura-pura tuli saja, anggap anak itu anakmu," pinta Dira sekali lagi. Karena jujur Dira merasa kasihan, dengan Fani.
"Gak bisa, Sayang! Yang bikin anak Rangga, kok aku yang suruh anggap yang melakukan itu. Iya kalau aku ikut incip dikit gak masalah, aku akan tanggung jawab malahan ikhlas lahir batin. Tapi aku sama sekali tak berbuat apapun malah di suruh nanggung semuanya, aku gak mau Dira," ucap Arya sangat keras. Sedangkan Dira langsung mencubit pinggang Arya, agar mengecilkan suaranya. Takut jika Fani mendengar, ucapan Arya.
"Aauuw... Sakit, Sayang," ucap Arya sambil mengelus bekas cubitan Dira.
"Perkataanmu itu loh di jaga, Kak! Bagaimana kalau kak Fani dengar, bagaimanapun juga kak fani pernah ada di hati kamu Kak. Jangan terlalu membencinya, kak Fani adalah korban di sini. Jadi aku mohon jangan pernah menyinggung perasaannya," jawab Dira. Dira tak suka dengan ucapan Arya, apalagi sampai Fani dengan pasti dia akan sakit hati.
"Yaa maaf. Aku kan lagi kesel aja," balas Arya sambil memamerkan wajah bersalahnya.
"Jangan gitu lah kak, aku juga seorang janda. Aku juga bekas Vano, jika di banding-bandingkan, aku dan kak Fani sama saja. Karena kita sama-sama bekas," jelas Dira agar Arya sadar, ucapannya barusan salah.
"Sudahlah jangan di bahas lagi, lebih baik kita rawat kak Fani sampai melahirkan. Tapi kita juga harus tetap berusaha membuat kak Rangga sadar, dan kembali pada kak Fani." Arya sungguh semakin kagum dengan Dira, karena dia bisa bijak dalam berkata.
__ADS_1
Benar kata Dira, jika di bandingkan mereka sama. Cuma bedanya, Dira seorang janda sedangkan Fani masih singel. Aku keterlaluan bicara seperti itu, aku juga melupakan fakta jika Fani yang bisa mengobati rasa traumaku dulu. gumam Arya dalam hati. Setelah itu Arya berusaha mengalihkan pembicaraan, agar Dira tak larut dalam ucapan Arya barusan.
"Calon istriku bijak banget sih! Kita nikah yuk kelamaan nunggu sampai masa iddah, aku sudah gak sabar tau pengen ena-ena. Apa lagi kamu sering banget menggoda imanku, sayangnya aku aku harus bersabar dan berteman baik dengan sabun LERVEA rasa madu," ucap Arya berusaha membuat Dira tersenyum.
"Apaan sih, Kak!" jawab Dira malu-malu. Namun tanpa mereka ketahui, Dinda mendengarkan semua ucapan Arya barusan.
"Memang ada apa dengan sabun LERVEA? Apa baunya kurang wangi atau gimana, hingga kalian bahas merk sabun segala. Kalau kurang wangi nanti mama ganti saja sabunnya, tapi dipikir-pikir papamu suka banget sama wangi sabun itu. Jadi maaf mama gak mau ganti," ucap Dinda tiba-tiba. Sedangkan dua sejoli itu langsung terkejut, dan menatap Dinda Hory.
"Sabunnya gak perlu di ganti kalau papa suka, Ma. Wanginya lumayan kok, Arya suka bahkan jadi sabun kesayangan. Jadi gak perlu di ganti," jawab Arya sedikit malu. Sedangkan Dira hanya diam, dan mematung. Dira sangat bingung, mau berkata apa sekarang.
Aahhh... Kepolosanku hilang sudah di hadapan mertuaku, Astaghfirullah malu banget. Lagian kenapa sih kamu dira, dulu sama Vano otakmu masih bersih, kenapa sekarang jadi gesrek! gumam Dira dalam hati.
"Arya sepertinya Dira demam, pipinya merah sekali. Lebih baik kamu carikan obat atau kompres kening, Dira." Arya pun langsung menoleh ke arah Dira, dan melihat keadaan gadis itu.
"Gak demam, Ma. Tapi kenapa pipinya merah, apa kamu kepanasan Dira?" tanya Arya sangat polos.
"Mama kenapa usil banget sih sama Dira? Lihat dia sampek malu banget, dan kabur ke dalam kamarnya," ucap Arya sedikit sebal. sedangkan Dinda malah tertawa terbahak-bahak, melihat kelakuan menantu dan anaknya itu.
