
...Aku jelaskan lagi ya, bukan pindah lapak. Lapak lainnya, maksudnya itu di sambung judulnya baru. Tetap di Mangatoon, dan Novel toon kok. Hanya lanjutkan bukan di judul ini, kan ada Mendadak Nikah, Long Distance Relationship, Will You Merry Me, dan Cinta Dokter Arleta. Ini kisah anak mereka semua, woke....
...***...
"Apakah Vano serius? Apakah kita benar-benar putus, apakah ini hanya gertakan saja seperti kemarin-kemarin? Tapi, bagaimana jika dia serius?"
Alena terus memikirkan apa yang di ucapkan Vano. Alena merasa dilema, apalagi mendengar bentakan Vano membuat Alena sedikit tersentak.
"Lena, kamu di dalam Nak?"
Terdengar suara orang di luar kamar Alena. Alena yang masih bingung dengan ucapan Vano, akhirnya memilih untuk membuka pintu.
"Iya, Nek."
Cklek!
"Kamu sudah makan belum, jika belum ayo ke ruang makan. Bibi sudah memasakan, makanan kesukaanmu," ucap Lorena — neneknya Alena.
Lorena adalah ibunya Sekar. Lorena selalu memanjakan cucunya itu, dan menuruti apapun yang Alena mau.
"Wahh, serius Nek?"
"Iya, cepat sana."
Alena hanya mengangguk saja. Tanpa tunggu Lama Alena pergi ke ruang makan bersama Lorena, dan mengapa bisa ada neneknya Alena. Karena setelah pertengkarannya dengan Seto, Alena langsung menghubungi Lorena, agar menjemput dirinya.
Alena hanya ingin sendiri sekarang, walaupun dia sangat merindukan Vano. Tapi, menenangkan pikiran lebih penting. Setelah sampai di ruang makan, Alena langsung mengambil nasi sebanyak-banyaknya. Karena dia sangat merindukan suasana seperti ini.
"Nenek gak makan, ayo makan temani Alena." Pinta Alena. Namun Lorena langsung menggeleng, karena dia sudah terlebih dahulu makan.
"Lena, apakah wanita pembawa sial itu masih ada di rumah?" tanya Lorena secara tiba-tiba. Sebenarnya selama ini yang menghasut Alena, adalah neneknya sendiri. Lorena selalu menanamkan kebencian pada Alena, tapi baru tadi Alena berani mengungkapkan segala kebenciannya pada Lisma.
"Masih, Nek. Sungguh aku sudah muak, bahkan tadi aku sampai meledak. Tapi, yang aneh kenapa yang benci wanita itu hanya kita? Kenapa Kakak dan Papa tidak, malah seperti mengagung-agungkan wanita itu?" tanya Alena.
__ADS_1
Seketika Lorena tersenyum sini. Lorena sangat kesal jika mendengar nama Lisma, karena Lorena menganggap kematian Sekar adalah ulah Lisma.
"Biarkan mereka seperti itu, mereka sudah di butakan oleh cinta. Tapi asal kamu tau, penyebab kamu gak bisa bertemu dengan mamamu adalah Jallang Lisma itu!" seru Lorena sangat marah.
Alena merasa sangat bingung, dan ingin tau sebenarnya. Alena hanya mau kejujuran di antara mereka, tapi mereka selalu menceritakan setengah-setengah.
"Nenek Sayang kan sama, Alena?" tanya Alena penasaran.
"Tentunya, Sayang. Jika Nenek gak sayang, mana mungkin Nenek bilang seperti ini," jawab Lorena sangat tegas.
"Ceritakan dari awal, bagaimana bisa Mama meninggal, dan bagaimana bisa aku di rawat wanita itu?" tanya Alena sekali lagi.
Lorena tersenyum licik, Lorena akan membuat Alena benci dengan Lisma. Bahkan Lorena rela merubah cerita asli, menjadi cerita karangan dia sendiri.
"Mamamu sangat mencintai papamu, bertahun-tahun dia bertahan dengan pernikahan yang dia jalani, tapi sayangnya Lisma datang dan merusak semuanya. Lisma merebut hati papamu, hingga mamamu sakit-sakitan. Bahkan saat mamamu meninggal, Lisma menghasut Papamu agar menikahi dirinya. Setelah mamamu meninggal, Lisma berusaha mengambil hati kalian. Intinya Lisma sangat jahat, kamu jangan sampai terlalu dekat dengan dia. Nenek gak setuju."
