
"Arya, apa kamu marah sama aku?" tanya Fani saat mereka berada di dalam mobil. Sedaritadi Arya bungkam dan tak mau berbicara sedikitpun, bahkan dia enggan untuk bersuara.
Arya sangat yakin jika dirinya tak melakukan hal itu pada Fani, namun Arya tak memiliki bukti. Arya sengaja bungkam karena memikirkan cara agar mempunyai bukti yang kuat, dan bisa melawan Fani.
"Sayang, kamu kok diam saja? Baru saja semalam kita melakukannya dengan bahagia, tapi sekarang kamu malah cemberut gitu." rajuk Fani.
"Demi Allah, aku gak merasa melakukan itu Fani! Jika Mama sampai tau, pasti aku akan di bantai! Ingat, jangan pernah kamu beritahu Mama masalah ini. Jika sampai kamu bocorkan, dan Mama anfal. Aku pastikan, kamu akan menyesal!" ancan Arya.
Seketika tubuh Fani langsung lemas dan gemetar, karena ancaman Arya. Tapi, sebisa mungkin Fani terlihat biasa saja dan tenang.
"Baiklah jika itu maumu, aku akan simpan rapat-rapat semua ini. Dan ini akan jadi kenangan terindah, buat kita berdua." jelas Fani sambil mengelus tangan Arya. Namun dengan cepat Arya langsung menarik tangannya itu, entah kenapa Arya menjadi ilfil dengan Fani saat kejadian tadi pagi.
"Sudahlah jangan bahas ini lagi, cepat kamu turun. Jangan ganggu aku beberapa hari ini, aku mohon pengertiannya. Jika kamu tetap ngotot, aku akan sangat marah sama kamu!" gertak Arya.
"Iya," Fani pun langsung turun dan memasuki rumahnya dengan perasaan yang sangat hancur. Akankah Arya percaya dengannya, atau malah sebaliknya.
"Pak kita kejalan xxx," ucap Arya.
"Baik Pak." Setelah mendapat perintah supir taxi tadi langsung melakukan mobilnya, dan menuju kantor Arya. Arya terpaksa naik taxi, karena tadi saat di hotel Fani bilang jika mobilnya ketinggalan di club, dan ini yang membuat Arya semakin curiga.
"Jika memang aku melakukan itu, ngapain pilih hotel yang sangat jauh dari club? Disana gak kurang hotel, malah berjejer. Tapi aku dan Fani tiba-tiba ada di hotel yang jaraknya sangatlah jauh," gumam Arya.
****
Sedangkan di tempat lain, Pras sedang membantu Dira memasak dan melayani pembeli. Hari ini Pras berniat membantu Dira, karena terlihat sangat kualahan apalagi Aira hanya bisa membersihkan piring dan memotong sayuran saja.
"Nyonya apakah ini sudah selesai, jika sudah saya akan menggongseng nya." tanya Pras sambil mencuci kangkung.
"Sudah kok,"
Pras pun langsung memasak saat Dira mengatakan sudah, walaupun dia lelaki tapi Pras sangat jago masak karena Pras adalah tulang punggung keluarga, jadi dia harus bisa mandiri dan membantu ibunya yang suka sakit-sakitan.
Dreett... Dreeett... Dreett...
__ADS_1
"Pras, ponselmu berdering."
"Ah iya Nyonya, saya titip ini dulu takut gosong. Saya mau angkat telepon dulu, maaf malah jadi merepotkan," ucap Pras dengan wajah yang menyesal.
"Hey... Aku sama sekali tak pernah merasa di repotkan, kamu jangan begitu. Cepat angkat panggilan itu, barangkali penting." jawab Dira dengan tersenyum. Bahkan senyuman Dira suskes membuat Pras terpanah, dan semakin yakin jika dia mencintai Dira pada pandangan pertama.
"Kalau gitu saya permisi sebentar." Dira hanya mengangguk untuk mengiyakan perkataan pras.
Pras melihat ponselnya dan tertera nama Arya. Sungguh hatinya sangat gugup, dia sudah berjanji gak akan memberitahu keberadaan Dira tapi, Pras juga gak mungkin berbohong.
"Hallo Bos" Deg-degan itulah yang dirasakan Pras saat mengangkat panggilan itu.
"Gimana? Apa kamu belum menemukan keberadaan Dira, apa kamu masih belum menemukannya! Ingat waktumu hanya tinggal dua hari, jika kamu belum juga menemukan Dira. Terpaksa aku memecat mu tanpa pesangon!" ucap Arya dengan nada tegas, bahkan terdengar mengerikan.
"Bagaimana ini aku gak mungkin jujur tapi, aku juga gak mungkin berbohong. Apa aku jujur saja tapi, aku masih ingin bersama Dira." gumam Pras dalam hati. Dia sangat bimbang harus apa, di sisi lain dia gak mau di pecat. Tapi, di lain sisi juga dia sudah terlanjur berjanji gak akan memberikan informasi tentang Dira.
