Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
S2 - Crazy Up 2


__ADS_3

"Nek, Alena minta Nenek menyudahi balas dendam ini dengan Lessy. Lena semakin takut, Nek. Sebenarnya mereka baik, hanya saja Lena yang salah. Lena yang gak bisa mengerti hati Vano, bahkan Lena juga terlalu kekanak-kanakan karena itu Vano menjadi ilfil dengan Lena," ucap Alena saat selesai makan malam.


Setelah berunding dengan Vano tadi, membuat hati Alena terbuka. Alena gak mau berbuat jahat, apalagi dengan orang yang sama sekali gak salah.


"Mana bisa, Lena! Orang suruhan Nenek sudah mengikuti kedua orang tua Lessy, bahkan Nenek menyuruh mereka untuk membunuh kedua orang tuanya."


Seketika wajah Alena langsung terkejut. Alena gak tau masalah ini, yang Alena tau Neneknya hanya meneror, gak sampai membunuh. Alena gak mau, dan gak terima jika harus ada nyawa yang melayang.


"Nenek! Kenapa harus di bunuh, Alena gak mau nek. Cepat hubungi mereka, batalkan semuanya. Alena gak mau ada korban jiwa, Alena gak mau Nek!" Teriak Alena sangat keras.


Prang!


Seketika Alena langsung membeku, saat mendengar barang jatuh. Alena dengan cepat menoleh ke arah belakang, dan mendapatkan Lessy di belakangnya.


Lessy menjatuhkan nampan berisi minuman dingin, yang dia ambil dari dapur. Baru saja dia menghampiri Alena, tapi dia sudah mendengar percakapan Alena dengan seseorang.


"Lessy!" Panik Alena.


"Apa salahku, Lena? Coba katakan, apa salahku?" tanya Lessy dengan tatapan kosong.


Pikiran Lessy sudah kemana-mana, apalagi dia baru ingat jika kedua orang tuanya pergi bekerja saat ini. Lessy, merasa dunianya langsung hilang saat mendengar Alena bicara seperti tadi.


"Lessy, biar aku jelaskan. Aku yakin, gak akan terjadi apa-apa. Aku mohon percaya sama aku," ucap Alena sangat gemetar. Alena juga merasa sangat takut, apalagi ucapan Neneknya membuat dia semakin gemetar.


"Aku tanya sama kamu, kenapa kamu malah jawab yang lainnya! Kenapa kamu melakukan ini, apa salahku ha? Apa salah ku!" Teriak Lessy yang tak bisa di kontrol lagi.


Bahkan suara Lessy sampai terdengar oleh semua penghuni rumah. Mereka yang tau Lessy menangis sambil berteriak, langsung menghampiri Lessy. Mereka sangat panik, saat Lessy terduduk lemas di lantai penuh pecahan gelas.


"Lessy!" Teriak Vano.


Vano langsung menghampiri Lessy, karena Vano melihat banyak darah di tangan Lessy. Bahkan lutut Lessy juga terkena pecahan gelas.


"Lessy kamu kenapa, Nak?" Dira bertanya dengan suara bergetar. Dira gak bisa melihat darah sebanyak ini, dia sudah merasa trauma akan darah, saat dia melahirkan Vano di dalam lift.


"Lessy, ayo berdiri—"


"Lepaskan aku! Jangan mendekat, aku benci kalian semua! Semenjak aku kenal kalian, hidupku semakin gak tenang, bahkan sekarang di hancurkan oleh dia! Aku benci kalian!"

__ADS_1


Lessy semakin berteriak dan memberontak. Karena Lessy terlalu banyak bergerak, akhirnya bagian yang gak terkena pecahan kaca, ikut terkena juga.


Vano semakin bingung dengan Lessy. Apa yang membuat Lessy seperti ini, Vano gak tau. Namun kecurigaan Vano langsung tertuju pada Alena, saat Alena mengucapkan kata-kata maaf.


"Sungguh maafkan aku, Lessy. Ini juga bukan kemauan ku, aku gak tau Lessy." Isak tangis Alena semakin pecah. Alena sangat takut, jika orang suruhan neneknya berhasil mencelakai orang tua Lessy.


"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Lessy sampai seperti ini, cepat jelaskan!" bentak Vano sangat keras.


"Iya, Lena. Ini ada apa, kenapa Lessy jadi seperti ini. Coba jelaskan, Sayang. Jangan diam saja, kita gak tau apa yang sedang terjadi." Dira kini juga bertanya. Dira merasa ada sesuatu yang terjadi, saat ini.