"Mama suka menggoda dia sekarang, karena dia tak sepolos dulu. Apa kamu terlalu mesum ke Dira, hingga otaknya tercemari barang rongsokan seperti otak kamu?" tanya Dinda sambil ketawa lepas. Sungguh baru kali ini Dinda, bisa tertawa lepas sejak kepergian Vano dua bulan yang lalu.
"Mesum atau gak mesum, itu urusan Arya. Lagian tutorial sebelum menikah itu harus di ajarkan, biar gak kikuk-kikuk amat saat menikah nanti. Tapi aku juga heran sama Dira, dia janda tapi kelakuannya seperti belum pernah di sentuh orang," ucap Arya penasaran. Sedangkan Dinda yang terkejut dengan tutur kata Arya, langsung menempeleng kepala anak pertamanya itu.
Plakk...
"Dasar anak kurang ajar! Memang Dira lagi belajar make-up, harus di kasih tutorial segala? Ingat Arya jika sampek kamu kebablasan, jangan harap kamu menikah dengan Dira. Malah Mama akan bawa Dira pergi jauh dari kamu, dan Mama gak mau Dira sampai hamil duluan," jelas Dinda sangat marah.
"Walaupun Mama ini, lebay tapi Mama gak mau kamu sampai berbuat dosa. Ingat itu dosa!" jelas Dinda sekali lagi.
__ADS_1
"Hanya tutorial, Ma. Gak sampek kebablasan kok, jadi tenang saja. Kan tadi Arya sudah bilang, untuk saat ini LERVEA kesayangan Arya," jawab Arya sambil tawaan terbahak-bahak.
"Tapi, Ma. Kemarin aku sempat incip, buah kismis. Ternyata enak ya Ma, lembut-lembut kenyal. Dulu waktu kecil aku lupa rasanya seperti apa, dan kemarin baru bisa merasakan itu," ucap Arya sambil berlari. Takut jika Dinda akan melayangkan, sebuah bogeman yang sangat menohok.
"Arya...!" teriak Dinda sangat kencang.
"Perasaan Mama dulu, membuat kamu itu pakek doa. Tapi kok yang keluar seperti ini, gak ada ahlak. Dan gak punya kewarasan! Beda banget kamu dengan Vano, dia anak yang sangat baik dan polos," gerutu Dinda di ruang tamu. Setelah itu Dinda langsung memikirkan Vano, saat tak sengaja tadi menyebutkan namanya.
"Mama rindu kamu, Vano," ucap Dinda sambil berkaca-kaca. Arya yang mendengar ucapan Dinda, spontan langsung berhenti dan kembali mendekat ke arah Dinda. Arya peluk wanita yang pernah melahirkan dia, dan dia kecup penuh kasih sayang.
"Arya juga merindukan Vano, Ma. Tapi Allah lebih sayang Vano, hingga Allah lebih cepat mengambilnya," ucap Arya sambil mengeratkan pelukkan nya.
Tanpa mereka ketahui Dira juga mendengar perkataan Arya dan Dinda. Seketika air matanya langsung luruh, saat mengingat mendiang suaminya.
"Vano maafkan, aku. Aku telah menduakan cintamu, maafkan aku," ucap Dira sambil menangis.
Setelah itu Dira langsung masuk kedalam kamar, dan saat sampai di dalam Dira langsung mengambil bingkai foto yang ada di meja rias nya. Dengan air mata yang mengalir, Dira terus memandang foto-foto mereka dari mulai pacaran hingga menikah,tanpa henti Dira meneteskan air mata sampai hidungnya mulai tersumbat.
"Lihatlah kita hanya bisa bersama dengan waktu yang singkat, Sayang. Butuh waktu lama kita saling mencintai hingga memutuskan menikah, tapi aku dengan mudahnya melupakan cinta kita dan memilih menikah dengan kakakmu, Vano! Sungguh aku wanita murahan, yang tak bisa setia dengan satu orang." Dira pun kembali menangis sampai dia terhanyut, dan terbawa ke dunia mimpi yang sangat indah.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1
Setidaknya kalau gak suka, gak usah banyak omong! Kalian sadar gak sih, komen yang negatif itu membuat penulis down? Gak perlu lah komen jelek, kalau gak suka tinggalkan gak usah di baca sampai jauh kesini, bikin badmood. Sudah saya jelaskan dari awal, saya harus revisi karena yang dulu banyak di tarik bab. kalau gak sabar, akun bilang bisa lewatin sambil nunggu season 2. Apa kalian gak mikir betapa sulitnya revisi, dan buang kata-kata yang gak nyambung dan typo bertebaran. Jadi emosi kan, aku nya liat komentar seseorang yang bikin naik darah. 114 bab loh saya harus revisi dan masih ke revisi 41 bab, gak bisa langsung 1 hari jadi ya Allah. Tangan saya juga butuh tidur, gak ngetik mulu.