
Bila bermimpi kamu
Jaga dari tidurku
Aku sebut namamu
Aku seru cintamu
Engkaulah kekasihku
Hanya engkau nyawaku
Akulah perindumu
Akulah pecintamu
Bawaku bersamamu
Agar hilang resahku
Eratkan dekapanmu
dekatlah padaku
"Ehem..." Dira pun langsung terlonjak kaget, saat Arya berdeham. Bahkan Dira sampai berhenti bernyanyi, karena sangat terkejut.
"Kakak," jawab Dira sambil tersenyum manis.
"Ternyata suara kamu merdu juga ya? Jadi ingin di nyanyiin, tapi aku gak mau lagu tadi karena terlalu sedih dan melow," ucap Arya sambil mengelus rambut pirang Dira.
"Kakak mau gak, aku nyanyiin?" tanya Dira dengan senyuman sangat manis.
"Gak jadi minta di nyanyiin deh, Kakak minta yang lainnya saja. Itu pun kalau kamu mau kabulin sih," ucap Arya sedikit menggoda. Sebenarnya Arya tau jika lagu itu untuk Vano, tapi sebisa mungkin Arya akan membuat Dira melupakan kesedihannya atas kepergian Vano.
"Jika gak aneh-aneh aku bisa Kabul lin, tapi jika di luar nalar maaf-maaf saja. Dira gak bisa memenuhinya," jawab Dira sambil terkekeh.
"Gak jadi, Deh," balas Arya sambil duduk di samping Dira.
"Loh, kenapa gak jadi?" tanya Dira sambil mengerucutkan bibirnya yang sangat sexy itu.
"Takut di tolak, sama kamu," jawab Arya sedikit jahil.
"Apaan sih? Cepat katakan, mumpung aku lagi berbaik hati, sebelum aku berubah fikiran!" Dira mulai di modem jengkel, saat Arya mulai main teka-teki silang begini.
"Yakin mau tau, apa permintaan aku?" Arya mencoba memastikan ucapan Dira. Sebenarnya Arya sangat tergoda dengan bibir sexy Dira, ingin sekali Arya menggigit bibir itu sampai bengkak.
"Yakin, Kak!"
"Baiklah, Kakak hanya minta di mandiin saja. Apa kamu bisa mengabulkannya, Sayang?" Seketika tubuh Dira langsung menegang, saat mendengar permintaan Arya yang sangat tak senonoh.
__ADS_1
Sial, ini di luar kemampuanku. Bagaimana bisa aku memandikan kak Arya, bisa-bisa aku kena terkam! gumam Dira dalam hati. Sekarang Dira merasa dilema, antara menjawab iya atau tidak.
"Kak... Kita belum menikah, dan bisa-bisanya Kakak minta dimandikan! Memang Kakak bayi, sampai minta di mandiin segala? pokoknya Dira gak mau titik," ucap Dira sambil merajuk.
"Sebentar lagi kita menikah, Sayang. Intip dikit gak apa-apa kan, lagian kamu harus mempraktikkan cara-cara memuaskan pasangan. Kan kamu sudah jago, jadi bagi-bagi sedikit tutorial kan lebih bagus," ucap Arya sangat vulgar.
"Kak! Sumpah demi apapun, Kakak sangat mesum! Bisa-bisanya berkata hal yang sangat vulgar begitu, tanpa ada rasa malu. Kalau Kakak ingin belajar, cari saja guru khusus tutorial pemuas ranjang! Jangan meminta begituan, dengan Dira!" jawab Dira sangat ketus. Sedangkan Arya langsung tertawa terbahak-bahak, melihat expresi Dira yang sangat menggemaskan saat terpojok.
"Gak ada yang lucu, jadi gak perlu ketawa!" Marah Dira. Sungguh Arya semakin menjadi, bahkan sampai terjungkal-jungkal saat melihat expresinya Dira. Namun berbeda dengan Dira, dia merasa sangat jengkel dan merasa terpojok.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua. Sini aku duduk di pangkuanku, Kakak hanya bercanda tadi. Jadi gak perlu sampek semarah ini, Sayang." Arya pun menarik Dira agar duduk di pangkuan Arya. Setelah Dira duduk, tanpa banyak bicara Arya langsung mencium bibir Dira yang masih setia cemberut.