"Le—Lena—"


Lena tak bisa berkata-kata, dia sangat takut saat ini. Bahkan Alena merasa lidahnya leluh, saat ingin menjawab.


Kring... Kring... Kring....


Ketegangan pun terpecahkan, saat dering ponsel Lessy berbunyi. Lessy yang masih menangis, langsung mengambil ponselnya di dalam saku. Walaupun tangannya terasa perih, tapi dia tetap membuka ponselnya.


"Sini aku bantu," ucap Vano. Tapi, Lessy langsung menepis tanggal Vano.


Lessy pun langsung mengangkat panggilan itu. Apalagi itu dari ayahnya, Lessy sedikit tenang, karena ayahnya menelpon.


"Hallo, Ayah. Ayah, cepatlah pulang. Kita pergi dari rumah ini, kita jauhin mereka. Lessy gak mau Ayah sama Ibu kenapa-napa, cepat pulang ya, Lessy tunggu di rumah," ucap Lessy langsung ke intinya.


Namun, Lessy hanya mendengar tangisan di sana. Lessy bingung, kenapa ayahnya gak menjawab, tapi malah menangis bersama ibunya.


"Ayah, kenapa gak jawab Lessy. Kenapa ayah menangis, Ayah baik-baik saja kan? Jawab Lessy, Yah." Lessy bertanya dengan suara bergetar.


Lessy mulai sedikit khawatir, apalagi Lessy mendengar suara klakson yang terus di bunyikan ayahnya.


"Nak, tolong loudspeaker panggilan ini. Kalau bisa tolong kumpulkan keluarga, Nak Vano. Ayah dan Ibu ingin bicara sesuatu,Nak," ucapnya dengan nada gemetar.


"Tapi—"


"Turuti apa kata Ayah, Nak. Ibu dan Ayah gak punya waktu lama, cepat kumpulkan mereka," ucapnya sekali lagi.


Dan tepat saat itu juga, Arya datang dengan Seto. Mereka sebenarnya belum pulang, tapi karena ada berkas yang tertinggal maka mereka mampir ke rumah dulu.

__ADS_1


"Ada apa ini? Kenapa Lessy menangis, ya Allah banyak darah juga, kenapa kalian diam saja." Arya pun menghampiri Lessy.


Sedangkan Ryant yang tau ada masalah, langsung mengajak Arleta keluar rumah. Ryant membujuk Arleta dengan ice cream, agar Arleta gak mendengar pertengkaran itu.


"Bangun, Nak."


"Tunggu, kamu kenapa di sini Lena? Bukannya kamu ada di rumah nenek, kok kamu gak kasih tau Papa kalau ada di sini?" Tanya Seto penasaran. Tapi, Alena langsung menghampiri Seto dan memeluk papanya itu.


"Kamu kenapa?" tanyanya lagi.


"Bisa kah, kalian diam sebentar. Ibu dan ayahku mau bicara dengan kalian, nanti kalian akan tau, setelah orang tuaku bicara." Pandangan mata Lessy pun langsung kosong.


Seketika Lessy langsung diam, air matanya gak lagi terjatuh. Karena sebelum dia bicara seperti ini, ibunya berkata— jika terjadi sesuatu, jangan pernah meneteskan air mata. Jadilah anak yang kuat, jangan cengeng, masih banyak orang yang menyayangimu, kamu harus bisa mengikhlaskan sesuatu yang pergi darimu.


Itulah kata-kata dari ibunya. Mulai detik itu juga, Lessy langsung berhenti menangis. Karena gak mau mengecewakan ibunya, dan ayahnya.


Setelah memastikan mereka diam, Lessy langsung menghidupkan Loudspeaker dari ponselnya. Setelah itu Lessy berkat untuk melaksanakan apa yang mau di ucapkan, ibunya.


"Pak, Arya, Bu Dira. Saya di sini hanya ingin menitipkan anak saya, mungkin umur saya gak akan lama lagi. Tapi, saya gak akan mungkin tenang jika belum menyampaikan ini semua."


"Tolong, jaga anak saya jika saya ada apa-apa. Saya titipkan Lessy pada kalian, tolong sayangi Lessy seperti anak kalian sendiri. Untuk kamu Vano, Om serahkan tanggung jawab Om padamu."


Brakkkk!


Terdengar bunyi ledakan yang sangat keras saat orang-tua lessy selesai bicara. Bahkan sebelum mendengar ledakan itu, mereka mendengar orang-tua Lessy menyebut asma Allah.


"Ayah, ibu."


.


.


.


Happy Reading


komen komen aku mau komen 😝

__ADS_1


__ADS_2