Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 18


__ADS_3

Setelah kejadian semalam, Dira sama sekali tak mau bicara dengan Arya. Sedangkan Arya berusaha membuat Dira bersuara, karena bagaimanapun juga tak enak jika dalam satu atap tanpa bicara.


"Dir, nanti jadi ke pak ustadz?" tanya Arya dengan nada ragu-ragu.


Meneguk ludah yang sangat kasar itu yang dilakukan Arya, saat melihat Dira menatap tajam dirinya. Manik mata coklat yang begitu indah, namun tajam di saat marah.


"Dira Larasati!" Arya berusaha memanggil Dira sekali lagi, karena merasa di acuhkan.


"Apa!" jawab Dira dengan ketus.


"Kok gitu jawabnya? Gak boleh loh sama calon suami kayak gitu, mau di lucknut Allah?" ucap Arya yang berusaha membuatmu Dira takut. Namun usaha dia gagal, saat melihat Dira makin marah dan berdiri meninggalkan Arya masuk kedalam kamarnya.


"Mau kemana?" tanya Arya dengan cepat. Bahkan Arya juga mengikuti langkah Dira, hingga Dira bergegas menutup pintu kamarnya.


"Dira, tunggu dulu!" teriak Arya sambil menahan pintu agar tak tertutup.


"Lepas gak Kak! Aku mau istirahat, jadi sekarang Kakak balik ke kontrakan saja!" balas Dira dengan berusaha menahan pintu agar tak dibuka Arya.


"Dira, jangan membuat aku semakin geram!" Dengan sangat kuat akhirnya Arya langsung mendorong pintu yang terbuat dari kayu dan triplek itu. Adu dorong akhirnya mereka lakukan, tanpa memperdulikan pintu itu bisa lepas kapan saja karena terbuat dari bahan yang muda rusak.


Brakk...


Bunyi dobrak kan akhirnya terdengar sangat nyaring di telinga Arya, pintu yang menghalangi dirinya kini rusak dan yang lebih parah pintu itu ambruk tepat di tubuh mungil Dira. Terdiam itu yang dilakukan Arya, karena dirinya begitu terkejut saat melihat apa yang baru saja dia lakukan.


"Kakak!" teriak Dira yang sangat kesal. Tubuhnya seakan terasa remuk, saat pintu kamarnya berhasil membuat dia limbung dan terjatuh.


"Dira kamu gak apa-apa, kan? Kamu di mana, dan apa kamu kesakitan?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Arya. Takut? Iya Arya takut, hingga dia berusaha menyingkirkan pintu yang tengah ambruk itu.


Perlahan-lahan Arya mengangkat pintu yang terlepas, dan saat dirinya mulai memindahkan semuanya. Barulah Arya bisa melihat Dira dengan takut, karena pemandangan pertama yang dia dapat adalah Dira melotot pada Arya.


"Sayang..."


"Gak Sayang-sayangan! Cepat keluar dari rumah ini, atau aku panggil warga!" potong Dira sambil berusaha duduk. Arya yang tak tega melihat Dira, akhirnya ikut membantu Dira untuk duduk.

__ADS_1


"Gak perlu bantu! Aku bisa sendiri, jadi sekarang pergilah!" ucap Dira dengan cuek. Karena merasa Dira semakin hari semakin cerewet, Arya yang gemas ingin sekali melahap bibir sexy itu. Tapi lagi-lagi Arya sadar, jika ini belum waktunya untuk memikirkan itu.


"Dira, aku minta maaf. Bukan maksud bikin kamu terluka, tapi itu semua kamu yang mulai. Jika kamu izinkan aku masuk, pintu kamarmu gak akan begini." Seketika Dira langsung berfikir dan sedikit melihat pintu yang telah rusak itu.


Aduh... Aku pakai lupa segala tentang pintu ini. Gimana ya? Minta bantuan gengsi, tapi jika gak minta tolong terus nanti malam kedinginan kalau gak ada pintu. Aduh, bikin pusing saja!


"Ehemm... Karena Kakak sudah merusak rumah orang jadi, ini tugas kakak untuk mengembalikan pintu ini seperti semula. Jika kak Arya menolak, jangan harap mau menikah dengan Dira!" Setelah itu Dira langsung pergi meninggalkan Arya yang terpaku di depan kamar Dira.


What? Apa Dira bilang tadi? Aku disuruh betulin pintu ini, terus aku harus pakai apa? Aku ini seorang pembisnis, mana paham sama cara membetulkan pintu.


Dengan cepat Arya melihat ponselnya dan membuka Google dari aplikasi. Setelah itu Arya menelusuri cara membetulkan pintu, beserta alat-alat apa saja yang di perlukan.