CUP...CUP...CUP
"Sudah gak marah kan?" tanya Arya sesudah mengecup lembut bibir Dira.
"Masih marah!" jawab Dira sangat cepat. Namun itu membuat Arya semakin gemas, dan ingin memakan Dira sekarang juga.
"Mau aku cium, lagi?" tawar Arya sambil menaikan sebelah alisnya. Sedangkan Dira merasa sangat kesal, karena di goda berniat balas dendam. Dengan cepat Dira menarik tengkuk Arya, dan langsung melu*mat bibira tebat itu.
Arya yang merasa di tantang pun langsung memegangi kepala Dira, dan di luma*mat habis bibir sexy itu. Mereka berdua saling bertukar saliva, dan saling melilitkan lidah merek. Decapan demi decapan mereka lakukan, hingga Arya sedikit menggigit bibir Dira.
"Aku gak mau dikecup. Tapi aku mau berciuman, begini lebih enak dari pada hanya di cup cup doang," ucap Dira setelah melepaskan ciumannya.
"Kamu menyerang ku, Dira? Tapi aku tak akan terpengaruh, aku akan bertahan walaupun kamu berbuat apapun dan aku takkan terang*sang." Tantang Arya. Sungguh ucapan Arya membuat Dira tertantang, dan ingin melakukan hal lebih bersama Arya. Dengan sangat menggoda, Dira langsung mengajukan tantangan untuk mereka.
"Serius gak akan terangsang?"arya pun mengangguk cepat.
"Akan aku ajak jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, dan kamu bebas beli apapun itu," balas Arya. Dira pun langsung berbinar, dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baiklah tuan Arya, silahkan menikmati tutorial dari janda kembang Dira Larasati dan saya akan membuat Anda kalah dalam tantangan ini," ucap Dira sangat menggoda. Setelah itu tanpa aba-aba, Dira langsung mendorong tubuh Arya hingga terlentang di atas kasur berurusan 180x200.
Dengan sangat semangat Dira mulai men*cumbu Arya dan berusaha membangkitkan hasrat, sang Arya Wiguna. Perlahan tapi pasti, Arya mulai terpancing dan itu membuat Dira sangat senang.
Sial... Bagaimana mungkin dengan cepat aku bergejolak, bisa malu aku kalau sampai tergoda dengan cepat. Tahan Arya, tahan sebentar. gerutu Arya dalam hati.
"Jangan menahannya, Kak. Jika gak kuat bilang saja, jangan sok gengsi." Setelah itu Dira kembali melanjutkan aksinya. Tanpa Arya sadar, Dira mulai terlihat liar. Tangannya mulai nakal, dan berkeliaran kemana-mana.
"Dira,tanganmu jangan menjalar ke sana!" pekik Arya saat tangan dira mulai semakin nakal, dan menelusup kedalam celana dalam Arya.
Glekk...
Gila! Apa yang aku lakukan? Seumur hidup baru pertama kali ini, aku memegang yang namanya pisang ambon. Dira kamu benar-benar memalukan! gumam Dira dalam hati.
Karena terlalu malau, akhirnya Dira langsung melepaskan tangannya dari dalam sana. Setelah itu Dira bergegas akan pergi, namun niatnya langsung di batalkan Arya yang sudah terpenuhi akan hasrat yang terpendam.
"Aku kalah, Dira! Aku sudah gak kuat, aku menginginkan kamu Dira. Please mau ya?" ucap Arya dengan suara yang sangat berat. Sedangkan Dira merasa sangat takut, dia sangat merutuki kebodohannya yang baru saja membangkitkan singa tidur.
"Ka... Kak!" Mulut Dira benar-benar berat saat berbicara dan membuat suaranya tercekat. Ingin rasanya dia kabur, tapi cengkeraman Arya sangat kuat.