"Pras!" bentak Arya saat tak dapat jawaban dari Pras.
"Bos, beri saya waktu dua hari. Saya janji akan menemukan Nyonya Dira, tapi tolong beri saya waktu dua hari lagi." pinta Pras.
"Iya Bos." Pras pun memetika panggil tersebut, dipandang wajah Dira yang sangat cantik itu dan bisa membuat jantung Pras berdetak sangat kencang.
"Mungkin waktu dua hari cukup untuk melihatmu, walaupun kamu tak bisa aku miliki tapi, setidaknya selama dua hari ini aku bisa bersama denganmu." gumam Pras dan setelah itu Pras kembali membantu Dira di warung.
****
"Gak ada yang berguna semua, dari beberapa banyak Bodyguard yang aku kirim, gak ada satupun dari mereka yang bisa menemukan Dira. Sebenarnya kamu di mana Dira?" gumam Arya yang frustasi. Arya benar-benar dilanda kebingungan, karena sekarang masalahnya bukan satu lagi melainkan ada dua.
Jika Fani gak membuat masalah mungkin Arya gak akan se frustasi ini, belum juga kelar masalah Dira sekarang bertambah, dan membuat emosi Arya semakin kacau.
Tok Tok Tok
"Masuk" Seorang perempuan masuk kedalam saat mendapatkan izin dari Arya dengan membawa berkas-berkas yang sangat banyak dan menumpuk.
__ADS_1
"Pak, ini perlu ditandatangani dan dua hari lagi ada pertemuan dengan PT Surya, untuk membahas masalah kerja sama yang Bapak tawarkan." ucap Agnes dengan menyodorkan berkas-berkas itu.
"Suruh Seto yang menangani, aku gak bisa ikut karena ada urusan dua hari lagi." jawab Arya dengan malas. Arya gak mau kemana-mana karena Pras berjanji akan menemukan Dira dalam waktu dua hari ini, jadi Arya memutuskan akan tetap di Indonesia.
"Tapi, Pak Seto sedang ada urusan Pak. Beliau belum datang ke kantor sampai saat ini juga, jika di hitung lima hari dari sekarang." balas Agnes dengan takut. Agnes tau jika bosnya kini dalam modem marah, dan jika ada kesalahan sedikit pasti semua kena imbasnya.
"Aaggggrrr... Kemana pula anak itu! Ya sudah kamu kembali keruangan mu, aku akan menghubungi Seto." Agnes hanya mengangguk dan setelah itu langsung keluar dari ruangan Arya, karena Agnes juga tak mau jika nanti dapat omelan jika tak menurut.
"Dasar bos gila!" gumam Agnes dalam hati. Setelah melihat Agnes pergi, Arya langsung menghubungi Seto dan langsung di angkat oleh Seto.
"Hallo Tuan Arya Wiguna," sahut Seto dari panggilan telepon.
"Kamu darimana saja! Kenapa lima hari tidak kekantor, apa kamu lupa tugasmu?" jawab Arya dengan emosi.
"Aisshh... Please deh, kamu tau kan aku memegang dua perusahaan. Jadi mohon di maklumin lah, perusahaan ku sendiri sedang ada kerja sama di Australia, dan baru pulang besok pagi." jelas Seto. Arya pun langsung mencibir karena mendapatkan jawaban seperti itu dari Seto, sungguh Arya ingin memukul Seto kali ini.
"Ya sudah! Dua hari lagi aga pertemuan dengan PT Surya, dan kamu harus menghadiri itu. Ingat kamu harus hadir, karena aku harus mencari Dira!" ucap Arya dengan angkuh.
"Tuan, kamu sangat kejam. Bagaimana bisa kamu menindas ku seperti ini, setidaknya beri aku waktu sedikit saja untuk rileks." protes Seto. Selama ini jika Arya mangkir kerja, Seto yang selalu menghandle semuanya dan itu membuat Arya bergantung dengan Seto.
Seto sendiri adalah anak seorang CEO besar di kota Jakarta namun karena ingin membalas budi dengan Arya, Seto rela mengurus dua perusahaan sekaligus. Hingga dia sendiri lupa mencari pendamping, dan sampai sekarang dia masih melajang.
"Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus hadir. Jika sampai bisnis itu gagal, kamu aku pecat jadi adik angkat ku!" Ancaman inilah yang membuat Seto tak berkutik, Seto sangat menyayangi Arya dan tak mau sampai Arya membencinya.
"Iya, aku akan hadir di sana!" Arya pun langsung tersenyum puas saat Seto tak bisa menolak perintahnya, dan itulah yang membuat Arya nyaman dengan Seto.
"Anak pintar. Oh ya jangan lupa makan, jaga kesehatan kamu. Dan jangan lupa minum air putih yang banyak, aku gak mau kamu jatuh sakit lagi." Hati Seto seketika menghangat, ini yang di suka dari Seto, ya itu sikap perhatian Arya.
"Makasih Tuan."
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading