
"Kak Edo, hari ini aku pulang ke Jakarta. Apakah Kak Edo masih mau menghubungi Letta, dan mengirim surat seperti biasanya?" tanya Arleta yang akan bersiap-siap pulang.
"Tentu, aku akan menghubungimu nanti. Tapi sepertinya kita gak membutuhkan surat lagi, karena kita sudah memiliki ponsel," jawab Edo sambil mengacak-acak rambut Arleta.
Seminggu sudah Edo bersama Arleta, dan mereka selalu menghabiskan waktu bersama setelah Edo pulang dari sekolah. Namun, sekarang mereka harus terpisah karena Arleta harus kembali ke Jakarta.
Dira sudah menjemput mereka, dan sekarang Dira sedang berpamitan dengan keluarga Edo.
"Maaf ya, Bu. Seminggu ini merepotkan kalian, padahal Arleta bisa tinggal di rumah Kakak, tapi dia malah menginap di sini," ucap Dira sangat malu.
Dira baru tau jika anaknya itu gak ada di rumah Sintal. Malah yang ada di sana hanya Ryant, karena Arleta memiliki tidur di rumah Edo.
Ingin sekali Dira mencubit anaknya itu. Tapi, setelah mendengar ucapan orang tua Edo, jika Arleta tidur dengan mereka, ada rasa lega di hatinya. Sekali yang ingin Dira omelin adalah Sintal, karena Sintal sama sekali gak jujur dengan dirinya.
"Iya, Bu. Namanya juga anak kecil, maklum lah. Lagian saya suka dengan Arleta, dia sangat lucu. Dari dulu saya ingin anak perempuan, tapi yang keluar malah Edo." Jelasnya sangat sopan.
Sebenarnya Dira sedikit minder, masalahnya orang tua Edo jauh lebih muda darinya. Ibunya Edo menikah muda saat dia berusia 17 tahun, sedangkan Edo sekarang umur 11 tahun. Bayangkan perbedaan umur Dira dan ibunya Edo sangat jauh.
Ibunya Edo masih berusia 28 tahun, sedang Dira sudah kepala empat. "Sungguh melakukan, kamu Nak!" geram Dira dalam hatinya.
"Wah, coba lagi Bu. Barangkali nanti beruntung," balas Dira.
"Iya beruntung seperti, Bu Dira. Walaupun sudah berumur, tapi masih bisa mendapatkan putri secantik dia. Semoga saja saya bisa hamil lagi, aminn." Ucapnya sambil mengelus perutnya sendiri.
"Amin, kalau gitu kami pergi dulu ya. Makasih sebelumnya, karena telah menjaga putri kami."
__ADS_1
"Iya, sama-sama."
Mereka pun masuk kedalam mobil. Setelah di dalam mobil, Arleta membuka jendela mobil, dan melambaikan tangannya pada Edo. Arleta terus melambaikan tangan, sampai mobilnya hilang dari pandangan Edo.
***
Sedangkan di sisi lain, Alena sedang berada di sekolah. Mulai hari ini Alena masuk lagi, dan dia ingin menemui Vano.
Alena ingin meminta maaf, pada Vano. Alena juga berjanji akan berubah, karena dia merasa sangat bersalah dengan prilakunya kemarin.
"Lina, kamu tau Vano kemana?" tanya Alena saat melihat Lina teman sekelas Vano.
"Tadi dia ke kantin sama, Lessy. Katanya sih mau makan siang, coba kamu cari di sana," balas Lina.
Hati Alena terasa tercubit, saat mendengar Vano bersama Lessy. Ada rasa sakit di dalam hatinya, tapi dia bingung apakah dia masih pantas marah.
"Ya sudah aku pergi dulu, aku di tunggu guru soalnya." Pamit Lina.
Alena hanya mengangguk saja, setelah itu Alena langsung bergegas ke kantin untuk melihat Vano.
"Semoga saja aku bisa kontrol emosi, dan gak berbuat aneh-aneh lagi."
Alena terus berjalan hingga kini dia sampai di depan kantin. Alena melirik sana sini, untuk melihat keberadaan Vano. Tepat di sisi pojok, Alena melihat Vano yang memaksa Lessy meminum obat.
Hati Alena bergemuruh, dia sangat cemburu. Alena mengepalkan tangannya, agar merilekskan hatinya sendiri. Alena gak mau terbawa emosi lagi, apalagi sampai mencelakai seseorang.
__ADS_1
Alena menarik napasnya, dan mendekati mereka. Walaupun sakit, tapi Alena harus tahan, tahan dan tahan.
"Vano, aku mau bicara sama kamu. Apakah boleh, sebentar saja."
Vano pun menatap Alena. Ada rasa rindu, tapi Vano sebisa mungkin menahan itu. Apalagi di depannya ada Lessy.
"Boleh, silakan. Aku akan pergi dulu, kalian bicara saja. Aku akan pergi." Lessy lah yang menjawab pertanyaan Alena.
Lessy tau, mereka butuh berbicara satu sama lain. Jadi Lessy akan memberikan mereka waktu, karena Lessy gak mau membuat hubungan mereka retak.
"Tapi, Lessy."
"Sudahlah, selesaikan masalah kalian. Aku akan masuk kelas," sela Lessy.
Setelah berkata, Lessy langsung meninggalkan mereka berdua. Dan membiarkan mereka bicara..
Jika di tanya, apakah Lessy sudah memaafkan Alena. Jawabannya masih belum, tapi Lessy gak mau memiliki penyakit hati yang bisa merusak kesucian hatinya.
.
.
.
Happy Reading
__ADS_1