Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2

Naik Ranjang Arya & Dira Season 1-2
Season 1 - 55 Pertemuan pertama dengan Angga


__ADS_3

Karena merasa bingung dan sakit hati, Dira akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Entah dia mau apa, tapi yang pasti dia ingin bertemu dengan Sintal.


Dengan langkah yang sangat gontai, Dira menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga Dira sampai di suatu tempat dan bertabrakan dengan seseorang.


Bruukk....


"Aduh!" pekik Dira saat dirinya terpental, dan tersungkur di lantai.


"Kamu gak apa-apa, Nak?" ucap seseorang. Sedangkan Dira langsung menoleh ke arah orang tersebut, dan memandangnya sangat lekat.


"Sedikit, Dok." Dira sengaja memanggilnya dokter karena orang itu memakai jas putih, dengan stetoskop di lehernya.


Sedangkan Angga, dia selalu tersenyum ramah. Bahkan Angga merasa ada getaran sesuatu di dalam hati Angga, saat memandang Dira.


"Biar saya, bantu kamu berdiri," ucap Angga sangat lembut. Setelah itu, Angga membantu Dira dan menuntunnya ke arah tempat duduk.


"Makasih, Dok," ucap Dira sopan.


"Iya sama-sama. Oh ya, kamu mau kemana kok buru-buru?" tanya Angga. Sedangkan Dira langsung tersenyum ramah, dan menjawab pertanyaan Angga.


"Saya mau bertemu, kak Sintal. Eh maksud saya, dokter Sintal," jawab Dira sangat gugup.


"Kamu kenal anak, saya?" Dira langsung terkejut, saat Angga berkata seperti itu. Dengan berbinar, Dira langsung bertanya apakah dia benar ayah Sintal.


"Dokter, papanya kak Sintal? Wah, senang bertemu dengan Om," ucap Dira sangat antusias. Bahkan kini Dira menjabat tangan Angga, dan ingin berkenalan.


"Perkenalkan, saya Dira Larasati, istri dari Vano Wiguna. Saya sangat senang bertemu dengan, anda," ucap Dira. Sedangkan Angga merasa jantungnya berdebar-debar terus dari tadi, bahkan saat Dira tersenyum juga begitu.


"Saya, Angga Bramastya," ucap Angga yang membalas uluran tangan Dira. Ada sengatan listrik saat Dira bersentuhan dengan Angga, namun Dira tak mempermasalahkan itu semua.


"Dokter boleh saya, bertanya?" tanya Dira sambil menatap Angga.


"Boleh, silakan mau tanya apa?" balas Angga sangat ramah.


"Kenapa dokter memberi nama anak dokter SINTAL, bukanya kalau di artikan jadi MONTOK ya?" tanya Dira sangat polos. Sedangkan Angga langsung, tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Dira. Angga berpikir jika Dira akan mengatakan sesuatu yang sangat penting, tapi nyatanya hanya penasaran dengan nama Sintal.


"Kamu itu lucu, Dira. Om kira mau tanya sesuatu yang sangat penting tapi ternyata hanya tanya masalah nama anak Om. Tapi gak apa-apa Om akan tetap menjawab," ucap Angga sambil tertawa.


"Sebenarnya istri Om yang memberikan nama Sintal, karena istri Om bilang Sintal itu sangat montok waktu bayi, jadi istri saya memberi nama Sintal," jawab Angga yang tanpa berhenti tertawa. Sedangkan Dira yang tau asal-usul nama Sintal, menjadi ikut tertawa. Ya mereka tertawa bersama, seperti orang yang sangat akrab. Padahal mereka baru saja bertemu, dan ini adalah pertemuan pertama Angga dengan Dira.


"Kalian sedang menertawakan, apa?" tanya Sintal yang baru saja datang. Jelas mereka langsung diam, dan saling pandang saat yang di bicarakan ada di depan mereka.

__ADS_1


"Kami sedang menertawakan namamu, Montok," goda Angga dan Sintal langsung mengeram kesal. Saat mendengar papanya sendiri mengatainya montok, sungguh papa lucknut.


"Gak Fani, gak Papa, sama saja. Lihat saja besok aku akan mengganti namaku menjadi, Budi," ucap Sintal sangat kesal, bahkan berkata akan mengganti namanya sendiri.


"Silahkan kalau mau ganti nama, tapi kamu harus tahan dengan ocehan mamamu, bisa jadi kamu akan di coret dari kartu keluarga," balas Angga acuh tak acuh.


"Sial, orang tua ini makin lama makin ngelunjak. Mana ada anak sendiri mau di coret, ngada-ngada aja," gerutu Sintal. Sedangkan tak lama kemudian, Dira mulai berbicara kembali.


"Kak Ital sangat lucu, kalau ngambek," ucap Dira sambil tertawa tiada henti. Sedangkan Angga dan Sintal langsung membantu mendengar perkataan Dira, yang tanpa sengaja memanggil Sintal dengan kata-kata Ital.


"Kamu tadi panggil aku, apa?" tanya Sintal sangat penasaran.


"Kenapa? Apa aku gak boleh panggil Kakak dengan sebutan begitu? Kalau gak suka, aku maaf," Dira pun langsung menundukkan kepala, karena berpikiran jika Sintal marah jika di panggil Ital.


"Bukan gak boleh, tapi apa aku boleh tau kenapa kamu memanggilku dengan sebutan ital?" tanya Sintal sangat penasaran. Bukan hanya Sintal, Angga pun juga penasaran kenapa Dira memanggil putranya Ital.