Bohong Lorena sambil pura-pura menangis. Lorena akan membuat cucunya itu membenci Lisma, bahkan sampai menghujat Lisma terang-terangan.
Dendam yang Lorena pendam, akan dia balas melalui Alena. Kenapa Lorena memilih Alena, karena hanya Alena yang gampang terpengaruh.
"Sudahlah, yang penting kita harus terus bersatu agar Lisma di tendang dari rumah. Oh ya, Nenek sudah menyuruh orang untuk meneror orang yang kamu bilang itu. Sekarang kamu gak perlu khawatir dengan semuanya, dia orang yang sangat profesional dan gak akan pernah bisa terbongkar." Jelas Lorena sangat bahagia.
Seketika Alena jadi bahagia, tapi kembali senang saat dia ingat ucapan Vano tadi. Alena masih bingung, apakah Vano serius atau hanya menggertak saja.
"Kamu kenapa, Sayang? Kelihatannya kamu sangat sedih, apakah ada sesuatu yang kamu pikirkan?"
Alena pun langsung menatap Lorena, dan menangis begitu saja. Lorena yang sangat panik, langsung mendekati Alena untuk memberikan pelukan terhangat nya.
"Nek, tadi Vano marah sama Lena. Dan Vano mengiyakan permintaan Lena, padahal Lena hanya menggertak minta putus. Tapi, Vano langsung mengiyakan." Alena menceritakan apa yang di katakan Vano tadi.
Ada rasa kesal di hati Lorena, karena Vano begitu mudahnya memutuskan cucunya. Bahkan Vano sendiri sudah tau bagaimana sikap Alena, Lorena berpikir Vano masih belum peka pada Alena.
"Sudah jangan pikirkan dia, lebih baik kamu tenangkan pikiran dulu. Masalah Lessy biarkan Nenek yang urus, dan Vano hanya menggertak saja."
__ADS_1
***
"Bagaimana, Pak? Apakah sudah ada perkembangan tentang kasus ini, masalahnya anak teman saya sudah berkali-kali mendapatkan teror ini. Masa belum ada pencerahan sih?" tanya Arya sangat kesal.
Pasalnya sudah terhitung dua bulan, polisi belum juga menemukan siapa pelaku peneroran Lessy. Bahkan teror yang semakin parah, karena sampai membakar rumah Lessy.
Hingga Arya memutuskan untuk mengungsikan Lessy di rumahnya, beserta kedua orang tua Lessy. Bahkan Lessy harus sekolah di rumah karena takut dengan teror yang di lakukan seseorang.
"Maaf sekali, Pak. Tapi sampai sekarang saya belum menemukan pelakunya, dan sepertinya ini ada campur tangan orang dalam."
Seketika Arya langsung melotot mendengar penuturan polisi. Arya terus berpikir keras, siapakah orang dalam yang meneror Lessy.
"Baiklah, saya akan mencari sendiri siapa orang itu. Percuma saya bayar anda, tapi tidak bisa menemukan pelakunya."
Arya pun langsung berdiri dan meninggalkan kantor polisi, Arya terlanjur kesal dengan mereka. Dua bulan sudah berlalu tapi Arya belum menemukan perkembangan, yang ada keluar uang terus untuk membayar mereka.
Setelah keluar dari kantor polisi, Arya langsung masuk ke dalam mobilnya dan di sana sudah ada Dira yang menunggu suaminya daritadi.
Dira menatap Arya, bahkan Dira juga sudah tau endingnya bagaimana. Endingnya adalah Arya belum menemukan pelakunya, hingga membuat wajah tampan suaminya berubah garang.
"Sudahlah, Kak. Mungkin kita harus mencari sendiri, tapi kita harus sabar. Aku yakin ini ulah Alena, karena sikapnya beberapa bulan ini sangat tenang. Tapi, aku belum mendapatkan bukti." Jelas Dira sambil menatap Arya.
Arya memikirkan ucapan Dira. Dia juga mengira ini semua dalangnya adalah Alena, tapi dia gak punya bukti. Terlebih lagi, Alena anak Seto. Arya gak bisa sembarangan nuduh, keponakannya sendiri.
"Entahlah, Dira. Apakah kita jebak saja dia, dan kita tes sendiri. Apakah benar, ini kerjaannya Alena. Jika kita sudah memiliki bukti, baru kita sergap dia bareng-bareng."
Dira hanya mengangguk saja. Karena dia juga sudah curiga dengan Alena, bahkan sempat berpikir ini adalah ulah Alena.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading