Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 15


__ADS_3

Hari pun sudah menunjukkan pukul 07:00.Tak terasa ternyata aku sudah membuang waktu selama satu jam hanya untuk membersihkan dan menata semua baju-baju yang aku bawah. Ternyata waktu satu jam membuat perutku keroncongan, dan minta di kasih jatah makan oleh sang tuan.


Biasanya di jakarta Dira lah yang selalu memasak untuk kami semua, tapi Dira selalu membuat menu spesial untuk aku seorang. Menu spesial Ayam rica-rica, dan itu adalah makanan kesukaan ku.


"Ah... Aku jadi ingin makan ayam rica-rica buatan Dira, apa dia jual makanan itu ya saat ini?" gumam ku sambil melirik ke jendela, untuk melihat apakah warung Dira buka.


Dan benar saja, warung Dira sudah sangat penuh orang yang mengantri makanan. Apakah setiap hari seperti ini, apakah Dira jualan dengan baju seperti tadi?


"Astaga! Jangan bilang jika Dira jualan dengan memakai baju tidur satin tadi? Gak aku gak rela, aku harus kesana demi melihat langsung apakah Dira pakai baju layak atau enggak!"


Aku pun langsung mengambil jaket dan topi, entah kenapa aku membayangkan tubuh Dira yang memakai baju tadi membuat ku geram. Aku bersumpah akan membakar baju itu nanti, jika dugaan ku benar. Aku gak mau tubuh Dira jadi tontonan warga desa, hanya aku saja yang boleh melihat itu!


Aku pun langsung berjalan kelur tanpa memperdulikan antrian, aku langsung masuk dan duduk paling depan. Hatiku sangat lega saat melihat Dira yang sudah berganti pakaian, bahkan itu terlihat sangatlah sopan.


"Mas! Lek arep mangan antri, ojok sak enake udelmu nerobos sak karepmu dewe!"


"Mas! Kalau mau makan antri, jangan seenaknya pusarmu, pakai nerobos sesuka hatimu!" ucap seseorang padaku. Tapi tunggu dulu, tadi dia bicara pakai bahasa apa? Aku benar-benar gak tau dia bicara apa?


"Maaf, bisa pakai bahasa Indonesia?" pintaku sopan.


"Wong endi mas sampean iki, kok gak ero boso Jowo! Wong kok kakean gaya ora iso gawe boso jowo, lek pean ngerti boso Indonesia iku mok gawe wong sogeh."


"Orang mana anda ini Mas, kok gak tau bahasa Jawa! Orang kok kebanyakan gaya gak bisa pakai bahasa Jawa, asal mas tau bahasa Jawa hanya untuk orang kaya." Astaga aku bisa gila kalau gini, ini bahasa Jawa. Sedangkan aku gak bisa Jawa, gimana ini?


Aku semakin gugup, hingga keringat dingin mulai bercucuran. Apakah aku akan di bunuh oleh orang setempat sini, atau malah sebaliknya? Namun tak lama setelah itu, aku melihat Dira menghampiriku dengan tatapan penasaran.


"Mbak Neng, wong ini gak ero boso Jowo Mbak. Dadi di maklumin ae, ketokane wong iki seng jek tas pindah. Omah e nok sebelah iku"


"Mbak Neng, orang ini gak tau bahasa Jawa Mbak. Jadi di maklumin saja, kelihatannya orang ini yang baru saja pindah. Rumahnya di sebelah itu."


Aku melihat Dira berusaha berbicara dengan orang tadi, aku sedikit terkejut karena Dira sangat lancar berbicara pakai Bahasa Jawa. Darimana dia belajar?

__ADS_1


"Mas,"


Aku sangat terkejut saat Dira menepuk tanganku, ternyata dia sudah ada di depan ku. Entah sejak kapan dia berjalan mendekatiku, tapi yang jelas, dia ada di hadapanku.


"Iya," jawabku dengan nada yang sangat aku keraskan, agar Dira tak curiga.


"Lain kali kalau mau beli makan jangan asal serobot ya? Kasihan yang lain, karena mereka juga antri daritadi," ucap Dira lembut. Saking lembutnya membuat aku terpana akan itu.


"Maafkan saya, saya hanya ingin duduk tepat di depan. Masalah antri, saya akan antri di akhir," balas ku dengan ramah. Sebenarnya aku memilih tempat paling depan, agar aku bisa melihat sesibuk apa Dira saat jualan.


"Baiklah kalau gitu. Mas harus diam, dan tunggu giliran." Aku hanya menganggukkan kepala, tanda setuju dengan ucapan Dira.


Setelah itu Dira kembali kedalam dan melayani semua orang, sangat sibuk yang aku lihat. Jika nanti kamu jadi istriku, gak akan aku biarkan kamu kerja Dira. Cukup dengan memuaskan aku saja, tanpa melakukan yang lain-lain.


Tak terasa ternyata semua orang sudah habis, hanya tinggal aku sendiri yang belum juga pergi karena memang belum mendapatkan jatah makan. Sebenarnya bukan jatah makan, melainkan antri makan.


"Mas mau makan apa?" tanya Dira padaku. Aku langsung menoleh dan melihat menu di sekeliling, tenyata ada ayam rica-rica kesukaan ku.


"Ayam rica-rica saja, Mbak."


Aku sungguh terpanah dengan senyuman itu, senyuman tulus yang diberikan Dira secara cuma-cuma. Dan entah kenapa aku sangat kesal, saat membayangkan Dira mengumbar senyuman dia kesetiap orang.


"Mbak saya lupa, nasinya satu centong saja, ayamnya dua bumbu yang banyak dan jangan lupa susu hangat," pintaku. Aku ingin sekali melihat expresi Dira, apakah dia hafal kesukaan ku.


Dan itu sangat berhasil saat aku melihat Dira berhenti tersenyum, bahakan langsung termenung hingga senyuman manis tadi hilang seketika.


"Mbak kenapa? Kok kelihatannya sedih, apa ada masalah?" tanya ku pura-pura, padahal aku sangat ingin tau isi hati Dira.


"Ucapan Mas mengingatkan saya sama seseorang, dia juga sangat suka ayam rica-rica buatan saya. Bahkan porsi kalian juga sama, nasi satu centong ayam dia, bumbu yang banyak dan susu hangat." celetuk Dira. Sungguh aku sangat bahagia saat mendengar ucapan Dira, ternyata dia sangat memperhatikan aku, sungguh terharu hati ini.


"Oh iya kah? Apakah dia pacar, atau suami, atau apa?" tanyaku sambil memancing Dira.

__ADS_1


"Bukan, dia adalah Kakak ipar saya. Saya sangat menyayangi dia, dan menganggap dia sebagai kakak kandung sendiri. Tapi, sayangnya saya sudah tak bisa melihat dia lagi. Sungguh saya sangat merindukan keluarga saya, dan Kakak ipar saya itu."


Sendu itu yang aku lihat dari wajah Dira, aku semakin yakin jika Dira terpaksa meninggalkan keluar Wiguna. Karena gak ada angin gak ada hujan, tiba-tiba Dira menghilang hanya karena permohonan Fani.


"Kenapa kamu gak pulang saja? Jika kamu rindu seharusnya pulang, ngapain kamu malah menyiksa diri." pancingku sekali lagi. Namun saat aku bertanya, Dira langsung mendekat dan memberikan sepiring nasi beserta susu hangat yang aku pesan.


"Saya gak bisa pulang, karena saya gak mau mereka kenapa-napa jika saya egois." Aku langsung mengernyitkan dahiku saat mendengar perkataan Dira, ada hal aneh di sini.


"Maksudnya?"


"Duh, kok saya jadi curhat sih. Padahal anda mau makan, maaf ya sebelumnya." Dira terus meminta maaf padaku, namun gak ku hiraukan. Karena yang ingin aku tau, kenapa Dira pergi tanpa kabar.


"Gak apa-apa, cerita saja aku akan mendengarkan dan tak akan ember." Dira langsung tersenyum saat aku berkata seperti itu, senangnya bukan main melihat Dira tersenyum lebar karena godaan ku.


"Baiklah saya akan cerita, mungkin dengan cerita beban pikiran saya akan hilang. Jadi suami saya meninggal baru beberapa bulan lalu, tapi sebelum suami saya meninggal dia meminta saya menikah dengan kakak ipar saya itu. Kami sepakat menolak karena memang itu gak mungkin terjadi, karena kak Arya memiliki kekasih." Dira pun menjeda ucapannya yang membuat aku geram, dan ingin terus mendengar kelu kesahnya.


"Terus?"


"Tapi kekasih kak Arya salah paham sama saya, dia kira saya akan merebut kekasihnya. Dia mengancam saya jika tidak nurut dengan ucapannya, dia akan berusaha mencelakai Ibu dan Ayah mertua saya jika tidak mau menurut sama dia. Bahkan dia mengancam akan membunuh ibu mertua saya, jika saya tidak pergi..."


Braaakk


Aku sudah tak tahan lagi, lebih baik aku stop sebelum aku semakin murka. Aku tak perduli dengan raut wajah Dira yang bingung, karena aku tiba-tiba menggebrak meja. Siapa sih yang gak marah, jika kekasihnya sendiri punya niatan sepicik itu. Ingin rasanya aku membuang Fani ke planet Pluto agar dia bisa berpikir jernih di sana, dan bisa mencuci otak kotornya itu.


"Mas kenaoa?" tanya Dira takut-takut. Akupun langsung menghela nafas panjang, dan langsung melepaskan jaket, berserta topiku. Terkejut itu yang di rasakan Dira, karena sedari dia selalu ngoceh dan tanpa di Rem sedikitpun.


"Kak, Arya!"


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2