Apa dia Tia, putriku yang telah hilang? Karena hanya Tia yang memanggil Sintal dengan sebutan Ital, Ya Allah apa ini petunjuk? gumam Angga dalam hati.


"Karena Dira ingin memanggil Kakak seperti itu,bentahlah tapi aku sangat ingin memanggil Kakak dengan sebutan Ital. Apa boleh?" jawab Dira sangat polos. Sedangkan Sintal, tanpa menjawab ucapan Dira, Sintal langsung memeluk erat tubuh Dira.


"Boleh. Kamu boleh memanggil dengan sebutan kak Ital, teruslah memanggilku dengan sebutan kak Ital," jawab Sintal sambil menangis. Bahkan Angga juga iku menangis, dia sangat yakin jika Dira adalah anaknya.


"Kalian kenapa menangis? Apakah ucapan Dira salah? Aku mohon jangan menangis, Dira gak suka melihat kalian menangis," ucap Dira sangat terluka.


"Tunggu, kenapa kamu kenapa kesini?" tanya Sintal sambil melepas pelukannya. Sedangkan Dira langsung berkaca-kaca, setelah mengingat kelakuan Arya di kantor tadi.


"Boleh gak Dira curhat sama kak Ital? Kalau boleh jangan di sini, banyak orang Dira malu," balas Dira sangat lesu.


"Sepertinya Papa gak bisa ikut, Papa masih ada jadwal operasi. Jadi kalian bisa lanjutkan di dalam ruanganmu,nanti Papa nyusul kalau sudah selesai." Sintal pun langsung menganggukkan kepala, dan mereka akhirnya berpencar. Angga melakukan operasi, sedangkan Sintal membawa Dira keruangan nya.


****


"Minumlah dulu, sepertinya kamu lagi patah hati. Setelah selesai minum, baru cerita," ucap Sintal saat berada di ruangannya.


"Makasih, Kak," balas Dira sambil menghabiskan minumannya.


"Tapi aku merasa lucu loh Kak, waktu kita pertama bertemu, kita seperti kucing dan anjing. Tapi sekarang aku malah lari ke kakak saat sedih, lucu kan?" ucap Dira sambil terkekeh dan Sintal pun juga terkekeh.


"Lupakan itu dulu, kamu mau curhat apa dek?" Dira pun menoleh ke arah Sintal, dan mulailah mata cantik Dira kembali berkaca-kaca.


"Dek?" tanya Dira

__ADS_1


"Iya, Adek. Apa aku boleh panggil begitu?" balas Sintal sangat lembut.


"Boleh, Kak."


"Ya sudah sekarang, carilah. Kakak akan mendengarkan curhatan kamu, nanti kalau punya solusi akan kakak kasih tau," ucap Sintal sambil menunggu cerita Dira.


"Sebenarnya aku bingung, kak,"


"karena?"


"Dira bingung sama kak Arya, sebenarnya dia serius atau enggak sih sama Dira? Entah mengapa Dira selalu memandang kak Arya selalu menginginkan Dira karena hawa nafsu saja, dan itu bukan karena cinta. Iya memang kita baru memutuskan merencanakan pernikahan, tapi makin kesini dia seperti hanya main-main," ucap Dira panjang lebar.


"Terkadang kak Arya itu baik, suka ngambek, pemarah, mesum, bahkan tadi pagi niat Dira baik untuk nurut perkataan Mama untuk di pingit. Tapi kakak marah besar dan pergi ninggalin Dira tadi pagi, hingga Dira pulang naik taxi. Di rumah Dira memikirkan semuanya, hingga Dira sadar ini salahku. Akhirnya aku memutuskan ke kantor kakak dengan membawakan makanan, tapi Dira melihat..." Dira tak berani melanjutkan perkataannya, karena ini terlalu sakit.


"Lanjutkan, Dek," ucap Sintal dan Dira melanjutkan ucapannya.


"Waktu aku masuk ke ruang kak Arya, entah sengaja atau tidak. Aku melihat kakak sedang memangku seorang wanita, bahkan posisi mereka sangat mesra. bahkan kak Arya memanggilnya baby di depan aku, dan setelah itu aku merasakan sakit disini," Dira pun tak bisa membendung air matanya lagi. Sintal yang melihat Dira menangis pun menjadi geram dengan kelakuan Arya.


"Tinggalkan Arya! Dia gak baik untukmu, dan tinggallah di rumah papa dan mama," ucap Sintal tiba-tiba. Sedangkan Dira memandang bingung Sintal.


"Maksudnya?"


"Kamu cinta sama, Arya?" tanya Sintal.


"Sangat mencintainya, Kak."


"Kapan kalian menikah?" tanya Sintal sekali lagi.


"Sekitar dua bulan, lagi. Memang kenapa kak?" balas Dira sangat kebingungan.


"Tinggalah sama mama, papa kakak selama 3 bulan. Kita lihat reaksi Arya saat kamu menghilang, jika dia memang cinta kamu, dia akan berusaha mencari. Tapi jika tidak, berarti dia buka jodohmu. Bagaimana apa kamu mau?" tawar Sintal.


Sebenarnya niat Sintal bukan hanya ini Dira berpisah dengan Arya, namun Sintal ingin melakukan tes DNA dengan Dira. Karena Sintal sangat yakin jika Dira adalah adiknya, yang hilang beberapa puluh tahun lalu.


"Tapi kak Arya, gak akan marah kan?" tanya Dira takut-takut.


"Gak akan marah, kakak berani jamin," balas Sintal. Dengan sangat ragu-ragu, akhirnya Dira menyetujui permintaan Sintal dan mau ikut tinggal di rumah keluarga Bramastya.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading


__ADS_2