__ADS_1
"Aku gak akan meminta izin darimu, Dira!" ucap Arya sedikit kesal. Setelah itu Arya langsung melu*mat bibir Dira sangat brutal, dan menuntut. Bahkan tangan Arya mengunci pergerakan Dira, dan tangan satunya bebas berkeliaran di buah mangga Dira.
"Kak... Aku salah, aku membuat Kakak hilaf. Tapi aku mohon, jangan sekarang," teriak Dira sedikit kencang, karena takut ada yang dengar. Bukan Arya namanya jika dia mendengarkan omongan Dira, Arya sungguh tak perduli dan langsung membuka baju Dira hingga memampangkan kedua buah mangga yang sangat putih, halus, dan menggemaskan.
"Ini sangat indah, Sayang." Setelah itu Arya langsung menyeruput kismis itu, dan menye*dot benda kecil itu sangat kuat. Dira langsung menegang saat merasakan sensasi geli, dan juga enak.
Dira sedikit membusungkan dadanya, agar Arya memperdalam aksinya. Di ken*yot kismis itu, sangat rakus dan kegiatan mereka langsung terhenti saat mendengar ketukan pintu dari luar kamar.
Tok... Tok... Tok
"Dira ini Mama, Sayang," teriak Dinda dari luar. Sungguh mereka berdua langsung gelabakan, dan bingung saat mendengar suara Dinda.
"Sial... Ada saja yang mengganggu kegiatan kita,vlagian ada apa sih Mama tiba-tiba ke kamarmu?" Dira pun hanya menggeleng tak tau, dan dia mulai merapikan bajunya agar tak terlihat lusuh.
"Cepat pakai bajumu, Kak! Kakak bersembunyi di dalam kamar mandi, kalau Mama tau kita dalam dengan keadaan begini, bisa mati di gantung kita!" ucap Dira sambil mendorong tubuh Arya, agar segera bersembunyi.
"Sepertinya pindah rumah akan jadi jalan terbaik, agar tak ada yang mengganggu kegiatan kita nantinya. Besok aku akan mencari rumah, untuk kita!" ucap Arya sambil berlari ke arah kamar mandi, dan Dira langsung berlari ke arah pintu.
Ceklek...
Dira pun langsung tersenyum kikuk, saat membuka pintu. Dira benar-benar gugup, dan takut salah bicara dan membuat mereka mati di gantung Dinda.
"Lama sekali kamu membuka pintu, Sayang," tanya Dinda dengan mata yang meneliti isi kamar Dira.
"Tadi Dira dari kamar mandi, Ma. Jadi gak terdengar suara Mama. Oh ya, ada perlu apa malam-malam mencari Dira Ma?" tanya Dira sedikit gelagapan.
"Mama cari, Arya."
Deg...
Jantung Dira langsung terpacu sangat kencang, karena Dinda berkata sedang mencari Arya. Ingin rasanya dia tenggelam di laut saat ini, merasa sangat malu dan bingung.
"Kakak gak ada di sini, Ma. Lagian Mama kok aneh, tanya kak Arya kok di sini," jawab Dira sangat gugup.
"Tadi itu, Mama mendengar suara aneh. Mama kek mendengar desahan lucknut, dari dalam sini. Sebab itu Mama mau liat, apakah Arya ada di sini. Tapi karena tak ada, berarti Mama salah dengar." Mak dek, Dira langsung terkejut saat mendengar ucapan Dinda yang berkata mendengar desahan mereka. Dita benar-benar lupa, jika kamarnya tak kendap suara.
" Ya sudah lupakan saja, sekalian Mama mau bilang kalau mau tidur dengan kamu. Papa ada tugas, jadi Mama takut tidur sendiri. Itung-itung sebagai, temu kangen sama kamu. Kan kita gak pernah bercanda tawa, selama dua bulan ini Dira," ucap Dinda panjang lebar.
"Baiklah, kita akan tidur bersama. Ayo kita kekamar Mama, dan setelah itu kita tidur," ucap Dira sambil menggandeng Dinda, namun dengan cepat Dinda menahan tangan Dira.
"Ridur di sini saja."
"Apa?"
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading