
"Kamu jangan ngaco, Ardi! Kalian masih sekolah, apalagi kamu baru masuk kuliah dan Alisya baru SMA kelas 3. Jangan macem-macem kamu, Mommy gak setuju!" Tolak Dira.
Dira gak mau anaknya terlalu terburu-buru mengambil tindakan gegabah, apalagi tentang pasangan hidup. Alisya juga belum begitu matang, dan Ardi belum ada kerjaan.
"Ayolah, Momm. Ardi janji, akan kerja sambil kuliah nanti. Tapi izinkan Ardi nikah sama Alisya, ya?" Ardi terus merengek minta di nikahkan.
Dira memegang kepalanya. Rasanya mau pecah, apalagi baru saja dia tau Arleta juga ingin mengejar seorang laki-laki karena cinta.
"Ahhh ... sebenarnya, ada apa dengan anak-anak Mommy? Kenapa semuanya bilang cinta-cintaan, palagi Arleta masih piyik udah mikir cinta. Kalian ini nurun siapa?" tanya Dira sambil menggelengkan kepalanya.
"Ardi serius, Mommy. Ardi gak mau Alisya dimiliki orang lain, jadi aku mohon Mommy kamarkan Alisya ya?" Ardi terus memohon agar Dira merestui nya. Ardi gak akan menyerah, apalagi saat dekat Alisya dia suka hilap.
"Gak! Tunggu kamu lulus kuliah dulu, dan setelah itu baru Mommy kamarkan Alisya untukmu!" Bantah Dira.
"Ya sudah, kalau gak boleh juga gak apa-apa. Tapi jangan salahkan Ardi, jika dedek bayi keburu nongol karena Ardi hilap. Intinya Ardi sudah minta yang halal, tapi Mommy membuat aku melakukan yang haram."
Ardi pun langsung berdiri, dan meninggalkan Dira yang masih shock dengan ucapan anaknya. "Dedek bayi hadir, minta yang halal nyuruh yang haram!"
Dira pun langsung berdiri, dengan napas yang sangat memburu. Ucapan Ardi berputar-putar di otaknya, apalagi kata-kata dedek bayi.
"Ardi ... jangan bilang Alisya sudah hamil!"
Teriak Dira yang membuat Ardi semakin melotot. Padahal niatnya bukan itu, Alisya masih suci. Itu hanya gertakan saja, tapi Dira salah artis.
***
"Kamu sudah pulang, Len?"
Alena mengangguk dan langsung memeluk Vano. Tapi dengan cepat Vano melepaskan pelukan itu, dengan alasan bukan tempat umum.
__ADS_1
"Alena ini sebenarnya siapa kamu sih, Van?" tanya Alena dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah deh, jangan cengeng. Bosen aku lihatnya, selalu nangis andalannya." Ucapan Vano sangat menusuk jantung Alena. Padahal dia tanya, dia itu siapanya. Tapi, Vano malah memberikan jawaban yang sangat menyakitkan.
"Alena mau pulang!" Setetes air mata pun langsung lolos di pipi mulus Alena.
Alena sosok orang yang tak bisa di kasari. Apalagi di bentak, sekali dia di bentak pasti akan menangis dan yang sering membuat Alena menangis adalah Vano.
"Pulang, ya ayo. Kenapa masih diam saja, bikin repot saja!" Vano berjalan lebih dulu, dan meninggalkan Alena.
"Alena mau pulang sendiri, kamu pulang saja sana. Gak usah perduliin Alena, karena Alena bukan siapa-siapa Vano!"
Alena berlari mendahului Vano. Ingin Vano menarik tangan Alena, tapi sayangnya Alena lebih dulu naik kendaraan umum yang baru saja berhenti tanpa melihat tujuan angkutan itu.
"Sial! Selalu saja begini, selalu kekanak-kanakan!"
Jika kemana-mana, Alena selalu di antar Seto kalau gak Vano. Hanya mereka berdua yang dekat dengan Alena, bahkan Alena gak punya teman satupun di sekolahnya.
Vano terus mengejar hingga dia melihat angkutan itu berhenti. Vano turun dari motor, dan langsung masuk kedalam untuk mencari Alena.
"Turun!" Alena terbelalak melihat Vano menatapnya dengan tatapan tajam.
"Gak mau! Alena mau di sini saja, Vano jahat!" Tangis Alena semakin kencang hingga membuat para penumpang geram, karena melihat Vano memaksa Alena.
"Jangan kasar sama cewek! Dia gak mau ikut, kenapa kamu maksa?" tanya salah satu penumpang.
"Dia pacar saya, jadi terserah saya mau apa. Lagian ini bukan angkutan yang menuju rumah dia," balas Vano sangat kesal.
Mereka pun adu pandang. Hingga salah satu penumpang geram, dan langsung menonjok Vano. Alena terkejut, saat melihat darah keluar dari bibir Vano.
__ADS_1
"Saya gak ada urusan dengan anda, kenapa anda mukul saya?" Vano mulai tak terima hingga pertarungan mulai terjadi.
Satu lawan tiga. Vano kalah, dan di keroyok banyak orang. Alena berusaha melerai mereka, tapi sayangnya itu sia-sia. Hingga satpam salah satu pabrik keluar melerai mereka, dan barulah pertikaian itu selesai.
"Maafkan Alena. Ini semua salah Alena, maafkan Alena ...."
Vano hanya bisa menghela napas. Ingin marah, tapi Vano gak tega saat melihat Alena menangis. "Sudahlah, ayo kita pulang. Papa pasti menunggumu, ini sudah lewat jam pulang."
Setelah itu Vano berdiri, dan menggandeng tangan Alena. Setelah menaiki motor, mereka bergegas pergi dari tempat itu tanpa ada yang bersuara lagi.
Sampai kapan kamu seperti ini, Alena. Semakin hari sikapmu bertambah manja, bukannya bertambah dewasa. Aku sangat mencintaimu, tapi kamu selalu ingin semua di publish. Bukan aku gak mau, tapi di sisi lain kamu anaknya Om Seto. Aku takut hubungan ini di tentang, dan mereka memisahkan kita.
.
.
.
Happy Reading
Hai kak mampir ke cerita temenku dong.
Di jamin bagus, sambil nunggu cerita ini update.
judul:Tawanan cantik istri Presdir
Napen: SHIRLI
sinopsis: Gadis cantik bernama Mayang terpaksa menjadi tawanan seorang presdir muda bernama Brian demi menyelamatkan ayahnya. Penampilan sang presdir yang awalnya nampak mengerikan tak lantas membuat gadis itu ketakutan. Hingga tumbuh benih cinta di hati sang pria dan membuatnya ingin merubah penampilan. Pernikahan pun terjadi, namun tak lantas membuat Brian membebaskan Mayang dari sangkar emas. Lantas, mampukah Brian melindungi Mayang dari ancaman seorang bos mafia besar yang selalu memburunya?
__ADS_1