Palu, paku, engsel, dan dll. OMG ini apaan, aku gak tau semua alat ini. Apa aku coba pergi ke Toko bangunan, dan mencari alat seperti di dalam artikel ini?


Setalah memikirkan dengan matang. Akhirnya Arya memutuskan untuk ke Toko bangunan demi mendapatkan semua alat itu. Demi kamu aku rela melakukan semuanya, Dira.


****


Namun saat Dira masuk kedalam, ternyata Arya sudah tak ada ditempat. Dia menghilang dengan meninggalkan pintu yang masih roboh di dalam rumah. Kesal, itu yang dirasakan Dira. Karena Dira berpikir jika Arya kabur, dan tak mau bertanggung jawab.


"Dasar manusia gak ada akhlak! Sudah merusak rumah orang, sekarang pergi tanpa pamit. Awas saja nanti, gak akan aku maafkan." Omel Dira dengan kesal.


Sedangkan disisi lain, Arya sedang bingung mencari toko bangunan. Arya berkali-kali membuka Google agar dapat menemukan Toko bangunan yang buka, tetap hasilnya nihil.


"Aggrrhh... Ini kalau gak niat buka Toko, ngapain jualan sih! Ini sudah pukul delapan pagi, tapi gak ada satupun Toko bangunan yang buka. Sebenarnya jam berapa sih, bukannya!" gerutu Arya dengan kesal. Sudah empat Toko yang dia kunjungin, namun tak ada yang buka dan membuat dia semakin mengutuk pemilik Toko bangunan itu.


****


Jakarta


Pagi hari ini Fani mendatangi kantor Arya, untuk mencari informasi keberadaan Arya. Sudah dua hari penuh, tapi Arya sama sekali tak menghubungi Fani dan ini membuat seorang Fani gelisah takut ditinggalkan.


"Mbak, saya mau bertemu dengan pak Arya. Apa beliau ada di tempat?" tanya Fani sopan. Fani gak mau bersikap bar-bar, karena takut di usir seperti kapan hari.

__ADS_1


"Maaf mbak Fani. Pak Arya sedang tugas keluar kota, dan perusahaan sementara di pegang oleh pak Seto," ucap resepsionis Arya.


"Kalau boleh tau, pak Arya tugas dimana ya Mbak? Masalahnya saya lagi ada perlu dengan beliau, dan ini sangat penting." Fani berusaha membujuk resepsionis itu. Namun bukannya luluh, resepsionis yang terkenal dengan nama Susi itu langsung menyuruh Fani bertemu dengan Seto. Fani tak bisa menolak, akhirnya dia mau menemui Seto.


Ini demi mendapatkan informasi. Jika bukan karena aku butuh, gak mau aku bertemu dengan Seto. Sebenarnya siapa sih Seto itu? Kenapa Arya selalu mempercayai dia, untuk memegang perusahaan?


Tak lama setelah itu, Fani sampai diruangan Seto. Dengan sopan Fani mengetuk pintu, dan Seto mempersilakan Fani masuk.


"Maaf, ada perlu apa anda mencari saya?" tanya Seto dengan angkuh. Bagaimanapun juga Seto tau jika Fani berniat tak baik, dengan keluarga Wiguna.


"Aku mau cari Arya! Dimana dia sekarang, aku ingin bertemu dengan dia," jawab Fani tak kalah ketus.


"Tuan Arya gak ada di tempat! Jadi percuma saja kamu cari disini, karena percuma!" balas Seto sekali lagi.


"Kamu jangan sok-sokan, deh! Kamu hanya bawah, dan gak sepantasnya kamu begitu dengan calon istri bos kamu," ucap Fani yang mulai geram. Fani sangat tak suka dengan prilaku Seto, yang seperti bos.


"Masih calon kan? Belum jadi Nyonya Wiguna, jadi terserah saya mau bicara seperti apa!" balas Seto dengan tenang. Bahkan Seto menyunggingkan senyuman licik.


"Kamu..."


"Apa? Sekarang silakan keluar, saya mau bekerja jadi, tolong tinggalkan saya. Tau kan letak pintu keluar?" Fani semakin tak berkutik dan lebih memilih keluar dari ruangan Seto. Kesal sangat kesal, saya Arya bisa mempekerjakan bawahan yang sotoy.


"Ck... Jika dibandingkan, aku dan Arya lebih kaya aku. Hanya saja aku gak mau memamerkan semuanya," gerutu Seto dengan tersenyum geli.


.


.


.


Happy Reading


Maaf baru update, kendala HP yang gak bisa dia ajak kompromi.

__ADS_1


__ADS_2