
Pagi harinya Arya bangun lebih cepat dan segera pergi kerumah kontrakan Dira. Gak bisa tidur itu yang dirasakan Arya, gelisah karena memikirkan nasip dia dan Dira kedepannya.
Arya pun langsung masuk ke dalam rumah Dira, karena Arya melihat warung Dira masih tutup. Saat dirinya baru masuk, Arya melihat Dira duduk di atas sofa sambil memakan kacang goreng. Tak menunggu lama, Arya langsung mendekati Dira dan duduk di sampingnya.
"Sayang, apa kamu masih marah sama Kakak? Jika memang karena kejadian semalam, membuat kamu kesal. Aku minta maaf ya?" ucap Arya dengan memasang wajah yang sangat imut.
Idih, sejak kapan kak Arya memanggilku Sayang! Aku kok jadi geli ya? gumam Dira dalam hati.
"Ya sudah, kalau masih marah. Aku kesini cuma mau bilang nanti siang aku mau balik ke Jakarta, dan akan kembali 11 minggu lagi." Luluh sudah pertahanan Dira dalam modem ngambek. Setelah mendengar perkataan Arya, Dira langsung menatap tajam Arya.
"Kenapa mau kembali, ke Jakarta?" tanya Dira dengan penasaran. Entah kenapa hati Dira terasa sedih, saat mendengar keputusan sepihak Arya. Sedangkan Arya langsung tersenyum lembut, dan mengelus lembut rambut pirang milik Dira.
"Perusahaan membutuhkan, Kakak. Lagian apa gunanya Kakak disini, kalau ujung-ujungnya di cuekin sama kamu. Lebih baik Kakak kembali ke Jakarta saja terus bertemu Fani, dan mungkin kita akan bermesra-mesraan sebelum akhirnya kita berpisah," goda Arya agar Dira kesal. Tak mendengar omelan Dira dalam sehari, membuat Arya merasa hampa.
"Oke! Pergi sana ke kak Fani, memang apa sih pentingnya aku dihidupmu, Kak? Orang yang kamu cintai juga bukan aku, hanya kak Fani seorang!" ucap Dira dengan kesal. Namun tak lama setelah itu, Aira datang dengan membawa belanjaan dari tukang sayur.
"Aira hari ini Mbak gak jualan dulu, ini ada uang buat kamu beli makanan nanti. Mbak kayaknya gak enak badan, jadi warung tutup dulu gak apa-apakan? Dan satu lagi, mungkin besok Mbak juga masih libur jadi, uang ini untuk kamu selama dua hari," ucap Dira sambil mencoba tersenyum.
"Mbak, ini sangat banyak," tolak Aira sambil mengembalikan uang 200ribu itu. Sedangkan Arya tersenyum, saat melihat kejujuran Aira.
"Anggap saja ini bonus dari Mbak, Aira. Sudah kamu pulang sana, nikmati waktu liburmu. Ingat jangan kelayapan, Mbak akan marah jika kamu gak dengerin kata-kata Mbak." Aira pun langsung mengangguk. Setelah itu Aira langsung berpamitan dan pergi dari rumah Dira.
Setelah Aira pulang, Dira memutuskan masuk kedalam kamar dan memenangkan diri. Namun lagi-lagi Arya membuntuti Dira dari belakang seperti seekor itik yang mengikuti sang induk.
Apakah orang ini gak tau jika aku marah? Bisa-bisanya dia bersikap seperti anak ayam, setelah berkata seperti itu. Ingin sekali aku lenyapkan orang macam ini! gerutu Dira dalam hati. Karena merasa jengkel, akhirnya Dira berbalik dan menatap Arya dengan tajam.
"Mau, apa?" tanya Dira dengan ketus. Bahkan melebihi sikap Fani yang selalu marah-marah gak jelas.
Dira kalau marah kok lucu ya? Beda dengan Fani, jika Fani yang marah bukannya lucu malah merusak mood saja. gumam Arya dalam hatinya.
__ADS_1
"Mau apa lagi, jika bukan menghabiskan malam bersama denganmu. Aku kan sudah bilang, jika nanti aku pulang. Jadi biar gak rindu, lebih baik mesra-meskan dulu di dalam kamar," jawab Arya tanpa dosa. Sedangkan Dira langsung melotot tak percaya, jika Arya yang mengatakan itu semua.
"Kamu waras kan, Kak?" tanya Dira yang tak percaya. Bagaimana bisa percaya, jika hanya dalam semalam Arya berubah jadi gila seperti ini.
"Alhamdulillah, masih waras. Dan akan selalu waras, di dekat kamu," goda Arya lagi.
Positif kesambet ini orang. Apa jangan-jangan, kak Arya berniat membuat aku baper dan setelah aku baper, dangan seenaknya dia meninggalkan aku. Huaaa aku gak mau seperti itu. Dira pun langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, dan berusaha menyingkirkan pikiran kotor itu.
"Kak, please jangan membuat Dira terbang ke awan, jika akhirnya dalam sekejam Kakak langsung menjatuhkan aku ke jurang yang paling dalam. Jika mau menikah denganku karena amanah, bersikaplah biasa. Jangan bersikap seperti Kakak memiliki perasaan dengan Dira!" Seketika Arya langsung diam dan senyuman jahil yang dia berikan langsung lenyap.
"Apa aku salah, mencoba dekat dengan orang yang akan menjadi istriku? Aku tau kalau ini sangat tergesa-gesa tapi, yakinlah suatu saat nanti aku bisa mencintaimu Dira," ucap Arya yang berusaha meyakinkan Dira. Dira merasa muak dengan semuanya dan memilih pergi, namun belum sempat dia pergi, Arya langsung menariknya dalam pelukan hangat Arya.
"Percaya dengan Kakak, Dira. Kakak serius sama kamu, kamu bisa pegang janjiku," ucap Arya sekali lagi. Arya gak akan pernah menyerah, untuk menjelaskan semuanya kepada Dira jika dirinya benar-benar serius.
"Aku takut Kak, bagaimana jika belum ada cinta disaat kita menikah nanti?" tanya Dira sambil menangis. Bahkan tangisan itu membuat Arya terkejut.
Kenapa menangis? Apa aku salah ucap lagi, atau kata-kataku gak tepat. Sungguh aku bingung harus jawab apa lagi, ditambah Dira menangis membuat aku semakin bingung. gumam Arya dalam hati. Namun sebisa mungkin, Arya menjawab dengan tepat.
"Jika gagal, apa kita tetap meneruskan semuanya?" tanya Dira sekali lagi dan tak lupa dengan tangisan yang belum berhenti.
"Aku berusaha lagi,"
"jika tetap tak berhasil?"
"Aku akan berusaha lagi, Dira," ucap Arya dengan lelah. Arya lelah menjawab semua pertanyaan Dira, sedangkan jawabannya semakin membuat Dira menangis.
"Saat kamu masih berusaha, dan kamu masih berusaha mencintai aku. Maka aku akan meninggalkan kamu, kakak Ipar!" ucap Dira sekali lagi. Dan ucapan Dira itu berhasil membuat Arya geram.
"Dira! Kenapa sih kamu gak pernah percaya dengan Kakak? Aku yakin, lambat laun kita akan saling mencintai. Yakinlah, aku akan membahagiakan kamu." Arya pun semakin mengeratkan pelukannya, sedangkan Dira semakin meringis kesakitan.
__ADS_1
"Lagian tadi itu, aku hanya berniat menggoda saja. Tapi, kamu malah emosi terlebih dahulu. Aku pulang ke Jakarta hanya dua hari saja, aku ingin mengakhiri semua hubunganku dengan Fani besok. Aku memang ingin bertemu Fani tapi, bukan untuk bermesra-mesraan tapi, karena aku ingin memutuskan hubunganku dengan dia." Arya pun menjelaskan niatnya untuk kembali ke jakarta.
"Apa kamu serius, Kak? Bukannya kamu bilang butuh waktu, kenapa sekarang tiba-tiba ingin mengakhiri secepat ini?" tanya Dira.
"Karena aku ingin serius menjalin hubungan denganmu, Dira. Aku gak mau ada masalah nantinya, aku juga gak mau saat kita menikah statusku dan Fani masih sepasang kekasih. Jadi, sekarang kamu senyum ya?" jawab Arya sambil mengelus rambut Dira.
"Bisa lepasin pelukanmu sebentar, Kak? Aku sudah tak bisa menahan lagi, ini sangat sakit. Terlebih kamu memakai sepatu yang sangat berat, rasanya mau patah kakiku," pinta Dira sambil berusaha melepaskan pelukan Arya.
"Apa hubungannya, sepatu dengan pelukan yang aku berikan?" tanya Arya dengan heran. Sedangkan Dira semakin kesal, dan meringis karena ulah Arya.
"Kak, apa kamu gak merasakan sesuatu di bawah. Setidaknya kamu merasakan menginjak sesuatu." Arya pun langsung melihat kebawah, dan benar saja ucapan Dira jika Arya menginjak sesuatu.
Astga! Jadi Dira menangis karena kakinya aku injak. Pantas saja aku merasakan ada yang ganjel di bawah, ternyata aku menginjak kaki Dira. gerutu Arya dalam hati. Dengan sangat cepat, Arya melepaskan pelukan nya dan langsung melihat kaki Dira.
"Astaghfirullah, maafkan aku Dira. Sini Kakak lihat, mana yang sakit?" Arya mendorong tubuh Dira agar duduk dikursi, dan setelah itu melihat kaki yang sudah memerah karena ulahnya.
"Merah kan, Kak! Kakak sih gak lihat-lihat, padahal Dira sudah mendorong tubuh Kakak tapi, Kakak makin maju dan makin mengijink kaki Dira," rengek Dira dengan mata berkaca-kaca.
"Maaf, sumpah Kakak gak merasa tadi. Aku kira hanya gundukan tanah, kan lantai rumah kamu dari tanah dan itupun gak halus," sangkal Arya.
"Huaaa, ini namanya KDRT sebelum pernikahan. Pokoknya Kakak tega, sama Dira," Arya pun semakin bingung saat Dira kembali menangis, karena saking bingungnya Arya hanya bisa memeluk Dira kembali.
"Awas, kakiku kamu injak lagi," ucap Dira dengan sesegukan. Sedangkan Arya langsung tertawa mendengar celotehan Dira yang mirip anak kecil.
"Aku gak akan menginjak kakimu lagi, Sayang." Akhirnya mereka saling berpelukan, dan tertawa bersama. Karena mengingat kelakuan mereka berdua yang konyol, dan tak masuk akal.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading